Tunawisma Masih Menjadi Persoalan Pelik di Kota Pontianak

TELANTAR: Sarwani (67) dan Sutiah (63) di samping emperan toko, Jalan Barito, Pontianak Selatan. Di belakang mereka, ruangan seukuran 3x1 yang hanya bisa digunakan untuk duduk dan ngobrol saat siang, Jumat (24/7). ARIS MUNANDAR/PONTIANAK POST

Kisah Mereka yang Terlantar

Sarwani (67) dan Sutiah (63) terbangun. Pelan-pelan membangkitkan diri dari tempat tidur. Saat itu matahari mulai menerangi Jalan Barito, bagian selatan Pontianak pada Jumat (17/7). Tempat Sarwani dan Sutiah tidur sebenarnya adalah emperan sebuah toko yang sudah lama tutup.

Sutiah menggulung kasur busa tipis mereka gunakan untuk tidur. Mengikatnya pada dipan yang dibaringkan di meja. Tugas Sarwani kemudian adalah menegakkan dipan itu ke arah dinding.

Sarwani tak perlu mendapat izin khusus untuk menjadikan emperan itu sebagai tempat beristirahat. Bau pesing tercium dari tempat itu. Tak terlihat tempat mandi, cuci dan kakus (MCK) yang layak. Hanya ada tiga buah drum bekas aspal untuk menampung air hujan. Tidak ada sekat empat sisi dan pintu yang menutupnya.

Mereka harus bergegas. Pukul 8 pagi, tempat mereka tidur berubah menjadi tempat jualan. Warung kecil yang menjual kopi, mie, dan jajanan kecil. Itu bukan milik Sarwani dan Sutiah. Tapi milik orang lain. Sarwani mengaku suka menumpang masak pada pemilik warung. Ia tidak punya dapur sendiri.

Sarwani yang tak mengenakan baju, lantas duduk di kursi kayu dengan menaikkan satu kaki. Pandangannya tajam ke depan. Yang ia lihat hanya samar-samar banyangan. Ia menderita katarak sudah empat tahun.

“Saya tidak bisa melihat, Mas yang di depan saya pun tak nampak mukanya. Tapi saya pasti ingat suaranya. Jadi kalau Mas ke sini lagi saya pasti ingat,” ucap Sarwani, Jumat (17/7).

Sarwani meninggalkan daerah asalnya Semarang pada usia 19 tahun. Tujuannya merantau ke Pontianak. Harapan memperbaiki nasib tak pernah kesampaian. Dia pernah bekerja sebagai buruh bongkar muat, jualan jagung rebus dan terakhir menjadi buruh mebel. Beruntung Sarwani bertemu Sutiah di Pontianak. Sutiah kemudian menjadi istrinya.

Sarwani bukanlah suami pertama Sutiah. Mereka bertemu di Pontianak pada 1982. “Saya dulu ikut transmigrasi. Asal saya Cilacap. Tujuannya ke Sekadau. Saat saya dan suami pertama saya dulu sampai di Pontianak, suami saya meninggalkan saya,” ucap Sutiah (24/7).

“Ia dulu mulung. Saya ketemu di sini. Dia cerita tentang suaminya. Tak lama setelah itu kami menikah,” ucap Sarwani (24/7).

Sarwani dan Sutiah menikah di KUA Rasau Jaya. Masa itu mereka sudah punya KTP Pontianak. Juga Kartu Keluarga. “Lima enam tahun lalu dompet dan tas saya dicuri waktu saya tidur. Duit dan KTP saya dan Sutiah hilang. Kartu Keluarga juga. Sekarang mau diurus, kata kelurahan tidak bisa,” ucapnya.

Sarwani dan Sutiah tak memiliki anak. Di Pontianak, mereka juga tak punya keluarga. Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Pontianak, Sarwani mengaku selalu tinggal di emperan toko. Sampai menikah dengan Sutiah pun mereka tetap tinggal di sana.“Saya dari awal di sini. Ndak pernah pindah-pindah,” ucapnya sembari menunjuk pada sebuah tempat berukuran 3×1 di samping tempat ia tidur tadi.

Itu adalah tempat istirahat dan mengobrol bersama istrinya saat siang. Dindingnya dibuat Sarwani dari seng bekas.

Pada sore hari saat toko-toko di sekitar sudah tutup, Sarwani bertugas membersihkan sampah. Ada enam toko yang menjadi tanggung jawab Sarwani. Ia dapat 50 ribu sebulan dari setiap toko untuk jasanya. “Jadi kalau enam toko kira-kira 300 ribu, buat makan,” ucapnya.

Sarwani mengaku sempat dijanjikan oleh Dinas Sosial Kota Pontianak untuk dibawa ke Panti Jompo. Namun ia lupa persisnya kapan dan sampai sekarang belum terealisasi. “Kalau ada bantuan, kami mau di bawa ke Rumah Susun atau Panti,” katanya.

Lain Sarwani, lain lagi Hanifah. Ia tinggal di emperan toko yang sedang direnovasi di Jalan Pattimura. Kondisi fisiknya menyedihkan. Wanita ini rambutnya hampir habis. Banyak bekas terkelupas di sekitar kaki dan tangannya. Lututnya memperlihatkan luka basah yang hanya ditutup sebagian dengan plester luka. Ia sudah tidak ingat berapa usianya.

Seseorang menghampirinya, berbicara sebentar lalu memberinya uang 10 ribuan. “Ia teman saya,” kata Hanifah (22/7).

Di sekeliling Hanifah, banyak barang-barang berserakan. Ada pakaian, air mineral gelas dan bekas makanan. Di sanalah dia tidur. “Toko ini udah lama tutup, jadi saya tinggal di sini. Sebelumnya tidak di sini. Saya pindah-pindah,” katanya.

Hanifah yang mengaku berasal dari Singkawang ini benar-benar menggantungkan hidupnya dari pemberian orang lain. Pasalnya, ia tidak bekerja.

Melihat kondisi demikian, Aswin Djafar, Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak angkat bicara. Ia mengatakan siap memfasilitasi tunawisma yang ada di Pontianak. Ia mengakui Dinas Sosial Kota Pontianak sudah melakukan pendataan terhadap tunawisma.

“Setelah itu kami menerbitkan rekomendasi untuk diserahkan kepada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pontianak.Uuntuk dapat ditempatkan di Rusun,” katanya (22/7).

Namun ia menambahkan, syaratnya tunawisma yang bersangkutan harus warga Pontianak yang dibuktikan dengan KTP dan keterangan dari ketua RT agar dapat ditempatkan di Rumah Susun milik Pemkot Pontianak.  Namun sulit untuk tunawisma yang tidak ada kejelasan tempat tinggal dan kartu identitas mendapatkan fasilitas tersebut. Terlebih lagi kebanyakan dari tunawisma seperti Sarwani, Sutiah dan Hanif berasal dari luar kota dan merantau ke Pontianak dan kesulitan mengurus KTP setempat. (ris)

error: Content is protected !!