Tersangka JP Terancam Dihukum Kebiri

AKP Antonius Trias Kuncorojati

BENGKAYANG – Tersangka kasus pencabulan terhadap 10 anak di bawah umur di Kabupaten Bengkayang, yakni JP terancam di hukum kebiri. Diberitakan Pontianak Post sebelumnya, pelaku berinisial JP ini melakukan aksi bejatnya dengan modus pengobatan alternatif kepada para korban, yang juga merupakan murid tari di salah satu Sanggar tari miliknya. Kasus pertama diungkapkan pada pertengahan Januari lalu.

Terkait kelanjutan kasus tersebut, Kasat Reskrim Polres Bengkayang, AKP Antonius Trias Kuncorojati menyatakan, kasus asusila tersebut sangat menonjol dan pertama kali di Bengkayang. Terlebih rata-rata korban dalam kasus tersebut notabene merupakan kategori di bawah umur.

“Sekarang ini sudah tahap penyelidikan dan terakhir kemarin pemeriksaan saksi ahli. Hasil pemeriksaan, tersangka tidak menderita pedofilia. Dari hasil pemeriksaan itu juga tersangka melakukan aksinya dalam keadaan sadar, dan adanya peluang. Artinya tidak ada pengawasan dari lingkungan sekitar, sehingga tersangka bisa dikatakan sebagai predator,” jelas Kasat Reskrim saat dikonfirmasi, Rabu (7/4).

“Kita sudah komunikasi dengan Kejari nanti akan diajukan kebiri. Karena sudah banyak korban, dan rata-rata di bawah umur,” timpalnya.

Antonius  juga menyoroti banyaknya kasus kekerasan seksual kepada anak, dan pelakunya merupakan orang terdekat. ” Ini kurangnya  pengawasan orang tua kepada anak. Misalnya tidak menanyakan  kemana anak pergi, dan berapa lama. Kita harap kedepan memang peran orang tua dalam mengawasi anak akan jauh lebih intens demi menekan jumlah kasus yang tiap tahun bertambah,” ucapnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa pelaku JP  merupakan pemilik salah satu Sanggar Tari di Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang.

Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang, Fransiskus yang menilai hal tersebut sebagai fakta bahwa masih adanya predator-predator anak di Kabupaten Bengkayang. Disamping itu, ia juga turut mengapresiasi pihak kepolisian yang telah menangkap pelaku JP sebelum terjadi penambahan korban kedepannya.

Dia juga meminta pihak kepolisian untuk tegas dalam menetapkan hukuman yang akan dijatuhi terhadap pelaku JP. Menurutnya hal tersebut patut diperhatikan, lantaran yang menjadi korban dalam kasus ini mayoritas adalah anak dibawah umur.

“Apabila kita melirik dari peraturan pemerintah yang ada, khususnya kasus ini menyangkut anak dibawah umur maka pelaku seharusnya dihukum kebiri atau diberi kimia. Terutama untuk memberi efek jera kepada si pelaku itu sendiri,” tegasnya.

Dia juga meminta aparat kepolisian selaku pihak yang menangani kasus tersebut untuk mendalami kasus tersebut dengan seksama. Terutama untuk mengetahui secara pasti terkait modus pelaku menjalankan aksinya tersebut. Apakah si pelaku melakukan itu atas dasar sengaja atau ada tujuan lain, misalnya persugihan dan sebagainya.

“Tentunya kita juga prihatin terlebih setelah mengetahui bahwa kasus seperti ini bisa terjadi di Kabupaten Bengkayang,” katanya.

Disamping itu, ia juga mengimbau kepada seluruh orangtua agar menjadikan kasus ini sebagai pelajaran agar tak kembali terulang kedepannya. Selain itu, ia juga meminta kepada setiap orangtua untuk tak henti-henti mengontrol setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya, serta juga terus memberikan pendidikan dan pemahaman agar anak-anak lebih berhati-hati dalam pergaulan.

“Karena pergaulan ini juga sangat lekat terhadap pembentukan kepribadian anak. Jadi saya rasa yang perlu ditingkatkan adalah control dan terus memberi pemahaman kepada setiap anak agar terhindar dari berbagai perbuatan yang tidak baik,” tutupnya.

Sementara terkait pengungkapan kasus ini, sebelumnya Kapolres Bengkayang, AKBP NB. Dharma mengungkapkan, bahwa dalam kasus tersebut, pelaku JP melakukan aksi bejatnya tersebut kepada anak didiknya sendiri.  Sementara dalam menjalankan aksinya, pelaku melakukan hal tersebut dengan modus  bujuk rayu dengan iming-iming pengobatan alternatif, berupa berkunci batin.

Terkait modus tersebut, Kapolres mengungkapkan para korban tidak mengetahui apa-apa terkait berkunci batin. Dalam hal ini, pelaku terus mendesak para korbannya sembari menakut-nakuti dengan mengatakan bahwa setiap korbannya memiliki penyakit yang harus segera disembuhkan. Karena apabila dibiarkan, penyakit tersebut bisa bertambah parah seiring berjalannya waktu. Kemudian penyakit tersebut juga tidak bisa disembuhkan di tempat lain.

“Pelaku mengatakan hal tersebut kepada satu-persatu muridnya melalui chat whatsapp secara pribadi. Sehingga para korban yang merasa takut kemudian mendatangi rumah pelaku untuk melakukan pengobatan berkunci batin,” jelasnya.

Dalam hal ini, pelaku juga telah mengatur sedemikian rupa jadwal bertemu dengan tiap-tiap korbannya untuk melakukan ritual berkunci batin tersebut. Namun yang pasti, hal tersebut dilakukan saat istri pelaku sedang tak ada di rumah.

“Untuk manfaatnya sendiri, pelaku mengaku kepada para korban bahwa berkunci batin itu memiliki khasiat untuk mengusir perbuatan jahat seperti santet, sihir, dan sebagainya. Selain itu pelaku juga mengimi-imingi dengan berkunci batin adalah untuk menyucikan atau membersihkan badan dari hal-hal kotor,” ungkap Kapolres.

Ketika kesempatan itu datang, lanjut Darma, JP mulai menyuruh satu persatu korban untuk datang dan masuk kerumahnya untuk melakukan ritual berkunci batin. Caranya adalah korban diminta berdoa sambil memegang beras kuning didepan sebuah pantak (patung kayu belian) yang berada di ruang tamu rumahnya. Setelah itu pelaku menghidupkan kemenyan dan dupa sembari korban disuruh menghirup asap tersebut (kemenyan dan dupa) dalam-dalam dengan dalih agar proses pembersihan badan berjalan lancar.

“Setelah itu korban merasa pusing dan diminta untuk masuk ke kamarnya dengan keadaan telanjang bulat. Korban kemudian diminta berbaring dikasur dan badan korban ditutupi menggunakan kain sarung,” terangnya.

“Kemudian pelaku menempelkan daun sirih di area kemaluan korban. Setelah itu pelaku memperlihatkan sebuah tengkuyung (yang telah disiapkan pelaku) yang seolah-olah keluar dari kemaluan korban. Selain itu pelaku juga memegang payudara korban sembari memegang sebuah batu yang seakan-akan batu itu keluar dari payudaa korban,” timpalnya.

Aksi tersebut dilanjutkan pelaku dengan meminta para korban untuk menutup mata dan kembali menghirup asap dupa dan kemenyan, sehingga para korban kembali mengalami pusing. Mulai dari situlah, lanjut Kapolres, pelaku melakukan aksinya dengan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan korban sampai terjadilah persetubuhan.

Lebih jauh, pelaku juga mengancam korban agar tak memberitahu kepada siapapun terkait ritual berkunci batin tersebut. Dalam hal ini, pelaku menakut-nakuti korban apabila disebarluaskan, maka penyakit tersebut akan datang kembali dan kemaluan setiap korbannya akan membusuk.

“Aksi itu tak berhenti sekali. Tapi pelaku mengatakan kepada setiap korban bahwa ritual berkunci batinnya belum selesai, karena masih ada tengkuyung (didalam kemaluan korban). Jadi korban diminta datang lagi nanti, untuk melakukan berkunci batin agar korban sembuh dari penyakitnya,” pungkasnya. (Sig)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!