Upaya Pemkot Pontianak Cegah Gizi Buruk

Awasi Kantin Sekolah hingga Jajanan Pasar

Pemerintah Pontianak terus berupaya melakukan intervensi untuk mencegah gizi buruk. Diantaranya dengan melakukan pengawasan kantin sekolah hingga di pasar yang menjual jajanan sampai makanan.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

PENGAWASAN itu dilakukan untuk memastikan kandungan bahan makanan tidak mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Demikian dikatakan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono usai membuka kampanye gizi dalam Hari Gizi Nasional ke-60 di Taman Alun Kapuas, Senin (10/2).

“Pemerintah Kota Pontianak terus berupaya meningkatkan intensitas lebih tinggi dalam meliterasi warga masyarakat, baik orang dewasa hingga anak-anak. Pemahaman itu tentang pentingnya asupan gizi dalam makanan dan minuman bagi keluarga,” ujarnya.

Dalam mencegah terjadinya gizi buruk, upaya sudah dilakukan Pemkot Pontianak. Seperti pengawasan kantin sekolah sampai pengawasan jajanan pasar. Itu dilakukan guna memastikan tak ada kandungan zat berbahaya untuk makanan dan minuman yang di jual.

Selain itu, anak-anak juga harus diberikan sosialisasi betapa pentingnya kandungan gizi dalam makanan.

Edi menuturkan, asupan makanan juga harus memperhatikan kandungan gizinya. Makanan yang dimakan hendaknya tidak hanya sekadar kenyang saja. “Tetapi harus tahu juga kandungan gizi di dalam makanan,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu menyebut angka stunting balita di Kota Pontianak tahun 2019 berada di angka 17,4. Angka ini dikatakannya masih dalam range angka standar nasional maupun internasional. Namun apabila di masyarakat masih ditemukan anak dengan gizi buruk, maka pihaknya akan memberikan pelayanan untuk perawatan gizi buruk tersebut.

Menurutnya, hampir sebagian besar penderita gizi buruk bukan disebabkan kurangnya nutrisi tetapi karena adanya penyakit yang diderita, baik itu penyakit akibat infeksi maupun penyakit bawaan. “Untuk penanganannya di samping kita memberikan terapi gizi, harus juga ditangani penyakit-penyakit yang dideritanya,” ungkapnya.

Sejalan dengan tema Kampanye Gizi kali ini “Generasi Milenial Sadar Gizi” Sidiq mengatakan, generasi milenial saat ini adalah anak-anak berusia 20-30 tahun. Rentang usia itu adalah masa-masa persiapan untuk reproduksi sehingga dalam rangka menurunkan angka stunting ini merupakan saat yang cukup penting.

Apalagi, kata dia, ibu hamil dan anemia pada remaja putri masih cukup tinggi di Indonesia. Terkait anemia, pihaknya juga terus gencar melakukan sosialisasi. Sasarannya para remaja perempuan.(*)

Read Previous

Panggil Aku “King Lukaku”

Read Next

Festival CGM Tri Dharma Berakhir, Pemangkat Luar Biasa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *