Tetap Sehat Saat Kabut Asap

kabut asap
FOTO : HARYADI / PONTIANAK POST

Kabut asap yang terjadi berpengaruh buruk bagi kesehatan pernapasan. Bisa menyebabkan munculnya penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bronkitis, asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis). Sehingga penting untuk menjaga tubuh agar tetap sehat di tengah kabut asap.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Dokter spesialis paru, Nur Annisa mengatakan saat kualitas udara mulai memasuki kategori berbahaya, secara umum dapat merugikan kesehatan pernapasan. Setiap individu harus berupaya mencegah terjadinya masalah kesehatan pernapasan.

Sesuai rekomendasi dari perhimpunan dokter paru Indonesia, hal yang bisa dilakukan adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan. Menghindari menambah polusi di dalam maupun luar rumah.

“Jangan merokok atau menggunakan vape, dan jangan membakar sampah. Tutup jendela dan pintu rapat-rapat untuk mengurangi partikulat berbahaya hasil kebakaran hutan masuk ke dalam rumah,” ujar Annisa.

Saat berkendara menggunakan mobil, AC di setting mode recirculate. Kemudian, menggunakan masker atau respirator untuk mengurangi terhirupnya partikel berbahya ke dalam saluran pernapasan. Gunakanlah masker dengan benar (hidung dan mulut tertutupi), karena jika tidak proper tentunya efektivitas penyaringan udara jadi berkurang.

Untuk pasien-pasien yang sudah memiliki sakit paru, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) disarankan mempersiapkan obat-obatan (untuk pertolongan pertama). Obat-obatan yang telah dipakai rutin, sebaiknya diperiksa ketersediannya. Jangan sampai pasien kehabisan obat-obatan tersebut.

Annisa menuturkan dampak atau efek kesehatan akibat pajanan asap kebakaran hutan secara garis besar ada dua, yaitu efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Sering menjadi perhatian adalah efek jangka pendek, dimana asap kebakaran hutan tersebut menyebabkan iritasi saluran pernapasan, orang menjadi sesak napas akibat kekurangan oksigen. Menyebabkan batuk kering atau batuk berdahak, bersin-bersin, dada tidak nyaman (terasa penuh atau berat), serta dapat menimbulkan mengi (napas berbunyi ngik-ngik). Selain ke saluran pernapasan, asap tersebut juga dapat mengiritasi selaput lendir mata, hidung dan tenggorokan sehingga mata berair, hidung berair, tenggorokan gatal dan tidak nyaman.

“Sehingga, orang jadi mudah batuk-batuk (mudah kena ISPA),” tutur Annisa.
Orang juga jadi mudah sakit kepala, mual dan sesak napas akibat menghirup asap kebakaran hutan yang mengandung gas karbon monoksida (CO). Pada pasien-pasien yang punya sakit paru, rata-rata akan kambuh. Demikian juga pasien jantung sehingga angka kunjungan ke rumah sakit (RS) jadi semakin tinggi.

Dokter di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak menyatakan penyakit yang paling sering dan mudah terjadi saat kabut asap seperti ini adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), bronkitis, pasien yang sudah punya sakit asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis) akan mudah mengalami serangan atau eksaserbasi.

“Kondisi kabut asap juga dapat sebagai pemicu seseorang merasakan gejala sakit asma untuk pertama kalinya,” katanya.

Pencegahan penyakit ISPA kurang lebih sama dengan pencegahan penyakit-penyakit yang ditularkan lewat udara, yaitu menggunakan masker. Masker yang ideal dipakai air purifying device (respirator), seperti N100, N95, R100, dan P100. Masker tipe ini bisa menyaring sampai ke partikel kecil. Masker bedah biasa juga bisa digunakan, tetapi kemampuannya terbatas menyaring partikel yang besar.

Dokter di Apotek Bintang tidak memungkiri masih ada masyarakat yang jarang mengganti masker, meski sudah kumal. Penyaringan tentu tidak efektif lagi dan higienitas. Tetapi, bergantung penggunaannya. Kalau orang tersebut hanya sebentar saja di luar ruangan, tidak perlu cepat diganti.

Namun, jika seharian digunakan pasti sudah kotor, Annisa menyarankan mengganti masker setiap hari.
“Jika mengalami keluhan iritasi saluran pernapasan, ISPA atau kekambuhan sakit paru (asma, PPOK dan lainnya) atau jika mengalami iritasi selaput lendir mata, hidung dan tenggorokan segeralah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” pungkas Annisa. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!