Udara Kota Pontianak Memburuk

kabut asap

MASIH TEBAL: Sampan melintas Sungai Kapuas dengan kondisi asap tebal yang menutupi Kota Pontianak. Kian hari, kondisi asap semakin tebal, namun masyarakat masih beraktivitas seperti biasa. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Tinorma Butar-butar mengatakan, penilaian paramater kualitas udara meningkat. Dari sebelumnya kualitas udara di Pontianak masuk kriteria sedang dan sekarang (kemarin) menjadi tidak sehat.

“Per 24 jam, baru didapatkan data ril. Kemarin pada angka 102, sekarang (kemarin) 104, dan itu terhitung hingga pukul 15.00,” kata Tinorma, siang kemarin.

Ia mengingatkan masyarakat tidak membakar sampah meskipun itu di lahan perkarangan milik pribadi. Meski kecil hal itu juga penyumbang tidak baiknya kualitas udara di Pontianak. Ia mengakui masih ditemukan masyarakat yang membakar sampah di lahan milik pribadi. “Meskipun kecil tetapi menimbulkan polusi yang merusak udara,” kata dia.

Tinorma menegaskan masyarakat yang kedapatan membakar sampah meskipun di lahan pribadi seharusnya diberikan sanksi tipiring. Sampah, lanjut dia, tidak seharusnya dibakar.

Sampah seharusnya diolah pada sumbernya. Sampah yang kemudian dianggap tak bernilai di bawa ke TPS dan kemudian diangkut oleh petugas ke TPA. “Sampah itu bukan dibakar tapi diolah. Kami yang akan memproses itu di TPA, jadi tidak diperkenankan membakar sampah meskipun itu di perkarangan rumah,” kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu menyebutkan, adanya peningkatan kasus ISPA yang terlihat pada angka kunjungan di puskesmas yang kemudian dilaporkan ke dinas kesehatan. Meski demikian peningkatan itu tidak terlalu signifikan dan masih tergolong kecil serta berubah-ubah setiap harinya.

Kunjungan yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan itu 100 khusus ISPA. Angka itupun dianggap masih dalam batas normal. Jika 100 kunjungan dibagi 23 puskesmas, maka rata-rata yang berkunjung empat sampai lima orang untuk satu puskesmas.

Sidiq melanjutkan kunjungan masyarakat berobat karena karena batuk pilek tetap tinggi meski sedang tidak musim kabut asap. Apalagi dampak kabut asap tidak langsung, melainkan baru dirasakan empat hingga lima hari kemudian.

Sementara anak-anak yang mayoritas terserang ISPA. Itu pada anak yang rentan dan memiliki riwayat asma. Ia mengingatkan masyarakat untuk memperbanyak minum air putih dan buah-buah. “Kondisi saat ini berbahaya bagi anak-anak yang memilik risiko, sehingga mesti mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika keluar maka tetap gunakan masker,” pesan Sidiq.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, Saptiko memastikan patroli guna mencegah pembakaran lahan masih terus dilakukan. Dari patroli itu dipastikan belum ada titik panas yang terdeteksi di Pontianak.

Saptiko menyatakan kabut asap yang menyelimuti Pontianak merupakan kiriman dari daerah lain. Pihaknya tak bisa mencegah, apalagi asap terbawa oleh angin. Sementara di Kota Pontianak sendiri saat ini tidak ada kebakaran lahan. “Bahkan bisa terkirim ke Malaysia,” kata Saptiko di Pontianak, kemarin
Menurutnya, patroli yang dilakukan sebagai langkah antisipasi dan sosialisasi ke masyarakat. Termasuk ke pelaku usaha dan pengembangan perumahan. Tindakan tegas tetap diberikan jika tak mengindahkan aturan dari pemerintah.

Pekatnya udara Pontianak akibat asap kiriman kebakaran hutan dan lahan memaksa pihak Sekolah Dasar Mujahidin Pontianak meliburkan pelajarnya selama dua hari. Dimulai dari hari Selasa (kemarin) dan masuk kembali pada Kamis, 12 September 2019. Tujuan diliburkannya sekolah sebagai antisipasi terpaparnya ISPA pada pelajar SD Mujahidin.

“Karena kondisi asap membuat udara tidak sehat. Dengan terpaksa pelajar SD Mujahidin belajar di rumah selama dua hari, sejak Selasa dan masuk kembali Kamis mendatang,” kata Kepala SD Mujahidin Pontianak, Sutaji kepada Pontianak Post, Selasa (10/9).

Sutaji menuturkan liburnya pelajar SD Mujahidin dilakukan usai rapat bersama Lembaga Pendidikan Mujahidin. Dari hasil rapat itu para pengurus memandang kondisi udara kini sudah masuk taraf tidak sehat. Sebagai antisipasi ISPA, maka pihak pengurus Lembaga Pendidikan Mujahidin mengambil langkah untuk meliburkan pelajar dan belajar di rumah masing-masing selama dua hari.

Dari informasi yang masuk padanya, dibenarkan ada keluhan dari pihak orang tua. Utamanya soal kondisi kabut asap, sehingga membuat khawatir para orang tua untuk mengantar anaknya belajar ke sekolah. “Apa yang dilakukan ini lebih kepada antisipasi,” katanya.

Dia mengimbau pada para pelajar untuk tidak keluar rumah jika tidak penting-penting benar. Kalaupun keluar diminta dia masker dapat digunakan. Untuk materi pelajaran diminta selama dua hari ini belajar masing-masing di rumah. “Mudah-mudahan udara membaik. Dengan begitu anak-anak dapat kembali belajar dengan nyaman,” katanya.

“Kondisi udara masuk kategori tidak sehat. Apa yang diambil oleh pihak Lembaga Mujahidin dengan meliburkan siswanya saya rasa tepat. Ini sebagai antisipasi,” kata orang tua murid, Awaliya.

Sebagai orang tua, dirinya juga khawatir melihat kondisi udara seperti ini. Utamanya waktu pagi menuju siang. Udara justru makin pekat. Jika kondisi tubuh tak fit dapat mengganggu kesehatan. “Saya saja pusing ketika menghirup asap. Apalagi anak-anak. Bahaya bisa ISPA,” ungkapnya.

Kejadian kabut asap sepertinya rutin tahunan. Dia meminta agar Pemerintah dapat mengambil langkah-langkah dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Akibat kejadian ini semua merugi.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono belum mengambil langkah untuk meliburkan para pelajar di sekolah negeri. “Kondisi udara di Kota Pontianak memang masuk taraf tidak sehat. Namun belum sampai berbahaya. Pelajar pun masih sekolah seperti biasa,” katanya. (mse/iza)

Read Previous

Harapan di Tangan Figuran

Read Next

Finalis Mesti Serius Memberikan Kemampuan Terbaik

Tinggalkan Balasan

Most Popular