Tumpang Sari di Sela Pohon Sawit Muda
Upaya Meremajakan Kebun Sawit Tua Tak Produktif

TANAMAN SELA: Pekebun yang mengikuti program peremajaan sawit memanfaatkan lahan di sela-sela kebun sawit untuk membudidayakan tanaman pangan. SITI/PONTIANAK POST

Sebagian kebun sawit rakyat di Kecamatan Ngabang, Kalimantan Barat tercatat sudah berusia lebih dari 30 tahun dan tidak lagi produktif. Karena itulah, para pekebun memutuskan untuk mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Namun mereka menghadapi sejumlah tantangan.

SITI SULBIYAH, Ngabang

POHON-pohon sawit itu mulai meninggi. Usianya sudah lebih dari satu tahun. Di sela-sela pelepah, tumbuh buah-buah sawit berukuran kecil, atau yang lebih dikenal dengan buah pasir. Lahan sawit seluas dua hektare itu merupakan milik Frans (41), warga Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak.

Frans mengatakan, di lahan tersebut sebelumnya berdiri pohon-pohon sawit berusia sekitar 30 tahun yang menjulang tinggi. “Karena sudah tua, hasilnya sudah tidak efektif, jadi ikut program peremajaan,” kata Frans, akhir Maret lalu.

Sebelum ditebang medio 2019 lalu, pohon-pohon sawit miliknya tak lagi optimal menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS). Ditanam sekitar tahun 1987, kebun sawit miliknya hanya menghasilkan dua ton TBS per kapling dalam sekali panen. Artinya, satu hektare lahan sawit hanya menghasilkan satu ton TBS. Hasil ini jauh dari rata-rata produktivitas kebun sawit nasional yang lebih dari dua ton per hektare.

Tak hanya produktivitas yang rendah, tinggi pohon sawit yang mencapai belasan meter juga membuatnya kesulitan memanen TBS. “Susah joloknya, dan (berisiko) bisa tertimpa pelepah,” ujarnya.

Karena itulah, ketika ada kesempatan untuk mengikuti program PSR, dirinya tak pikir panjang lagi. Dana hibah sebesar Rp25 juta dari program PSR yang digelontorkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengganti pohon-pohon tua dengan tanaman baru. Ia berharap tiga hingga empat tahun mendatang, buah sawit yang dihasilkan melimpah.

Langkah serupa juga diambil Sugianto (43), Warga Desa Amboyo Utara, Kecamatan Ngabang. Empat hektare kebun sawit miliknya dilepas untuk diikutkan program PSR karena usia pohon sudah lebih dari 30 tahun dan tidak produktif. Hasilnya terbilang kecil.

Ayah lima anak ini merasa terbantu dengan adanya bantuan dana hibah dari pemerintah melalui BPDPKS. Per hektare, ia dapat Rp25 juta. Uang itu diperuntukkan bagi operasional peremajaan sawit. Hanya saja diakuinya, ongkos tersebut hanya cukup untuk pembersihan lahan, pembelian bibit, pupuk, dan kebutuhan perawatan untuk setahun ke depan.

Kurangnya dana memang menjadi tantangan bagi pekebun dalam mengimplementasikan program PSR. Sejak tahun lalu, dana hibah yang disalurkan oleh BPDPKS dinaikkan dari Rp25 juta menjadi Rp30 juta per hektare. Kendati angkanya sudah dinaikkan, kebutuhan belum tercukupi. Ongkos peremajaan hingga tanaman sawit berbuah sekitar empat tahun sejak mulai ditanam jauh lebih besar.

MENJULANG : Pohon sawit tua berusia sekitar 30 tahun menjulang tinggi. pohon-pohon sawit yang kurang produktif ini layak untuk diremajakan.

Hal ini diakui oleh Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalbar, Indra Rustandi. “Perkiraannya satu hektare butuh Rp60 juta, sedangkan bantuan saat ini hanya Rp30 juta,” tutur Indra.

