Tidak Tinggal di Tenda, Pilih Bermalam di Mina

Suasana saat berada di Tenda Mina Jadit. Kapasitas tenda tak sesuai jumlah jumlah.

Bersamaan terbenam matahari, Sabtu (10 /8) berakhir sudah Wukuf di Arafah. Jemaah menghentikan aktivitas untuk melaksanakan Shalat Magrib-Isya jamaak taqdim. Kemudian mengemas semua perbekalan untuk melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah. Berhenti dan istirahat sejenak. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina untuk bermalam.

JEMAAH haji asal Kalbar mendapat tenda di Mina Jadit untuk bermalam. Tempat ini sebenarnya masih masuk dalam kawasan Muzdalifah. Karena itu bus tidak berhenti di Muzdalifah untuk mengambil kerikil, namun langsung mengantar jemaah ke tenda. Batu kerikil sudah disiapkan oleh Mutawif untuk tiga hari. Setiap jemaah mendapat satu kantong kerikil.

Pemandangan tenda di Mina Jadit cukup miris. Daya tampung tenda tak sesuai dengan kebutuhan. Akibatnya banyak jemaah tidak ke bagian tempat untuk istirahat. Mereka ada yang tidur di selasar. Asal ada tempat kosong untuk bisa merebahkan badan, segera dilakukan.

Jadwal pelontaran direncanakan Maktab pada Minggu (11/8) sekitar pukul 10.00 Waktu Arab Saudi. Jemaah diminta berkelompok sekitar 250 orang setiap kali perjalanan menuju lokasi pelontaran. Hari pertama atau 10 Zulhidjah melontar Jamarah Aqabah sebanyak tujuh butir batu.

Jadwal yang dibuat Maktab ini banyak tak diindahkan jemaah. Terutama mereka yang sudah memiliki pembimbing sendiri. Hanya jemaah mandiri yang bertahan di Mina Jadit.

Jemaah banyak lebih memilih melontar malam hari. Usai memulihkan tenaga, jemaah bergerak meninggalkan tenda Mina Jadit. Diusahakan masuk Mina saat sudah lewat tengah Malam. Mereka berjalan kaki ke lokasi pelontaran sekitar 5 Km.

Melempar malam hari Ini lebih leluasa. Juga tidak panas. Perjalanan malam ini sambil mengumandangkan Talbiyah. Jalan begitu padat. Jemaah dari berbagai negara berjalan secara teratur menuju jamarat. Aparat keamanan menjaga persimpangan jalan agar tidak terjadi kemacetan. Ini sudah diantisipasi karena lalu lintas cukup ramai. Bus bersileweran mengangkut jemaah yang baru pulang dari Arafah.

Proses melempar Jamrah Aqabah dengan tujuh butir batu tidak terlalu lama. Setelah itu jemaah menuju tempat pemotongan rambut. Setelah Tahalul Awal ini , jemaah terbebas dari larangan ihram. Juga sudah bisa berganti dengan baju biasa.

Setelah melontar hari pertama, jemaah tidak kembali ke Mina Jadit. Jaraknya sekitar 5 Km. Mereka milih kembali ke hotel. Jarak penginapan di Sektor 1 Syisyah hanya 1,5 Km. Lokasi hotel di depan terowongan menuju Mina. Pertimbangan inilah akhirnya sebagian jemaah asal Kota Pontianak tidak bermalam di Mina Jadit. Cuma jemaah tidak mendapat jatah konsumsi saat kembali di hotel.

Pelontaran hari kedua atau 11 Zulhidjah, jemaah yang kembali ke hotel, sebelum magrib sudah masuk lagi ke Mina. Mereka bermalam bersama jemaah lain dari berbagai penjuru dunia. Duduk santai sambil zikir, berdoa dan shalat di pinggir jalan. Hari kedua ini melontar tiga jamarat. Dimulai dari Ula, Wusta dan Aqabah masing-masing tujuh butir batu. Pelontaran dilakukan usai Shalat Subuh.

Melontar Jumrah hari kedua berjalan lancar.

Pada tanggal 12 Zulhijah, jemaah kembali melontar Jumarat yang sama. Bagi yang mengambil Nafar Awal langsung meninggalkan Mina menuju Makkah. Setelah proses pelemparan jamarat selesai, jemaah tinggal pelaksanaan Tawaf Ifada. Tawaf Ini biasanya dilakukan setelah bus antar jemput jamaah ke Masjidil Haram beroperasi.

Berakhir sudah rangkaian proses haji. Jemaah tinggal menanti jadwal kepulangan. Waktu yang tersisa dimanfaatkan dengan banyak beribadah di Masjidil Haram. Sebelum bertolak ke tanah air, jemaah sehari sebelumnya melaksanakan Tawaf Wada. Inilah tawaf perpisahan. Sekaligus perpisahan kepada Ka’bah, Masjidil Haram dan Tanah Haram. Tak lupa berdoa untuk kembali dimasa mendatang. **

Read Previous

TIM Elit PLN bersihkan Jaringan Transmisi dalam keadaan bertegangan

Read Next

USHUL dan HIKMAH JAMARAT

Tinggalkan Balasan

Most Popular