Tiga Guru Positif Covid-19

RAPID TEST: Seorang siswa SMA 4 Pontianak menjalani rapid test, Sabtu (1/8). Pemerintah Provindi Kalbar menyelenggarakan serangkaian uji swab dan rapid test di sekolah-sekolah guna mempersiapkan pembelajaran tatap muka. ARISMUNANDAR/PONTIANAKPOST

Midji: Tujuh Daerah Zona Hijau Boleh Tatap Muka  

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menyebutkan ada tiga guru di provinsi ini yang positif Covid-19. Hal ini diketahui berdasarkan hasil swab yang dilaksanakan di sejumlah sekolah, beberapa waktu lalu.  Kondisi tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam pelaksanaan rencana pembelajaran tatap muka.

Ia kembali menegaskan, daerah yang bisa melaksanakan uji coba terbatas untuk pembelajaran tatap muka hanya daerah dengan kategori zona hijau. Sementara itu, daerah yang belum masuk zona hijau tidak diperkenankan melaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka.

“Untuk tanggal pembelajaran tatap muka, kewenangannya pada bupati sebagai gugus tugas daerah,” ujarnya tadi malam kepada Pontianak Post. Berdasarkan data 29 Juli, ada tujuh kabupaten yang masuk zona hijau di provinsi ini. Ketujuh kabupaten itu yakni Kayong Utara, Sekadau, Bengkayang, Singkawang, Sambas, Kapuas Hulu dan Melawi.

Sutarmidji sebelumnya juga menyebutkan, kebijakan belajar tatap muka dan zona hijau ini mengikuti ketentuan dari pemerintah pusat. Sebagai persiapan, pemprov sudah menyiapkan berbagai hal. Mulai dari tes swab RT-PCR untuk para guru, siswa dan tenaga penunjang di sekolah.

Untuk pelajar yang akan masuk sekolah diwajibkan menjalani rapid test terlebih dahulu. Hasilnya kemudian dievaluasi untuk bahan pertimbangan kebijakan selanjutnya. Mengenai kelas, Midji juga meminta jangan diisi penuh (menjaga jarak). Siswa pun harus mengenakan masker.

Pihak sekolah harus mampu mendisiplinkan seluruh pelajarnya terkait protokol Covid-19. Masing-masing sekolah juga diwajibkan menyiapkan wastafel.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson juga mengakui bahwa dari hasil serangkaian pemeriksaan swab yang dilaksanakan, memang ada beberapa guru yang positif terjangkit Covid-19.  “Dari pemeriksaan swab RT-PCR dua minggu terakhir, kami dapatkan tiga tenaga guru dan satu tenaga laboratorium sekolah yang merupakan kasus konfirmasi atau positif Covid-19,” katanya saat dihubungi Pontianak Post, tadi malam.

Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Ia menyebutkan, bahwa hanya kabupaten/kota yang masuk zona hijau yang boleh tatap muka. Itu pun harus ada prosedur yang ketat seperti harus ada izin dari Pemda atau Kanwil atau Kantor Kementerian Agama setempat.

Selain itu, satuan pendidikan juga harus memenuhi persyaratan sesuai protokol kesehatan Kementerian Kesehatan. Syarat lainnya adalah harus ada persetujuan dari orang tua untuk pembelajaran tatap muka.

“Jadi sesuai dengan keputusan bersama menteri kesehatan dan menteri pendidikan, menteri agama dan menteri dalam negeri, hanya daerah zona hijau atau daerah yang tidak terdampak yang boleh melaksanakan sekolah tatap muka,” ujarnya.

Nah, untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan tatap muka ini disamping zona hijau ada persyaratan lain, Kankanwil Kemenag atau pemerintah harus ada izin serta satuan pendidikan harus memenuhi standar kesiapan proses mengajar secara tatap muka termasuk harus ada persetujuan dari orang tua dalam proses belajar mengajar tatap muka ini,” jelas Harisson.

