Tren Harga Bokar Membaik

Petani menyadap getah pohon karet di Desa Sawang Rambot, Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (13/6/2020). Untuk membantu petani karet yang terdampak pandemi COVID-19, Kementerian PUPR menyiapkan anggaran sebesar Rp100 miliar untuk membeli 10 ribu ton karet langsung dari petani, yang akan dipergunakan untuk campuran aspal. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj.

PONTIANAK – Harga bahan olahan karet (Bokar) di tingkat pabrik menunjukkan tren kenaikan. Di Kalimantan Barat (Kalbar), dengan tingkat K3 yang 100 persen, harga Bokar saat ini mencapai Rp17.500 per kilogram. Kenaikan ini seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi di negara tujuan ekspor karet.

“Harga bokar terus mengalami tren kenaikan. Saat ini Bokar dengan K3 100 persen Rp17.500 per kilogram, sebelumnya harga di kisaran Rp16.000an per kilogram,” ujar Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar, Jusdar, kemarin.

Dia menjelaskan, naiknya harga karet saat ini merupakan dampak dari pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor Kalbar yang terus membaik. Salah satu di antara tujuan ekspor karet Kalbar ini, yakni Tiongkok.

“Harga naik karena ekonomi di Tiongkok mulai membaik dengan pertumbuhan 3,2 persen di kuartal II dan diperkirakan 5,5 persen di kuartal III 2020. Sehingga permintaan karet alam juga meningkat,” kata dia.

Dirinya memprediksikan bahwa harga karet akan terus membaik dengan catatan pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor Kalbar juga menunjukkan tren yang positif. Dengan membaiknya permintaan dari luar negeri, maka pihaknya yakni harga karet juga akan ikut terdongkrak. Hanya saja, kata dia, dari sisi ketersediaan bahan baku untuk bokar di Kalbar saat ini hanya separuh saja terpenuhi dari kapasitas pabrik pengolahan karet di Kalbar.

“Biarpun harga agak meningkat tetap saja pabrik kekurangan bahan baku karena produksi bokar di Kalbar hanya bisa memenuhi 50 persen dari kapasitas pabrik yang terpasang,” sebut dia.

Ia menyebutkan bahwa total kapasitas seluruh pabrik di Kalbar pada saat ini sekitar 500 ribu ton per tahun, dengan jumlah pabrik yang beroperasi sebanyak 12 pabrik. Dengan kondisi kekurangan Bokar di Kalbar tersebut menurutnya, perlu dilakukan peremajaan tanaman karet, guna meningkatkan produksi karet.  Hal itu selain karet petani sudah tua juga masih banyak yang tidak menggunakan benih unggul.

“Kebun karet rakyat yang diremajakan akan meningkatkan produktivitas kebun rakyat. Pada saat ini produktivitas petani karet kita hanya sekitar 700 kilogram karet kering per hektar per tahun. Sedangkan kalau di Vietnam sudah mencapai sekitar 1.800 kilogram karet kering per hektar per tahun. Kalau produktivitas tinggi tentu penghasilan petani bisa meningkat menjadi dua kali lipat lebih dari penghasilan saat ini,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan bahwa permintaan karet saat ini mulai terus naik sehingga harga ikut terdongkrak. Permintaan karet yang mulai membaik itu tak lepas dari aktivitas ekonomi mulai kembali bergerak.”Sehingga industri yang memerlukan karet mulai meningkatkan permintaan. Sehingga harga karet dunia mulai naik,” kata dia.

Dengan kondisi harga karet yang membaik, tambah dia, maka sangat berpengaruh pada pendapatan petani. Sehingga dapat membantu lebih baik dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari. Apalagi, saat ini hampir 1,25 juta penduduk Kalbar terlibat dalam perkebunan karet. Jik harga karet meningkat tentu ekonomi petani dan daerah akan membaik atau meningkat pula. (sti)

 

 

error: Content is protected !!