Urgensi Literasi Digital Menyongsong Revolusi Industri 4.0

opini pontianak post

Oleh : Elly Leo Fara, S.Pd

ZAMAN yangmengalami perubahan semakin cepat mengharuskan para akademik untuk mengikutinya juga. Zaman yang selalu berubah hanya bisa dihadapin dan ditaklukkan oleh orang yang mengetahui zeitgeist (spirit zaman). Tentu saja hal ini harus ditangkap oleh guru/pendidik sebagai penentu kemajuan pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM). Pendongkrak peradaban dari zaman purba sampai era milenial adalah guru.

Sejak tahun 2018, tantangan bangsa ini adalah era revolusi industri 4.0. dimana era dunia industri digital telah menjadi suatu paradigma dan acuan dalam tatanan kehidupan saat ini. Untuk menghadapi revolusi industri 4.0 diperlukan literasi digital. Literasi digital harus direspon pendidikan yang bisa dimasukkan ke dalam pembelajaran.

Peran pendidikan menjadi sangat penting untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dalam rangka menyongsong revolusi industri 4.0 ini. Menghadapi revolusi industri 4.0 tidak cukup dengan kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Peserta didik selaku generasi bangsa harus memiliki kemampuan untuk menganalisa data yang terdapat di dunia digital, memahami sistem mekanika dan teknologi serta mampu menjalin komunikasi yang baik dengan sesama manusia.

Kualitas dari tenaga pendidik ikut menentukan keberhasilan Indonesia untuk menggiring peserta didik sebagai generasi muda menghadapi revolusi industri 4.0. Salah satu tugas penting para pendidik adalah menyiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan pada masa yang akan datang.

Salah satu negara yang memiliki jumlah pengguna internet di dunia yang terbesar adalah Indonesia. Berdasarkan penelitian Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Indonesia, jumlah pengguna Internet di Indonesia pada awal tahun 2015 sebesar 88.1 juta orang. Tetapi sesuai dengan penelitian wearesocial.sg pada tahun 2017 tercatat sebesar 132 juta pengguna internet di Indonesia dan jumlah ini akan tumbuh sebesar 51 persen dalam kurun waktu satu tahun

Dunia digital yang semakin berkembang akan menimbulkan dua sisi yang berlawanan, kaitannya dengan pengembangan literasi digital. Berkembanganya peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital memiliki tantangan dan peluang. Salah satu kecemasan yang datang yaitu jumlah pelajar/ peserta didik sebagai generasi muda yang mengakses internet begitu besarnya, yaitu kurang lebih 70 juta orang. Waktu mereka banyak dihabiskan hanya untuk mengakses internet, baik melalui handphone, komputer atau laptop, waktu yang digunakan hampir 5 jam per harinya. Penetrasi internet yang tinggi bagi pelajar/peserta  didik dapat meresahkan banyak pihak dan fakta menunjukkan data akses anak Indonesia pada konten yang berunsur pornografi per hari rata-rata mencapai 25 ribu orang(Republika, 2017). Selain itu perilaku berinternet mereka yang tidak sehat, hal ini dapat dilihat dengan menyebarnya informasi/ berita hoaks, ujaran kebencian dan intoleransi di media sosial. Tidak jarang konfik terjadi disebabkan perilaku berinternet yang tidak sehat. Tentu saja ini menjadi tantangan besar bagi guru selaku pendidik generasi muda yang mempunyai tanggung jawab dan peran yang sangat penting sebagai agen perubahan untuk mempersiapkan generasi abad ke-21 yang memiliki kompetensi digital pada era revolusi industri 4.0.

Setiap individu perlu memahami bahwa literasi digital merupakan kebutuhan yang penting agar dapat berpartisipa di era revolusi industri 4.0. saat ini literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung dan disiplin ilmu lainnya. Generasi yang tumbuh kembang dengan akses teknologi digital yang tidak terbatas tentu memiliki pola pikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Individu hendaknya dapat bertanggungjawab terhadap teknologi yang digunakannya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Teknologi digital di era revolusi industri 4.0 memungkinkan orang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan keluarga dan teman dalam kehidupan sehari-hari tanpa batas. Sayangnya, dunia maya saat ini semakin dipenuhi dengan konten berisi berita bohong, ujaran kebencian dan radikalisme bahkan dimanfaatkan oknum untuk melakukan praktik penipuan. Keberadaan konten negatif yang merusak ekosistem digital saat ini hanya bisa ditangkal dengan menumbuhkan kesadaran individu.

