Upaya Kampung Dinoyo Hapus Stigma terhadap Warga yang Kena Covid-19

SOSIALISASI: Zainuddin (dua dari kiri) didampingi Wakil Ketua RT 2, RW 3, Helmi Kurnia mengingatkan warga akan pentingnya menggunakan masker ketika keluar rumah. ADI WIJAYA/JAWA POS

Klarifikasi Berita Hoaks Lewat Speaker Masjid

Bagi warga kampung Dinoyo, Kelurahan Keputran, Kecamatan Tegalsari, ada yang lebih mengkhawatirkan daripada Covid-19. Yakni, stigma negatif dari masyarakat. Menyebarnya tidak kalah cepat. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, klarifikasi warga yang diisukan kena corona jenis baru tersebut dilakukan lewat speaker masjid.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

’’Mohon perhatian bapak, ibu, dan saudara sekalian. Kami pengurus RW ingin meluruskan kabar yang beredar di masyarakat bahwa Bu RT tidak sakit dan tidak kena Covid-19’’. Suara tersebut hampir terdengar setiap pekan di Masjid Haqqul Yaqin, Kampung Dinoyo, Kelurahan Keputran, Tegalsari. Itu merupakan salah satu cara pengurus RW setempat dalam menghapus stigma negatif terkait kasus Covid-19.

Ketua RT 2, RW 3, Lailiana Indriawati menceritakan bahwa warga sempat dilanda keresahan ketika ada enam orang yang meninggal secara bergantian pada April lalu. Padahal, mereka meninggal bukan karena Covid-19. Ada yang meninggal karena penyakit jantung.

Ada pula yang meninggal akibat stroke. Keresahan itu semakin menjadi. Ada warga yang tiba-tiba diisukan kena Covid-19. Padahal, gejala ataupun tanda-tanda penyakitnya tidak ada. Namun, warga yang bersangkutan telanjur kena stigma dan menyebar ke mana-mana. ’’Itu termasuk saya sendiri yang diisukan kena corona,’’ kata perempuan yang akrab disapa Indri itu.

Akhirnya, pengurus RW mengajukan rapid test masal di Kampung Dinoyo pada pertengahan Mei lalu. Selang sehari, petugas mendatangi kampung di bantaran Kalimas itu. Dari hasil tes, diketahui ada 35 orang yang reaktif. Mereka langsung menjalani swab. ’’Hasilnya belum keluar. Tapi, kami tidak bisa ke mana-mana lantaran stigma telanjur menyebar dan orang pada takut berinteraksi,’’ ungkapnya.

Setelah hasil swab keluar, diketahui ada beberapa orang yang positif. Indri tidak ingat jumlahnya. Yang jelas, warga yang dinyatakan positif langsung dibawa ke salah satu hotel di daerah Gubeng untuk menjalani isolasi. Ada yang dibawa ke rumah sakit karena memiliki gejala tertentu.

Untungnya, semua warga yang menjalani isolasi maupun dirawat di rumah sakit dinyatakan sembuh dan sudah sehat. Mereka pun dipulangkan. Namun, masih ada yang takut berinteraksi dengan warga yang sudah dinyatakan sehat tersebut. Pengurus RW lantas membentuk tim khusus. Ketua RW 3 Zainuddin menjadi inisiatornya.

Dia bersama timnya rutin berkeliling ke rumah-rumah warga. Sosialisasi digencarkan untuk menghapus stigma yang masih berkembang. Secara bertahap, warga memahami dan mau menerima orang yang baru pulang dari tempat isolasi ataupun rumah sakit.

Seiring berjalannya waktu, isu terkait warga yang kena Covid-19 terus bermunculan. Warga yang diisukan kena virus corona pun berbeda-beda. Hal itu membuat Zainuddin kewalahan. ’’Memang seperti ada provokatornya. Kami sampai jengah,’’ ungkapnya.

Sosialisasi terkait Covid-19 terus dijalankan. Di satu sisi, Zainuddin berinisiatif untuk memanfaatkan toa di Masjid Haqqul Yaqin yang merupakan masjid utama di Kampung Dinoyo. Warga yang diisukan kena Covid-19 diumumkan lewat pengeras suara tersebut. ’’Bahwa yang bersangkutan dalam kondisi sehat dan tidak kena Covid-19,’’ jelasnya.

Pria 44 tahun itu menuturkan, isu tersebut sempat menerpa dirinya. Ketika salat Jumat di masjid, banyak warga yang membicarakannya. ’’Saya dirasani banyak orang, katanya saya positif. Saya awalnya cuek,’’ ucapnya.

Ketika sampai di rumah, ponselnya tidak berhenti berdering. Banyak yang mempertanyakan statusnya yang diisukan kena corona. Satu per satu pertanyaan dijawab untuk menjelaskan bahwa dirinya bukan penderita. Bukan pula ODP (orang dalam pemantauan) atau PDP (pasien dalam pengawasan).

Zainuddin mengaku sempat risi dengan kabar tidak benar itu. Dia sendiri yang mengklarifikasinya. Pun lewat masjid yang menjadi salah satu tempat berkumpulnya masyarakat. Juga, melalui forum-forum kegiatan kampung yang diadakan setiap pekan.

Hingga kini, isu tersebut sejatinya masih ada. Namun, intensitasnya mulai berkurang. Satgas penanganan Covid-19 di RW 3 yang merupakan bagian dari struktur pengurus Kampung Wani Jogo Suroboyo bentukan pemkot terus bergerak melakukan sosialisasi. Berbagai poster dan spanduk berisi imbauan dipasang di gang-gang kampung. ’’Sekarang kadang diumumkan lewat toa masjid. Tapi, ada juga yang disampaikan langsung setelah salat jamaah di masjid,’’ kata Zainuddin.

Bapak yang dikaruniai enam anak itu berharap masyarakat tidak mudah menjatuhkan stigma kepada warga lain yang belum tentu terkena Covid-19. Jika memang ada warga yang terjangkit, pihak RW maupun satgas penanganan Covid-19 pasti mengumumkannya. Yang terpenting, warga harus solid dan ikut mendukung yang lain yang mungkin sedang menjalani isolasi mandiri. ’’Sosialisasi dan pengumuman lewat masjid itu tetap dijalankan sampai sekarang,’’ ucapnya.

Hidup bertetangga harus tetap terjalin erat. Tetap guyub sebagaimana sebelum pandemi. Tetap patuh protokol kesehatan. (*)

error: Content is protected !!