Terobos Jalan Tikus ke Malaysia, 18 PMI Diamankan Petugas

DIAMANKAN: Calon pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal saat diamankan di tempat penampungan sementara di Kantor Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2PMI) Pontianak. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

PONTIANAK – Masyur, calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini hanya bisa pasrah, setelah niatnya mencari penghidupan di negara jiran Malaysia, kandas. Ia bersama 17 calon PMI lainnya terciduk petugas saat akan menerobos masuk ke Malaysia, melalui jalan tikus di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Jumat (8/10).

Ayah tiga anak ini rencananya akan mencari kerja di Malaysia sebagai buruh di perusahaan perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Dengan harapan bisa mencukupi kebutuhan perekonomian keluarganya di kampung.

“Kami di kampung sudah banyak utang. Makanya kami mau mencari kerja di Malaysia,” kata Masyur saat ditemui di Shelter Kantor Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2PMI) Pontianak, Rabu (13/10) siang.

Masyur menceritakan, dirinya berangkat bersama seorang rekannya dari kampung halamannya di Lombok menggunakan pesawat menuju Pontianak, tanggal 3 Oktober 2021. Sesampainya di Pontianak, ia lantas melanjutkan perjalanan menggunakan jasa travel ke Kabupaten Sambas.

Sebelum tiba di Kalimantan Barat, Ia telah dihubungi oleh seorang toke di Malaysia. Orang tersebut yang mengatur perjalanan Masyur dan rekannya untuk bisa ke Kalbar dan Malaysia.

“Saya dihubungi toke. Dia yang memberi kami petunjuk arah. Di mana kami harus menginap. Semua dia yang mengatur,” katanya.

Setibanya di Sambas, ia bersama rekannya menginap di rumah seseorang. Kemudian berpindah di beberapa rumah lainnya, termasuk rumah salah satu temannya yang sama-sama pernah bekerja di Malaysia, beberapa tahun silam.

Di Sambas, ia pun bertemu dengan beberapa orang calon PMI lainnya. Setelah beberapa hari menginap di Sambas, mereka pun berangkat menuju Malaysia menggunakan mobil. Di mobil itu, kata Masyur, terdapat Sembilan orang, termasuk sopir.

Namun dalam perjalanan, mobil yang ia tumpangi dihentikan oleh petugas. Masyur dan beberapa orang lainnya pun tidak bisa menunjukan dokumen, selain paspor. “Mobil kami dihadang dan diperiksa. Kami tidak punya dokumen, selain paspor. Terus kami dibawa ke sini,” katanya. Sebelumnya, Masyur memang pernah bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia di Malaysia, sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit. Sepulangnya dari Malaysia, Masyur bekerja serabutan di kampung halamannya.

Menurut dia, uang yang diperoleh selama bekerja serabutan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya. “Uang yang saya dapat tidak cukup. Anak udah mau masuk sekolah. Belum lagi yang kecil, harus beli susu,” keluhnya.

Namun nahas, niatnya untuk mencari kerja di Malaysia itu tidak dilengkapi dokumen. Sehingga harus diamankan oleh petugas Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2PMI) Pontianak dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar.

Tindak Pidana Perdagangan Orang

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan, dalam pengungkapan tersebut, pihaknya mensinyalir adanya tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Dalam pengungkapan itu, pihaknya berhasil menangkap seorang yang diduga sebagai pelaku dan sebanyak 18 orang korban berserta sejumlah barang bukti diamankan.

“Kami berhasil mengamankan 18 orang korban tindak pidana perdagangan orang dan juga menangkap satu orang tersangka,” kata Luthfie dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/10).

Luthfie menjelaskan, sebanyak 18 orang korban perdagangan orang terdiri dari 13 pria dan 5 wanita. Sebanyak tiga orang di antaranya berasal dari luar Kalbar.

“Dari tangan tersangka kami mengamankan uang hasil kejahatan dan satu buah handhpone sebagai alat bantu dalam melancarkan kejahatannya untuk menghubungi para agen luar yang ada di Malaysia,” jelas Luthfie.

Luthfie menerangkan, modus kejahatan ini adalah dengan mengelabui petugas dengan status sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) dan kepada korban, pelaku menjanjikan pekerjaan dengan gaji yang tinggi.

“Modus operandinya kurang lebih sama dengan yang terdahulu. Mereka bujuk rayu keluarga dan para calon PMI dengan menjanjikan pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi untuk bekerja di Malaysia,” tambah Luthfie.

Dia berharap, warga tidak mudah tergiur dengan gaji besar dan fasilitas yang diterima selama bekerja di luar negeri.

Jika pun hendak bekerja di luar negeri, harus sesuai dengan prosedur yang berlaku dan jangan melalui calo.

“Saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku untuk mendalami adanya pihak lain yang diduga terlibat dan Ke-18 korban sudah mendapat penanganan intensif,” tutup Luthfie.

Sementara itu, Kepala UPT Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Pontianak AKBP Amingga M Primastito memastikan, beri alternatif kepada 18 warga korban perdagangan orang ke Malaysia.

Menurut Amingga, ada dua alternatif yang diberikan, pertama mereka dicarikan pekerjaan dan kedua dipulangkan ke daerah asal. “Kami berikan dua alternatif, carikan kerja atau pulangkan. Sesuai dengan kemauan mereka,” kata Kepala UPT BP2MI Pontianak AKBP Amingga M. Primastito kepada wartawan, Rabu (13/10).

Dijelaskan,pengungkapan tindak pidana perdagangan orang bermula Jumat (8/10). Saat itu, pihaknya mendapat informasi adanya belasan warga yang akan masuk bekerja ke Malaysia melalui Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalbar.

“Dikarenakan tidak ada pos BP2MI di sana, maka kami koordinasi dengan Polsek Jagoi Babang,” ujar Amingga.

Setelah pengecekan, lanjut Amingga, pihaknya dua buah mobil sedang berjalan menuju ke arah Desa Sekida dan langsung memberhentikan mobil tersebut.

“Ternyata di dalam mobil tersebut ditemukannya 18 orang yang terdiri dari 16 calon PMI dan dua sopir,” ucap Amingga.

Saat ini, terang Amingga, sebanyak 18 orang tersebut telah dibawa ke UPT BP2MI Pontianak untuk penanganan lebih lanjut. (arf)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!