Tebar Nilai Kebaikan Melalui Film

NONTON BARENG: Sekolah Pagi Indonesia (SPI) menggelar nonton bareng premiere film Anak Garuda, Jumat (6/12) malam lalu di XXI Transmart. Film ini diangkat dari kisah nyata perjuangan mendirikan SPI. ISTIMEWA

Kisah Nyata Sekolah SPI yang Difilmkan

Apa itu Sekolah Pagi Indonesia (SPI)? Jawabannya bisa didapat dengan menonton film Anak Garuda, yang saat ini telah naik tayang di XXI Transmart Kubu Raya.

RIESALA ANVAR, Pontianak

JUMAT (6/12) malam lalu, Sekolah Pagi Indonesia (SPI) menggelar nonton bareng (nobar) film Anak Garuda tersebut. Film ini merupakan kisah nyata dari SPI yang difilmkan.

Salah satu founder sekolah tersebut, Lina Candra, menceritakan bagaimana pada tahun 2000, Julianto Eka Putra tergerak untuk membuat visi sosial. Salah satu visi sosial yang dimaksud dia yakni membuat sekolah gratis, agar bisa memutus rantai kemiskinan dan kebodohan di negeri ini.

“Sehingga jika kita bisa memberikan pendidikan yang layak, (maka) kita bisa mensejahterakan bangsa ini. Pendidikan juga merupakan alat pemersatu yang baik, agar generasi mendatang tidak terpecah belah hanya karena suku, agama dan ras,” ungkapnya seusai nobar.

Ia melanjutkan, karena latar belakang sosok yang disapanya Pak Jul itu adalah seorang pengusaha, maka bersama teman-temannya menyisihkan dana untuk membangun sekolah ini. Rencana awal mereka, sekolah dimaksud akan berdiri pada 2010. “Namun dengan kemurahan Tuhan, pada tahun 2006 bisa membangun, di tahun 2007 angkatan pertama dimulai,” cerita Lina dengan penuh semangat.

“Di tahun 2010, ketika angkatan pertama lulus, ketika ditanya ingin kerja apa, mereka menjawab ingin menjadi seperti orang tua mereka,” ungkap Lina. Jawaban ini, yang diakui Lina, membuat sosok Pak Jul turun langsung dan meninggalkan pekerjaannya. “Beliau membangun unit-unit usaha bersama para alumni tersebut,” ceritanya.

Dengan keberhasilan anak-anak tersebut di dalam dunia usaha, diakui Lina, membuat pengusaha-pengusaha di Indonesia tertarik. “Akhirnya para pengusaha ini mengirimkan seseorang untuk studi banding di sana, dan hasil yang didapat luar biasa sekali,” ungkap Lina.

Bahkan, digambarkan dia bagaimana para pengusaha tersebut meminta Pak Jul membuka sekolah seperti ini di kota-kota lain, dengan biaya yang ditanggung oleh para pengusaha ini. “Pak Jul (semula) ragu, karena siapa yang akan menjadi sosoknya di tempat lain,” katanya.

Namun, Lina juga mengungkapkan, bagaimana kegundahan Pak Jul. Seperti yang diketahui dia bahwa dalam pikiran mantan pengusaha tersebut, jika tidak bisa dibuat di sekolah lain, bagaimana nilai-nilai yang ada pada merekka disebarluaskan. “Munculah ide membuat film. Film pertama yang dibuat adalah Say I Love You, dan keberhasilan film ini menarik perhatian pengusaha lainnya, dan dibuatlah film yang kedua yaitu Anak Garuda,” ungkapnya.

Hanya saja, diceritakan dia bahwa perbedaannya di film kedua ini, production house-nya adalah anak-anak dari SPI sendiri. “Jadi mereka juga belajar membuat film bersama praktisi-praktisi film yang sudah diakui oleh dunia,” ucapnya.

Lina mengatakan, dalam proses pembuatan inilah SPI banyak mendapat penghargaan. Model pendidikan mereka mengutamakan keahlian yang akan banyak diterapkan di sekolah maju. (*)

loading...