Untuk diketahui, PSR merupakan program untuk membantu pekebun sawit rakyat memperbaharui tanaman mereka dengan kelapa sawit yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Melalui PSR, produktivitas lahan milik pekebun sawit rakyat bisa ditingkatkan tanpa melalui pembukaan lahan baru.

Dalam hal ini, BPDPKS ditugaskan untuk menghimpun, mengelola dan menyalurkan dana untuk meningkatkan kinerja sektor sawit Indonesia. Maksimal luasan lahan yang mendapatkan dana PSR yakni empat hektare per kepala keluarga petani atau senilai Rp120 juta.

Karena itulah, lanjut Indra, untuk menutupi kekurangan dana tersebut, para pekebun menempuh berbagai cara, di antaranya ada yang telah mempersiapkan dana pribadi, hingga mengajukan kredit ke bank. Meski begitu, diakuinya tak mudah bagi pekebun merelakan kebun sawit milik mereka untuk diremajakan. Terlebih apabila kebun tersebut menjadi satu-satunya sumber pendapatan mereka.

Pertimbangan dana itulah yang membuat sejumlah pekebun enggan mengikuti program PSR, misalnya Saiyo (46). Ia belum mengikuti program PSR kendati kebunnya layak diremajakan. Selama ini, sawit menjadi satu-satunya sumber pendapatan keluarga Saiyo. Ia tahu betul apabila kebunnya diremajakan, sumber penghasilannya akan hilang. Sebab, lahan yang diremajakan butuh waktu sekitar empat tahun lagi untuk berbuah dan memberikan pendapatan.

“Masih ada biaya pendidikan anak yang harus dipenuhi, sama ada utang di bank,” kata pekebun asal Desa Amboyo Inti ini.

Di sisi lain, harga sawit tengah pada posisi terbaik. Hal inilah yang semakin membuatnya merasa berat mendaftar program PSR. Walau produksi buahnya rendah tetapi karena harga TBS sedang tinggi, penghasilan yang didapatnya juga besar.

“Satu kapling hanya produksi 1,6 ton TBS. Namun harga sawit di atas Rp2.000 per kilogram. Harganya sedang bagus,” sebutnya.

Meski begitu, ia masih punya keinginan untuk mengikuti program PSR. Entah kapan, ia belum memutuskan. Yang pasti setelah kondisi finansialnya memungkinkan. Soalnya, Saiyo juga berharap kelak memiliki kebun yang hasilnya melimpah, sama seperti pekebun-pekebun lain yang sudah mengikuti program ini.

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan satu-satunya cara untuk meningkatkan produktivitas sawit adalah dengan melakukan peremajaan, atau mengganti pohon-pohon sawit yang sudah tua dengan tanaman baru. Ia menjelaskan, rendahnya produktivitas tak hanya karena usia pohon yang sudah tua, tetapi juga karena kesalahan dalam memilih bibit.

“Banyak dulu mereka (pekebun, red) menanam bibit pencabutan sehingga produktivitasnya rendah. Mudah-mudahan PSR ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas tanaman sawit,” imbuh Hero.

Adanya program PSR yang memberi dana hibah kepada pekebun rakyat menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan produksi sawit, sekaligus mencegah pembukaan lahan baru. Di Kalbar, perkiraannya ada sekitar 100 ribu hektare lahan sawit yang kini berusia tua dan tidak produktif, sehingga layak untuk diremajakan

“Dua tahun terakhir kita baru dapat 14 ribu, tahun ini 12 ribu. Masih banyak yang belum (diremajakan),” tuturnya.

Frans (41), warga Desa Amboyo Selatan, menanam jagung di lahan sawit yang ia remajakan

Tanam Tanaman Sela

Pekebun yang mengikuti program peremajaan sawit harus siap kehilangan pemasukan sementara. Lahan yang diremajakan butuh waktu sekitar empat tahun untuk berbuah dan memberikan pendapatan bagi mereka. Terkait sumber pendapatan yang hilang di masa tunggu itu, Hero menyarankan agar pekebun melakukan peremajaan secara bertahap.

Misalnya, peremajaan dilakukan pada sebagian lahan terlebih dahulu, kemudian sebagian lahan yang lain di tahap selanjutnya. “Mereka bisa mengajukan secara bertahap, plasma ataupun kebun mandiri. Umpamanya empat hektare, bisa dua hektare yang diajukan dulu. Dua hektare sisanya masih bisa panen. Mengajukannya bisa bertahap,” katanya.

Para pekebun juga dapat memanfaatkan dukungan melalui program bantuan tanaman pangan, untuk mendapatkan bibit padi, jagung, kedelai, atau tanaman yang bernilai ekonomis. Mereka pun dapat menanam tanaman dengan sistem tumpang sari di lahan yang sama dengan lahan peremajaan, dengan catatan perawatan yang diberikan benar.

Sistem tumpang sari inilah yang dilakukan oleh Frans. Ia mencoba menanam sayur dan cabai dengan sistem tumpang sari. Upayanya itu terbilang berhasil. Hanya saja, dirinya terkendala dengan pasar. “Hasilnya lumayan bagus, hanya pasarnya yang sulit. Semula saya berharap sayur-sayuran ini bisa dijual ke pasar, tapi pasarnya jauh dari kampung,” ujar Frans.

Tak ingin menyerah, ia mencoba menanam tanaman lain. Kali ini adalah jagung untuk pakan ternak. Pekebun yang mengikuti program PSR memang dibantu bibit jagung oleh Pemerintah Kabupaten Landak. Sudah sebulan terakhir Frans mencoba menanam jagung. Sekarang ia tinggal menunggu waktu panen. Dirinya berharap hasilnya banyak sehingga dapat dijual.

Sama seperti Frans, Sugianto juga mencoba memanfaatkan sela-sela pohon sawit yang diremajakan dengan menanam tanaman pangan. Semula ia menanam jagung, sebagaimana arahan dari pemerintah setempat. Hanya saja, setelah dibudidayakan, hasilnya kurang maksimal. Kurang dari setahun, ia pun mengganti tanaman jagung dengan pisang. Kali ini, hasilnya jauh lebih baik. Pisang yang ia tanam berbuah lebat sehingga bisa ia jual.

“Dari pisang, satu bulan bisa dapat Rp500-600 ribu. Lumayan untuk menambah kebutuhan sehari-hari,” kata Sugianto.

Lahan swit milik Sugianto (43), Warga Desa Amboyo Utara, yang diremajakan. Di sela-sela pohon sawit muda itu, ia menanam pisang.

Kurang Sosialisasi

Ketua Apkasindo Kalbar, Indra Rustandi menyebutkan, salah satu tantangan dalam mengimplementasikan program PSR di Kalbar karena kurangnya komunikasi dan sosialisasi, sehingga masih ada sebagian pekebun yang belum terjangkau. Menurutnya, para pekebun yang mengajukan program ini sebagian besar adalah petani plasma. “Rata-rata adalah petani plasma, yang mandiri ini belum tersentuh,” katanya.

Minimnya sosialisasi itu pula yang dinilai telah membuat pekebun kurang teredukasi, sehingga mereka tidak memahami pentingnya peremajaan. Para pekebun masih ada yang enggan melakukan peremajaan karena merasa kebun mereka masih menghasilkan buah, meski hasilnya jauh dari optimal. Apalagi saat ini harga TBS sedang tinggi, sehingga semakin membuat pekebun berat meremajakan kebun sawit.

Pihaknya terus mendorong para pekebun untuk mengikuti program PSR. Adapun kriteria pekebun yang dapat mengajukan dana hibah sebesar Rp30 juta kepada BPDPKS adalah pekebun yang memiliki lahan sawit yang telah berusia lebih dari 25 tahun, produksi TBS kurang optimal, serta tanaman sawit berumur tujuh tahun yang bibitnya asal-asalan.

“Mudah-mudahan dari target pemerintah 12 ribu hektare, bisa terealisasi minimal 10 ribu hektare lahan sawit,” tutup dia. *

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!