Tegakkan Pancasila, NKRI Jaya

Edward Nainggolan
Edward Nainggolan

Oleh Edward Nainggolan

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Ungkapan Presiden Sukarno di atas, sangat relevan kita renungkan, di tengah adanya keinginan beberapa pihak untuk mengusik ideologi Negara Indonesia, Pancasila. Di samping itu, Bangsa Indonesia manghadapi banyak tantangan dalam melaksanakan pembangunan nasional di tengah Pandemi Covid-19 dan era teknologi informasi saat ini.

Modal Dasar Bangsa Indonesia

Negara Indonesia yang diproklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, tanggal 17 Agustus 1945, melalui masa yang sangat panjang dan penuh perjuangan. Pada era tahun 400-an berdiri kerajaan-kerajaan, yang mencapai puncaknya pada masa kerajaan Majapahit. Daerah kekuasaan Majapahit mencakup seluruh Nusantara, yakni Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filipina. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam bagian selatan dan Vietnam (Wikipedia).

Pada 1509, Portugis mendatangi Nusantara dan mulailah era penjajahan di Nusatara. Portugis yang merupakan salah satu bangsa paling kuat di dunia, melakukan penjelajahan ke Maluku untuk mencari rempah-rempah (pala, cengkeh, dll). Rempah-rempah merupakan komoditas yang sangat berharga saat itu. Portugislah yang memperkenalkan Indonesia ke negara-negara kuat di Eropa (Spanyol, Inggris dan Belanda), mereka mulai berdatangan dan melakukan penjajahan ke Nusantara.

Penjajah yang paling lama di Nusantara adalah Belanda, mulai tahun 1602-1942 dan menguasai Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Karena strategisnya, terjadi perebutan wilayah antara penjajah di Nusantara. Terdapat dua perjanjian yang terkenal untuk menyelesaikan perebutan wilayah tersebut:

Pertama, perjanjian Saragosa antara Portugis dan Spanyol pada tahun 1529 yang membagi dunia menjadi dua wilayah (Barat dan Timur). Wilayah di sebelah barat garis Saragosa menjadi daerah kekuasaan Portugis sedangkan bagian timur garis Saragosa menjadi kekuasaan Spanyol. Salah satu dampaknya adalah Maluku dikuasai oleh Portugis dan menjadi terkenal ke seluruh dunia sebagai The Richest Island In The World

Kedua, Perjanjian Breda antara Belanda dan Inggris pada tahun 1677. Dengan perjanjian tersebut, Belanda “menukar” Pulau Run di kepulauan Banda yang kaya dengan buah Pala, dan memberikan Manhattan, Amerika Serikat kepada Inggris. Saat ini Manhattan, New York menjadi salah satu kota paling terkenal di Amerika Serikat.

Selama penjajahan di Nusantara, telah timbul perjuangan termasuk dari kerjaaan-kerajaan Nusantara. Namun pergerakan nasionalisme, baru timbul pada tahun 1908 dengan lahirnya Budi Utomo. Pada 28 Oktober 1928, lahir Sumpah Pemuda, sebagai kesatuan tekad pemuda Nusantara untuk bersatu membentuk satu Bangsa dan Tanah Air Indonesia.

Kesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaan Bangsa Indonesia, timbul ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Hal tersebut menyebabkan kekosongan kekuasaan dan meningkatkan semangat pemuda Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ernest Renan menyatakan “bangsa adalah suatu jiwa, suatu asas kerohanian”. Oleh sebab itu para pendiri bangsa merumuskan falsafah Bangsa Indonesia yaitu Pancasila sebagai jiwa Bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia adalah nilai-nilai luhur bangsa Indonesa yang mempersatukan Bangsa Indonesia. Di samping itu, founding fathers menetapkan UUD 1945 dimana tercantum tujuan Bangsa Indonesia. Tujuan tersebut merupakan ikatan batin Bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita bersama sebagaimana disebutkan oleh Ernest Renan ‘Bangsa adalah sebuah kelompok manusia yang memiliki perbedaan dalam sebuah ikatan batin kemudian dipersatukan karena memiliki persamaan dari segi cita-cita dan sejarah yang sama’

Tantangan Bangsa Indonesia

Indonesia melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan tujuan berbangsa, menghadapi tantangan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Tantangan tersebut semakin deras, pada era teknolgi informasi dan kebebasan berekpsresi. Setiap orang dapat dengan mudah mengekpresikan pendapat melalui media sosial yang cepat menyebar dan mendapatkan informasi dari berbagai sumber.

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia adalah mengalirnya informasi yang tidak terkontrol termasuk ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Disamping itu, terdapat banyak informasi yang tidak benar (hoax) yang dapat memecah persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Hal yang tidak kalah genting adalah berkembangnya primordialisme dan politik identitas dalam pemilihan umum di Indonesia. Kondisi ini mempengaruhi persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Pembangunan akan sia-sia, jika persatuan Bangsa Indonesia terganggu.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, maka nilai-nilai Pancasila harus ditanamakan secara terstruktur, sistematik dan massif. Pancasila harus menjadi habitus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di samping itu, seluruh rakyat Indonesia harus kembali ke jati dirinya dengan melaksanakan nilai-nilai luhur bangsanya dan kearifan lokal. Rakyat Indonesia berbeda suku, agama, ras dan budaya tetapi dipersatukan oleh keinginan luhur menjadi satu bangsa, yang mempunyai cita-cita bersama sebagaimana tercantum dalam UUD 1945. Mari merawat Pancasila dan melaksanakannya. Pancasila tegak, Bangsa Indonesia Jaya. (*)

Penulis adalah Kakanwil DJKN, Kemenkeu Kalbar

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!