Seandainya semua persyaratan sudah dipenuhi, maka pelaksanaannya pun harus bertahap. Yaitu dilaksanakan melalui dua fase. Pertama,

SMA 4 Siap Tatap Muka

Kemarin, Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar juga melakukan tes swab kepada guru-guru dan rapid test untuk siswa di SMA Negeri 4 Pontianak, di Jalan Dr. Wahidin, Kecamatan Pontianak Kota, Sabtu (1/8). Tes ini dilaksanakan untuk pertimbangan pengambilan kebijakan belajar tatap muka.

Herni Yamasitha (55), Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Pontianak mengatakan, tes ini merupakan hasil koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar. “Untuk siswa di rapid test dan guru di swab,” katanya, Sabtu (1/8).

Adapun yang mengikuti rapid test dan swab ini berjumlah 403 orang. “Guru ditambah administrasi dan penjaga malam berjumlah 83 orang. Sedangkan siswa berjumlah 320 orang,” sebutnya.

Perihal pembelajaran normal dengan tatap muka, ia mengatakan pihaknya telah mempersiapkan segala sarana prasarana untuk menunjang protokol kesehatan Covid-19. “Kami sudah menyiapkan westafel. Selain itu kami juga sudah menyiapkan thermogun. Tapi thermogun terbatas karena faktor biaya dan lain-lain. Sedangkan masker kami sudah mempersiapkan beberapa boks. Kami sudah siap melakukan kegiatan pembelajaran,” katanya.

Sayangnya, Pontianak belum termasuk zona hijau sehingga belum dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Namun, ia memastikan, jika pembelajaran tatap muka diterapkan, sekolahnya akan mematuhi protokol kesehatan. Satu kelas hanya diisi setengah dari jumlah yang biasa. “Satu kelas nanti hanya diisi 18 orang sesuai dengan protokol kesehatan,” ujarnya.

Pembelian thermogun sendiri, kata Herni, dialokasikan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana BOS juga dialokasikan untuk kegiatan lain seperti kuota internet untuk pembelajaran daring. Ia mengakui pihaknya masih kekurangan dana untuk membeli thermogun dalam jumlah yang ideal.

“Kami mengimbau kepada alumni, komite, dan masyarakat peduli pendidikan untuk membantu pengadaan thermogun. Hal ini agar satu kelas minimal punya satu thermogun. Saat ini kita hanya punya enam,” katanya.

Selain itu, kebutuhan masker juga dinilai perlu diperhatikan. Ia berharap orang tua dapat membantu memfasilitasi. Soalnya, masker harus diganti dalam dua sampai tiga jam sekali. “Jadi, siswa dua kali ganti masker dalam sehari. Untuk yang lain, insyaallah kami sudah siap,” katanya.

Ia menambahkan, jika ditemukan hasil reaktif pada rapid test siswa, ia akan segera mengomunikasikannya dengan orang tua siswa bersangkutan. “Orang tua akan kita hubungi hari ini juga untuk berkomunikasi dengan pihak terkait. Untuk selanjutnya keluarga yang bersangkutan dites swab,” jelasnya.

Analis Pembantu dari Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalbar, Solihin (38) mengatakan pembedaan tes yang dilakukan untuk guru dan murid ini karena pertimbangan tingkat kerentanan terhadap paparan Covid-19.  “Siswa ini imunnya lebih bagus daripada guru. Gurunya agak rentan terpapar Covid-19. Kalau  hasil rapid test dari siswa menunjukkan hasil reaktif, baru di-swab,” katanya, Sabtu (1/8).

Ia mengatakan tes sudah dilakukan di empat SMA di Pontianak, yaitu SMA Negeri 1 Pontianak, SMA Negeri 2 Pontianak, SMA Negeri 3 Pontianak, dan SMA 4 Pontianak. Tes ini dilaksanakan bergantian per hari per sekolah.(ris/her/*)

loading...