Tren Memelihara Cupang di Masa Pandemi

NAIK DAUN: Ikan cupang yang sedang naik daun menjadi berkah tersendiri bagi Budianto yang hobi memelihara dan mengembangbiakkan ikan cantik ini. ARIS MUNANDAR/PONTIANAK POST

Ikan Cantik Nan Tangguh Pembawa Rezeki

Renang ikan cupang seperti menari di dalam akuarium menegaskan kecantikan sekaligus ketangguhan. Namun siapa yang sangka di balik keindahannya, ikan hias ini juga pembawa rezeki bagi para peternaknya.

Pandemi Covid 19 dengan anjuran beraktivitas dari rumah beberapa waktu lalu memang banyak membuat orang kesulitan. Orang-orang tak bisa beraktivitas dan berinteraksi seperti biasanya. Saat itulah orang-orang mulai mencari kesibukan dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan dan masih dapat dilakukan di rumah. Salah satunya memelihara ikan cupang.

Saat seperti inilah yang dianggap Budianto sebagai waktunya panen rezeki. Di tengah ramainya orang mencari cupang yang membuat ikan hias aneka warna ini menjadi tren di masa pandemi. “Banyak youtuber dan artis juga yang mempromosikan kegiatan ini, jadi makin tren,” katanya.

Bermodal halaman rumah tempat memajang dagangannya di Jalan Purnama 1, Gang Purnama Agung 3, Pontianak Barat, pemuda berkacamata ini mampu meraih omzet enam sampai tujuh juta sebulan. Padahal, pemuda yang bersekolah di SMA Kristen Santo Petrus ini membuka usahanya baru setengah tahun. Namun ia menyampaikan niatnya untuk pindah dan memiliki toko sendiri.  “Dua minggu lagi rencananya akan pindah ke toko di ujung Kota Baru,” katanya.

Ilmu berternak cupang didapatkan pemuda bertubuh tambun ini dari orang tuanya. “Dari awal bapak saya memang hobi cupang. Terus bapak ngajari saya mengawinkan ikan cupang. Ternyata seru juga lihatnya. Terus saya coba. Eh makin lama makin banyak,” katanya menceritakan awal bagaimana ia akrab dengan ikan cupang.

Mulai dari sana pemuda ini melihat peluang usaha. Mulai dengan menjual kepada teman-teman sekolah dan sekitar kompleknya dengan harga yang saat itu menurutnya murah. “Dulu jual lima ribu jak. Trus lihat di facebook kok harganya tinggi-tinggi. Dari situlah ikan cupang saya dijual serius,” katanya.

Budianto mulai ikut berbagai komunitas cupang di media sosial untuk menambah informasi dan relasi. Di dalam perkumpulan itulah sesama peternak dan pencinta ikan cupang saling mengawinkan indukan unggulan mereka untuk menciptakan keturunan ikan cupang yang lebih bagus.

Kenikmatan memelihara ikan cupang menurut Budianto ada pada kesulitan memprediksi warna yang akan muncul pada tubuh dan sirip ikan cupang. “Pas dia kecil warnanya masih hitam semua. Terus sudah masuk bulan ketiga sampai keempat, warnanya mulai muncul. Rasa penasaran itu memunculkan kesenangan sendiri bagi peternak ikan cupang,” katanya.

Sembari menunjukkan dagangannya yang dipajang pada akuarium-akuarium kecil, pemuda menjelaskan beragam jenis ikan cupang yang diternakkannya. Ada cupang nemo, koi, fancy, yellow koi, candy, redkoi, galaxy, hellboy, white platinum, yellow solid, yellow fancy, super red, avatar, cello, besgel, leopard, nemo elmerald, blue rim, whitescale. “Penamaannya tergantung warna yang muncul,” katanya.

Ia mematok harga untuk cupang yang dijualnya dari kisaran harga 30 ribu sampai 350 ribu. “Yang murah itu yang putih. Yang warnaya full satu badan dan rapi, itu yang mahal,” katanya.

Pelanggannya tidak hanya dari Pontianak, tetapi juga banyak dari luar kota yang membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali. “Untuk di luar Kalbar belum pernah. Karena perlu karantina lagi. Itu nambah biaya. Belum lagi ongkos kirim,” katanya.

Tentu menternakkan ikan cupang tidak selalu berhasil. Budianto pernah menemukan indukan jantan yang memakan telur-telur yang dilahirkan indukan cupang betina. Ada juga pasangan yang tidak mau kawin. Bahkan ada indukan jantan yang membunuh betinanya. “Itu kadang yang membuat sedih,” katanya.

Menjalankan hobi dan menghasilkan uang menurut Budianto adalah kesenangan tersendiri. “Seperti tidak kerja. Semacam hobi yang menghasilkan jak,” katanya.

Ia juga pandai membagi antara waktu sekolah dan waktu mengurus cupang-cupangnya. Ia membiasakan dirinya disiplin. “Karena sekarang belajar dari rumah sampai jam satu siang, jadi saya tidak menerima pelanggan sampai jam segitu. Setelah belajar online, buru-buru mandi dan makan, setelah itu baru menerima pelanggan. Kalaupun terpaksa ada pelanggan dari jauh ingin membeli dalam jumlah banyak, saya minta tolong ke bapak,” katanya.

Selain ikan cupang, ia juga menjual berbagai perlengkapan lainnya. Seperti serokan, pakan ikan, dan wadah akuarium. Dari sanalah rupiah masuk ke kantong Budianto. (Aris Munandar)

error: Content is protected !!