Menjadi literat digital berarti mampu memproses berbagai informasi, dapat memahami pesan dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk. Dalam hal ini, bentuk yang dimaksud termasuk menciptakan, mengolaborasi, mengomunikasikan, dan bekerja sesuai dengan aturan etika, dan memahami kapan dan bagaimana teknologi harus digunakan agar efektif untuk mencapai tujuan. Termasuk juga kesadaran dan berpikir kritis terhadap berbagai dampak positif dan negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Memacu individu untuk beralih dari konsumen informasi yang pasif menjadi produsen aktif, baik secara individu maupun sebagai bagian dari komunitas. Jika generasi muda kurang menguasai kompetensi digital, hal ini sangat berisiko bagi mereka untuk tersisih dalam persaingan memperoleh pekerjaan, partisipasi demokrasi, dan interaksi sosial.

Literasi digital akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif. Mereka tidak akan mudah termakan oleh isu yang provokatif, menjadi korban informasi hoaks, atau korban penipuan yang berbasis digital. Dengan demikian, kehidupan sosial dan budaya masyarakat akan cenderung aman dan kondusif. Membangun budaya literasi digital perlu melibatkan peran aktif masyarakat secara bersama-sama. Keberhasilan membangun literasi digital merupakan salah satu indikator pencapaian dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Literasi digital sekolah di era revolusi industri 4.0 harus dikembangkan sebagai mekanisme pembelajaran terintegrasi dalam kurikulum atau setidaknya terkoneksi dengan sistem belajar mengajar. Siswa perlu ditingkatkan keterampilannya, guru perlu ditingkatkan pengetahuan dan kreativitasnya dalam proses pengajaran literasi digital, dan kepala sekolah perlu memfasilitasi guru atau tenaga kependidikan dalam mengembangkan budaya literasi digital sekolah.

Basis Kelas; a) Meningkatnya jumlah pelatihan literasi digital yang diikuti kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan, b) Meningkatnya intensitas penerapan dan pemanfaatan literasi digital dalam kegiatan pembelajaran, c) Meningkatnya pemahaman kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam menggunakan media digital dan internet.

Basis BudayaSekolah; a) Jumlah dan variasi bahan bacaan dan alat peraga berbasis digital, b) peminjaman buku bertema digital, c) Jumlah kegiatan di sekolah yang memanfaatkan teknologi dan informasi, d) Jumlah penyajian informasi sekolah dengan menggunakan media digital atau situs laman, e) Jumlah kebijakan sekolah tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dan komunikasi di lingkungan sekolah, d) Tingkat pemanfaatan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi dan komunikasi dalam hal layanan sekolah (misalnya, rapor-e, pengelolaan keuangan, dapodik, pemanfaatan data siswa, profil sekolah, dsb.).

Basis Masyarakat; a) Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi digital di sekolah, b) Tingkat keterlibatan orang tua, komunitas, dan lembaga dalam pengembangan literasi digital.

Literasi digital sekolah harus dikembangkan sebagai mekanisme pembelajaran terintegrasi dalam kurikulum atau setidaknya terkoneksi dengan sistem belajar mengajar. Siswa perlu ditingkatkan keterampilannya, guru perlu ditingkatkan pengetahuan dan kreativitasnya dalam proses pengajaran literasi digital, dan kepala sekolah perlu memfasilitasi guru atau tenaga kependidikan dalam mengembangkan budaya literasi digital sekolah.

Pengembangan literasi digital dapat dilakukan di ranah sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan literasi digital sekolah, siswa, guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah diharapkan memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, serta menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, dan jaringannya. Dengan kemampuan tersebut mereka dapat membuat informasi baru dan menyebarkannya secara bijak. Selain mampu menguasai dasar-dasar komputer, internet, program-program produktif, serta keamanan dan kerahasiaan sebuah aplikasi, peserta didik juga diharapkan memiliki gaya hidup digital sehingga semua aktivitas kesehariannya tidak terlepas dari pola pikir dan perilaku masyarakat digital yang serba efektif dan efisien.

(Penulis adalah Guru BK SMAN 5 Pontianak dan Mahasiswa Magister TeP FKIP Untan).

Read Previous

Investasi Ilegal Semakin Mengancam

Read Next

Himpun Para Pelaku Industri Event, DPD Ivendo Kalbar Dilantik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *