Tunda Kuliah Demi Kampus Favorit

Kampus favorit menjadi pilihan setelah lulus SMA. Pasti ada rasa bangga ketika berhasil mengenyam pendidikan di sana. Bahkan, ada yang rela menunda kuliah satu hingga dua tahun demi untuk berkuliah di kampus ternama.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Banyak alasan orang berbondong-bondong kulih di kampus favorit atau universitas negeri ternama. Lulusannya dianggap akan memiliki masa depan cerah dan mudah mendapat pekerjaan dengan gaji besar. Kehidupan kedepan pun menjadi lebih terjamin.

Nabila Ayu menjadi salah satu yang berhasil berkuliah di universitas favorit pada delapan tahun lalu. Ketika itu perempun berusia 25 tahun ini sangat gembira karena usahanya belajar keras membuahkan hasil.

Semasa kuliah Nabila sering mendapat cerita mengenai kesuksesan dari para alumni kampusnya. Dia pun membayangkan mudahnya mendapatkan pekerjaan ketika lulus. Namun, ternyata bayangan tak seindah kenyataan. Sejak lulus dua tahun lalu, Nabila dan teman satu kampusnya kesulitan mencari pekerjaan.

“Memang saat menjelang wisuda ada beberapa perusahaan besar datang ke kampus untuk melakukan perekrutan. Tapi lowongan pekerjaan dari perusahaan-perusahaan tersebut juga terbatas,” ungkap Nabila.

Hanya puluhan orang yang direkrut, sedangkan kampusnya meluluskan sekitar seribu orang setiap tahun. Akhirnya Nabila menyadari bahwa masuk perguruan tinggi negeri favorit tak selalu menjamin masa depan yang cerah. Terlebih zaman sekarang baik perusahaan BUMN maupun swasta cenderung memilih calon karyawannya bukan berdasarkan favorit atau tidaknya kampus tempat mengenyam pendidikan, melainkan kemampuan yang dimiliki calon karyawan tersebut.

“Pesan saya, jangan patah semangat atau rela menunda kuliah hanya demi bisa masuk kampus favorit. Kampus-kampus lain juga pasti memiliki nilai plus. Banyak juga alumni dari kampus biasa yang bisa bekerja hingga di kementerian,” katanya.

Psikolog Endah Fitriani, M.Psi mengatakan setiap orang memiliki pilihan sendiri, termasuk menunda kuliah demi bisa diterima di universitas favorit.

“Namun, jika memiliki pemikiran bahwa lulusan universitas favorit sudah pasti yang terbaik tidak juga 100 persen benar adanya. Kembali lagi pada diri sendiri,” ujar Endah.

Menurut Endah, percuma diterima di universitas ternama, tetapi nilai yang diperoleh setiap semester tidak menunjukkan hasil yang maksimal.

“Apa yang bisa dihasilkan setelah lulus menjadi sarjana di kampus tersebut? Apa saat melamar pekerjaan menebeng nama kampus tanpa mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan. Tentu tidak mungkin terjadi,” tutur Endah.

Endah menyatakan tak salah memiliki keinginan menjadi mahasiswa di kampus favorit. Namun, jika tak lulus juga walaupun sudah beberapa kali mencoba, bisa berkuliah di kampus lainnya. “Siapa tahu di kampus ini bisa mengukir prestasi gemilang nan membanggakan. Ingat, waktu menunda walau hanya satu tahun itu cukup lama,” ujar Endah.

Apabila tetap berkeras menunda, lanjut Endah, tetap harus mengetahui hal yang bisa dikerjakan selama setahun. Misalnya, mempersiapkan diri dengan mengikuti les masuk universitas. Jika hanya berdiam diri, pasti sangat merugikan. Sebab, sudah menyia-nyiakan waktu untuk mengerjakan hal yang lebih bermanfaat.

“Disamping itu juga jadi rugi waktu dan usia,” tukas Endah.

Endah mengaku memiliki kenalan yang rela menunda kuliah demi mencoba menjadi mahasiswa kedokteran di kampus favorit. Selama setahun, kenalannya tidak pulang ke kampung halamannya di Sulawesi untuk mengikuti bimbel tambahan. Tahun berikutnya, ia mencoba lagi mengikuti tes di kampus favorit, tapi tetap saja tidak lulus.

“Ia justru berhasil lulus di fakultas kedokteran di salah satu kampus swasta,” tuturnya.

Meski perjuangannya selama satu tahun tidak berhasil mengantarkannya menjadi mahasiswa kedokteran di kampus favorit, tapi kenalan Endah tetap merasa bangga dengan hasil yang didapatkannya. Ia tetap bisa menjadi mahasiswa kedokteran, meski di kampus swasta.

Saat gagal walau telah beberapa kali mencoba, kata Endah, kegagalan bukan hal fatal dalam hidup. Jadikan sebagai cobaan untuk membuat diri terus maju dan mencoba. Tumbuhkan niat dan cari letak kesalahan.

“Kalau sampai tidak bisa move on, ya rugi besar karena sudah mengorbankan masa depan yang ada. Ingat, harapan terbesar orang tua ada pada anak, apalagi jika kamu adalah anak pertama,” ungkapnya.

Jika diterima di kampus yang tak sesuai keinginan, tetap bisa mencoba berkuliah di sana. Bisa membuat perjanjian dengan orang tua. Misalnya, mencoba berkuliah di sana selama setahun hingga hingga ada penerimaan kembali di kampus favorit. Dan, pindah jika dinyatakan lulus di kampus favorit.

“Biarkan jika anak meminta hal itu. Jangan langsung memutus harapannya,” tambah Endah.

Orang tua tidak perlu marah jika indeks prestasi kumulatif (IPK) anaknya selama dua semester di kampusnya saat ini belum menunjukkan hasil maksimal karena masih tetap bersih keras kuliah di tempat yang diimpikan. Hal ini menjadi konsekuensi. Biarkan anak mengejar hingga ia menyadari bahwa tidak selamanya keinginan yang dinilai terbaik untuk dirinya terwujud dan terbaik di mata Allah SWT.

Endah yakin ketika sudah mendapatkan hasil akhir, anak akan mengubah mindset dan pola belajarnya di kampus saat ini.

“Ia akan berusaba membuat orang tua bangga dengan cara semangat mengikuti perkuliahan yang ada, serta mengejar agar bisa memperoleh nilai yang memuaskan di setiap semesternya. Sebagai ungkapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan,” pungkas Endah.**

Read Previous

Kantor Pertanahan Bengkayang Bagi Paket Sembako

Read Next

BBPOM di Pontianak Uji Sampel Pangan Juadah di Tempat