Tebang Pohon dan Tembak Binatang Dilarang

BUDIDAYA KELULUT: Masyarakat Dusun Sebaju, Desa Nanga Kebebu tengah membuat sarang kelulut untuk budidaya madu di wilayah adat Pasak Sebaju.FIRDAUS DARKATNI/PONTIANAK POST

Berjuang Bersama Dalam Menjaga Hutan Adat

 

Masyarakat Hukum Adat (MHA) Pasak Sebaju telah melewati berbagai proses legalitas pengelolaan hutan adat dalam skema perhutanan sosial. Bahkan, MHA Pasak Sebaju telah kantongi Surat Keputusan Bupati tentang pengakuan dan perlindungan MHA. Kini, sekitar 200 Ha luas wilayah adat akan dikelola untuk tingkatkan ekonomi masyarakat.

 

 

FIRDAUS DARKATNI, MELAWI

 

SEJAK pagi, belasan masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Hukum Adat (MHA) Pasak Sebaju, Dusun Sebaju, Desa Nanga Kebebu, Kabupaten Melawi, sibuk memotong kayu. Tepat di depan Balai Bepokat yang merupakan seketariat MHA Pasak Sebaju. Kayu-kayu tersebut di potong dan diukur dengan teliti. Setelah itu, kayu tersebut didesain menjadi sebuah kotak kecil yang nantinya akan menjadi sarang untuk budidaya madu kelulut.

Sembari membuat kotak untuk sarang kelulut, Pontianak Post menemui Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Budidaya Madu Kelulut, Syahbudin. Kepada Pontianak Post, ia bercerita, bermodal dari pelatihan yang didapat dari kunjungan KPH Kabupaten Melawi. Masyarakat kini sudah bisa membuat secara mandiri sarang madu kelulut. “Potensi madu kelulut di wilayah adat kami cukup banyak. Biasanya bersarang di pohon karet atau getah. Makanya, kita buat sarang khusus biar kita bisa kembangkan dan mendapat keuntungan ekonomis,” ujar Syahbudin, Sabtu (25/1).

Tak hanya pembuatan kotak untuk sarang kelulut. Syahbudin bersama masyarakat lainnya juga tengah menyusun rancangan kerja untuk menata sumber pakan kelulut di wilayah adat Pasak Sebaju. “Sumber pakan madu kelulut itukan dari sari bunga. Makanya, setiap masyarakat yang tinggal di Dusun Rasau Sebaju ini wajiblah menanam bunga, selain itu memperindah lahan untuk tempat budidaya madu kelulut, kita juga nanti akan menatanya, pelan-pelanlah,” tambahnya.

Kendati baru mulai melakukan budidaya madu kelulut. Ia bersama MHA Pasak Sebaju yang lain sangat optimis pengelolaan budidaya madu kelulut mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. “Kita optimis saja, yang penting pekerjaan ini dilakukan secara pemberdayaan, biar sama-sama berjuang dan mengembangkan,” ucapnya lagi.

 

Dorong Legalitas

Syahrudin, Ketua Masyarakat Hukum Adat Pasak Sebaju mengungkapkan, perjuangan masyarakat dalam mendorong legalitas pengelolaan hutan adat sebaju dinilai cukup panjang. Mulai dari proses verifikasi dan identifikasi. Kemudian, membentuk Lembaga Pengelolaan Hutan Adat (LPHA). Dan mengantongi Surat Keputusan Bupati Melawi tentang pengakuan dan perlindungan MHA, yang dalam hal ini, MHA Pasak Sebaju.

“Banyak orang dinas yang datang ke dusun kita ini, untuk memulai tahap administrasi serta kelembagaannya. Tapi sekarang pelan-pelan kita mulai menata potensi hutan adat kita. Tinggal menunggu legalitasnya keluar dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI,” ucap pada Pontianak Post.

Selain budidaya madu kelulut, MHA Pasak Sebaju, lanjut Syahrudin, telah memanfaatkan buah Asam Maram untuk dijadikan sirup. Selain itu, ada pula Asam Gandis dan Rotan yang dijadikan anyaman. Semua bahan mentah itu ada di wilayah hutan adat sebaju. “Alam kita itu kaya, semua ada tinggal dimanfaatkan. Yang penting tidak ditebang kayunya, karena kita sangat menjaga hal itu. Kita hanya memanfaatkan non kayu saja. Karena hutan adat tersebut telah kita jaga sejak lama, orang nembak binatang saja tak boleh, apalagi nebang kayu,” ungkap Syahrudin sambil terkekeh.

Menurutnya, semua itu tak lepas dari peran lembaga pendamping, yakni rekan-rekan dari Suar Institute, Jari Borneo Barat dan Lembaga Bela Banua Talino (LBBT). Karena, hanya di Dusun Sebaju saja yang memiliki wilayah adat di Desa Nanga Kebebu ini. Sedangkan Dusun Lebak Tapang dan Dusun Kebebu tak memilikinya. “Kita bersyukur ada hutan yang kita jaga dan bisa kita manfaatkan, makanya peran pemberdayaan masyarakat saya kita cukup berperan,” pungkasnya.

Sementara itu, Sukartaji selaku Direktur Suar Institute menjelaskan, melalui program Dedicated Grant Mechanism Indonesia (DGMI) yang sudah berjalan sejak 2019 lalu. Ada begitunya peluang pelatihan dan pemberdayaan yang dapat dilakukan di level masyarakat. “Ada sekitar 62 KK yang berada di wilayah Adat Pasak Sebaju ini. Bukan budidaya madu kelulut yang kita akan manfaatkan. Tapi juga ada sirup Asam Maram, Asam Gandis dan rotan untuk anyaman bisa kita kelola, ini kita ambil dari kekayaan alam hutan adat,” tegas Sukartaji.

Kedepannya, ia berharap, masyarakat melalui LPHA yang sudah dibentuk dan ditingkatkan kapasitasnya, dapat menata hasil alam yang ada di wilayah adat untuk peruntukkan peningkatan ekonomi masyarakat di Dusun Sebaju.“Masyarakat meskinya memang harus memanfaatkan kekayaan alam yang ada di daerahnya. Selain menjaga hutan, ada nilai ekonomi yang bisa diambil. Kedepan akan kita tata bersama, ada ekowisata dan jasa lingkungan yang harus kita manfaatkan nantinya untuk masyarakat,” tutupnya. (*)

Read Previous

Usung Program Satu Tahun dan Program Prioritas

Read Next

Ladang dan Kebun Kelapa Jadi Lautan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *