Uji Coba Belajar Tatap Muka di Sekolah

UJI COBA: Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono meninjau langsung uji coba belajar tatap muka di SMPN 1 Pontianak. ISTIMEWA

PONTIANAK – Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pontianak melakukan uji coba belajar tatap muka di sekolah. “Uji coba mulai Senin kemarin. Ini hari kedua uji coba belajar tatap muka,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Sugeng di Pontianak, siang kemarin.

Sugeng menjelaskan uji coba ini akan berlangsung selama sepekan. Pihaknya akan terus mengevaluasi  Jika memang pelaksanaannya benar-benar aman tidak menutup kemungkinan akan dilakukan proses belajar mengajar tatap muka, namun tetap dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Evaluasi tes hari pertama berjalan lancar,” sebut Sugeng.

Secara teknis selama uji coba, dalam satu kelas diisi 18 pelajar. Jumlah itu setengah dari jumlah maksimal pelajar dalam satu kelas yakni 36 orang. Uji coba ini pun diikuti 264 pelajar atau setara 62 persen dari jumlah keseluruhannya yakni sebanyak 423 orang. Sebanyak 264 pelajar ini dibagi dua. “Misalnya hari Senin yang masuk 139 orang dan hari ini yang masuk 125 orang,” kata Sugeng.

Sistem pembelajarannya hanya dua jam dan bergantian. Karena ini untuk kelas XII, maka pelajaran yang diberikan adalah pelajaran yang di ujiankan. Pihaknya, kata Sugeng, mempersiapkan siswa untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Sugeng melanjutkan ada tujuh pelajaran yang diberikan. Untuk IPA antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matermatika, Fisika, Kimia, Biologi dan Agama. Sedangkan IPS, diantaranya Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Ekonomi, Geografi, Sosiologi dan pelajaran Agama. “Untuk mata pelajaran yang lain tetap dilakukan secara daring,” terang Sugeng.

Sugeng menjelaskan ini merupakan uji coba yang baru satu-satunya dilaksanakan di Kalbar. Jika proses pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik,  baru akan kita terapkan untuk SMA lainnya. “Rencananya tanggal 9 September kami akan mengedarkan surat kepada sekolah lainnya untuk daerah yang masuk zona kuning dan hijau, boleh melaksanakan pembelajaran, namun itu juga baru untuk kelas XII,” jelas Sugeng.

Uji coba pembelajaran tatap muka juga dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pontianak. Simulasi pembelajaran tatap muka tersebut sesuai protokol kesehatan. SMP 1 Pontianak dipilih sebagai sekolah percontohan dengan peserta belajar mengajar sebanyak 30 siswa.

“Kegiatan simulasi belajar tatap muka dilakukan dalam uji coba penerapan protokol kesehatan belajar mengajar di sekolah. Hari ini (kemarin) kita lakukan uji coba untuk dua mata pelajaran selama dua jam proses penerapan protokol kesehatan,” terang Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono.

Dari 30 siswa ini dibagi dua, masing-masing kelas ditempatkan 15 siswa. Sebelum belajar mengajar dimulai, pelajar dan guru terlebih dulu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir yang sudah disediakan pihak sekolah. Setelah mencuci tangan, siswa wajib diukur suhu tubuh pada alat yang sudah disiapkan di depan pintu masuk sekolah. “Kita ingin memastikan guru dan para siswa sehat sehingga akan dimonitor secara terus-menerus,” ungkapnya.

Edi berharap para siswa bisa menjadi contoh duta protokol kesehatan di sekolah bagi lingkungan maupun teman-temannya. Selama proses simulasi berjalan, Edi menilai sudah cukup baik. Namun ia meminta para siswa tidak asal mencuci tangan, tetapi mengikuti petunjuk protokol kesehatan.

Kepala SMPN 1 Pontianak, Yuyun Yuniarti menerangkan, sebelum melakukan uji coba, pihaknya terlebih dahulu mengisi daftar periksa kesiapan sekolah yang memang ada di laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Salah satunya adalah sarana cuci tangan pakai sabun sampai pada pengaturan duduk dan sebagainya.Termasuk SOP yang sudah dikeluarkan oleh Kemendikbud,” terangnya.

Setelah itu, lanjut dia, sekolah juga menyebarkan kuisioner kepada peserta didik dan orang tua tentang pemetaan kesehatan mereka. Dengan demikian pihaknya sudah memiliki data, siapa saja siswa yang punya penyakit bawaan dan sebagainya. “Itu sebagai data awal bagi kami untuk mengundang orang tua, selanjutnya mereka diminta menyatakan kesediaannya atau mengizinkan putra-putrinya mengikuti pembelajaran tatap muka,” ucap Yuyun.

Pihak sekolah juga menyiapkan sarana dan prasarana di sekolah, diantaranya tempat cuci tangan yang sangat memadai disetiap kelas, persediaan masker, face shield dan hand sanitizer. Dirinya menyebut pengaturan jadwal bagi siswa juga sudah disusun. Semula dalam satu kelas berjumlah 32 siswa, sekarang dikondisikan maksimal menjadi 50 persen dari jumlah tersebut setiap kelasnya. “Sehingga kita perlu pengaturan jadwal dan sebagainya mengingat keterbatasan jumlah guru,” katanya.

Sebelumnya pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan orang tua siswa melalui video conference dengan perwakilan Paguyuban Kelas. Kemudian paguyuban kelas akan meneruskan informasinya ke grup Whatsapp Paguyuban. “Untuk selanjutnya mendata siswa yang bersedia atau disetujui orang tuanya untuk mengikuti belajar tatap muka di kelas,” paparnya.

“Ada rasa rindu bertemu teman-teman di sekolah,” ucap siswi kelas IX SMPN 1 Pontianak, Alicia Eva.

Semenjak pandemi covid 19, sistem belajar tatap muka pun diurungkan. Pandangan dia, ada suka duka dalam pembelajaran daring. Susahnya ketika belajar dari rumah ada perasaan bosan karena tidak bertemu teman-teman sekelas. “Senangnya kalau belajar secara online dari rumah tidak terlalu stress,” katanya.

Sebelum dimulainya simulasi, para siswa sudah diberitahukan tentang protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Misalnya pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. Sehingga saat belajar tatap muka dimulai semuanya berjalan dengan lancar.(mse/iza)

error: Content is protected !!