Teman Suka Nebeng

SIAPA yang nggak suka dijemput dan diantarin kemana-mana? Selain menghemat bahan bakar, kita juga nggak perlu merasa sepi karena berkendara sendiri. Apalagi, kalau yang menjadi ‘tukang antar’ adalah pujaan hati kita sendiri. Betah nih lama-lama. Tapi lain halnya dengan kata menjemput dan mengantar. Aduh, kok kayaknya berat, ya? Apalagi kalau kita kudu putar balik. Aw, malas banget.

Pernah ngebayangin nggak betapa awkward-nya kalau kita minta tebengan atau dimintai tebengan sama orang yang kita nggak akrab, contohnya aja temen sekelas dan saudara jauh atau mungkin orang yang mau dicomblangin ke kita? OhEmJiiii. Silent mode, activated. Susah banget untuk orang yang personally in-active. Menjadi seseorang yang memberi tebengan terkadang ada tetek-bengeknya juga, nih.

Menurut Tirza, memberi tebengan kadang bikin males. “Lagi waktunya mager kemana-mana, penginnya lurus aja ke destinasi, eh ada yang koling-koling minta jemput. Wah, mau nolak, nggak enak. Bilang udah di tujuan, kan bohong. Akhirnya ya jemput saja. Walaupun berat hati, tetap ada suka citanya kok karena kita bantu orang. Saya juga merasa dibutuhkan. Biar ada teman ngomong pas di jalan juga, hitung-hitung hiburan juga ada yang dikomentari pas di jalan. Entah lihat mak-mak yang belok kiri lampunya ke kanan atau anak kecil yang udah pandai nyebrang sendiri,” ujar siswi SMAN 1 Tebas ini.

Menurut Ache, cowok yang sedang menempuh pendidikan di SMP Sivaliputta, menjemput dan dijemput sebenarnya tentang hati dan intuisi. “Kalau nggak tahu waktu dan tempat, main hantam ajak-ajak ya nggak baik juga. Apalagi kalau mendesak suruh gercep untuk jemput dalam situasi bad mood. Itu situasi terburuk. Nggak berniat menolak, tapi se-nggaknya tahu sikon. Kalau urusan dijemput sih, pas ditawarin saja atau emang urgent. Keadaan ke depannya kan unpredictable, ya?” kata Ache.

Firlinda berpendapat bahwa kalau dijemput itu artinya menunggu. “Ya begitulah, kalau dijemput ya nunggu. Namanya juga dijemput. Eventho aku pengennya cepat. Misalnya jadwal kita nonton bareng tuh jam tiga, tapi dia datangnya jam setengah tiga, itupun belum dihitung jangka waktu kami berangkat dari kontrakan aku. Di jalan juga dia ngendarain motor santai. Akhirannya udah bisa ditebak lah. Telat pakai banget,” curhat mahasiswi Universitas Widhya Dharma ini.

Dijemput sama temen lawan jenis? No probs! Kayak teman kita yang satu ini. Pelajar di STBA Pontianak ini kerap dijemput oleh teman lawan jenisnya, lho. Apa sih alasannya? “Lebih sering dijemput cowok karena lebih enak aja gitu kalau digoncengin cowok. It feels safe and sound berhubung mereka laki-laki. Kalau cewek sih mending aku yang gonceng, soalnya agak takut gitu. Selama kuliah motor suka bermasalah, nah waktunya keluarin jurus nebeng. Nanya ke teman, boleh ikut nggak. Kalau boleh bersyukur banget, kalau nggak ya nanya teman lain. Nggak susah, hehe. Kalau masalah tema perbincangan juga bervarian, tergantung orang-orang nya juga lah,” ungkap Cyndi.

Memang masalah nebeng dan ditebeng ini wajar sekali dialami oleh kita yang rata-ratanya masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Seperti saat nongki-nongki di cafe, kerja kelompok, pergi sekolah maupun kuliah. Hal lumrah dan akan selalu terjadi entah di saat keadaan kita yang tengah malas, hingga keadaan genting. (kezia)

Read Previous

Cegah Terjangkit Covid-19, Penderita Diabetes Bisa Lakukan 6 Cara Ini

Read Next

Kinerja Memuaskan, PT Pegadaian Optimis Menapak 2020