Terminal Kijing Serap Rp2,7 Triliun

terminal kijing

PELABUHAN: Proses pembangunan Terminal Kijing, Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah sudah mencapai 23 persen dari target. ARISTONO/PONTIANAK POST

Kabut Asap Perlambat Pembangunan

PONTIANAK – PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC terus mempercepat pembangunan Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Sebagai salah satu proyek strategis nasional, Terminal Kijing akan mulai beroperasi pada tahun 2020. General Manager Pelindo II Adi Sugiri menyebut saat ini pembangunan tahap I ini sudah mencapai 23 persen dari laporan tertulis. Namun pantauan di lapangan sudah sekira 30 persen dari target.

“Progres pembangunannya semakin cepat, karena pembebasan lahan dan relokasi kerambah sudah dilaksanakan, ini membuat pembangunan Terminal Kijing tahap I diharapkan selesai sesuai rencana dan bisa mulai beroperasi tahun 2020,” katanya saat melihat langsung perkembangan pembangunan Terminal Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (19/9).

Dia mengatakan, sejauh ini pembangunan fisik tahap 1 pelabuhan tersebut sudah menelan Rp2,7 triliun dari target Rp5 triliun. Sedangkan untuk pembebasan lahan, Pelindo II sudah mengucurkan Rp700 miliar sebagai ganti rugi atas 200 hektare tanah masyarakat. “Rata-rata harga tanah di sini Rp250-300 ribu. Ada beberapa yang masih belum selesai (ganti rugi), dan sedang berproses. Kita ikuti sesuai aturan yang berlaku.

Terkait kabut asap pekat yang melanda Kalbar selama beberapa pekan terakhir, Adi menyebut sedikit berpengaruh terhadap pekerjaan proyek. “Terutama untuk pemasangan tiang pancang yang memerlukan keakuratan dan presisi. Karena tebalnya kabut membuat pemasangan harus lebih berhati-hati dan lebih lama,” papar dia.

Pembangunan Terminal Kijing tahap I meliputi terminal peti kemas di sisi laut seluas 1000 meter x 100 meter, lapangan operasional di sisi darat, serta trestle (jalan penghubung) sepanjang sekitar 3,5 Kilometer. Saat ini pembangunannya sudah pada tahap pemasangan tiang pancang dermaga dan trestle yang berada di sisi laut.

Terminal peti kemas yang sedang dibangun ini nantinya mampu menangani bongkar muat peti kemas sebanyak 1,95 juta TEUs setahun. Kapasitas terminal cair mencapai 12,1 juta ton per tahun, dan kapasitas curah kering 15 juta ton per tahun. Sedangkan kapasitas terminal multipurpose sebesar 1 juta ton per tahun. “Sebagai salah satu pelabuhan hub, nantinya Terminal Kijing akan menjadi gerbang utama ekspor/impor barang dari dan ke Kalimantan,” katanya.

Dengan besarnya potensi bauksit, CPO, timber, karet dan produk ikan di Kalimantan Barat ini, Terminal Kijing dirancang untuk memberikan kemudahan berbisnis one stop services bagi para investor, yang dilengkapi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seluas kurang lebih 5,000 hektare. KEK tersebut akan dibangun secara bertahap. “Harapan kami, semua produk ekspor Kalimantan Barat tidak perlu dikirim melalui pelabuhan lain di luar Kalimantan, karena nantinya ekspor/impor bisa langsung dilakukan melalui Terminal Kijing ini” lanjut dia. (ars)

Read Previous

Berladang Itu Berjuang

Read Next

Beras Lokal Landak Tembus Pasar Modern

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *