Ushul dan Hikmah Jamarat

Beberapa ritualitas syariat haji tak lepas dari sosok Nabi Ibrahim as. Di antarnya yang paling langsung adalah wajib haji melempar jumroh. Ada jumroh aqabah, wusthaa, dan ûlâ. Semua penjelasan pada penyampain-panyampaian hikmah amaliah atau ibadah, melontar jumroh merupakan simbol melempar setan. Bisa dibayangkan jika ritual melempar jumrah ini dipahami secara syariat mentah, berarti di tiang-tiang jamarat itu merupakan perkampungan atau tempat berkumpulnya setan. Itu artinya sama dengan kita menyebut setan itu sebagai wujud sosok atau bahkan subyek. Apa sebenarnya ushul asal disyariatkannya melontar jumrah dalam ritual haji ini?

Bermula dari Ibrahim as mendapat perintah dalam mimpinya untuk menyembelih putranya (Ismail) yang diperolehnya di usia tua dari seorang istrinya Siti Hajar. “Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Qs. al-Shaaffaat/37:102).

Bagi Ibrahim, dan bagi semua orang tentu perintah semacam ini sangat berat untuk dilakukan. Pasti ini merupkan ujian yang sangat berat. Begitupun Allah mengungkapkannya “inna hâdzâ lahuwa al-balâu al-mubîn —- sesungguhnya ini sungguh ujian yang nyata” (Qs. al-Shaaffaat/37:106). Selain Ibrahim as, pasti tidak ada yang bisa melaksanakan perintah ini. Sungguh sangat berat. Namun bagi seorang nabi, oleh karena keimanannya yang telah diistimewakan, seberat apapun perintah Tuhan tetap dilakukannya. Ibrahim as adalah sosok yang tunduk kepada Tuhannya. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam” (Qs. al-Baqarah/2:131).

Ternyata mimpi itu tidak sekali datang langsung dieksekusi oleh Ibrahim as. Ternyata Ibrahim juga jadi korban bisikan di dalam dada “alladzii yuwaswisu fii shuduurin naasi” seperti Adam as. Padahal Ibrahim as telah membuktikan nyatanya Tuhan dan kekuasaan-Nya dihadapannya. Seperti diceritakan dalam teks Alquran di surah yang lain: “Dan ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(Qs. al-Baqarah/2:260).

Dalam kajian hikmah dikabarkan bahwa Ibrahim as tidak sekali mendapat perintah dalam mimpinya. Setiap mendapat mimpi setiap itu pula Ibrahim as mendapat bisikan ragu dalam dadanya, dan itu bisikan setan. Secara wujud, keraguan itu sendiri adalah setan. Yang dilaksanakan penyembelihan itu setelah dialog dengan Ismail as putranya itu adalah mimpi yang ketiga kalinya.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya)” (Qs. al-Shaaffaat/37:103). Saat sudah seperti ini pun tetap setan menggoda supaya Ibrahim as tidak menyembelih putranya. Maka Ibrahim as mengambil batu dan melemparkannya ke arah depannya seraya menghadap qiblat. Inilah USHÛL JUMRAH AQABAH.

Jumrah ‘aqabah merupakan ritual jejak Ibrahim as dalam rangka menegaskan keyakinannya bahwa menyembelih putranya itu benar perintah Allah dan menyingkirkan gangguan setan di hatinya. Begitupun jumrah wusthâ disyariatkan ritualnya oleh karena ternyata ibu Ismail pun Siti Hajar juga mendapat bisikan setan di hatinya. Kepada Siti Hajar dibisikkan “Bukankah anak itu kau dapat setelah Bapak sudah berumur? Bukankah dia anakmu itu sedang indah-indahnya dipandang mata? Mengapa harus kau biarkan Ibrahim suamimu menyembelihnya?

Begitu pun Siti Hajar melempar setan dengan batu seraya menghadap qiblat dan berhasil menghalau setan dan memenangkan hatinya untuk menguatkan keimanan sang suami. Inilah USHÛL JUMRAH WUSTHÂ.
Ternyata pun Ismail sang putra Ibrahim as Bapak para Nabi itu tidak luput dari bisikan yang bernama setan itu. Tetapi Ismail kecil telah mendapat kokohnya keimanan, sehingga setan pun dilemparnya dengan batu seraya menghadap qiblat. Ismail berkata kepada Ayahnya “Tutup matamu Ayah, baringkan aku dibatu ini, mari kita sama-sama ber-QIBLAT, lakukanlah perintah Tuhanmu”. Ismail menguatkan Ayahnya, dan berhasil menghalau setan di hatinya. Inilah USHÛL JUMRAH ÛLÂ disyariatkan.

Ketiga subyek udlhiyah ini berhasil menghalau setan di hati, dan tetap hati mereka dalam pendirian yang lurus (hanîf) kepada Tuhan mereka, berpendirian hati atau beragama senantiasa tertaut kepada Tuhan mereka. Maka Allah pun membalasnya dengan kebahagian. “Qad shaddaqta al-ru’ya innâ kadzâlika najzî al-muhsinîn —sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (Qs. al-shâffât/37:105). Bentuk balasan itu bahwa Sang Anak pujaan hati di selamatkan oleh Allah. Wafadainâhu bidzabhin ‘azhîn —Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”(Qs. al-Shâffât/37:107). Inilah USHUL syariat udlhiyah atau menyembelih hewan qurban pada setiap rangkaian ‘idul al-Adlhâ.

Untuk memperoleh hikmah atau sesuatu yang bermanfaat, maka kita harus menyediakan perhatian serius untuk memahami substansi makna dari ritual jumroh ‘aqabah, wusthâ dan ûlâ ini adalah tentang bacaan yang mengiringi ritual ini, yaitu “bismillâhi Allâhu Akbar rajman li al-syayâthîn — Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, pukulan bagi setan-setan”.

Dengan bacaan ini nyatalah bahwa bukan batu yang kita lontarkan itu yang menjadi pukulan bagi setan. Dalam kajian ilmu hikmah berbasis Wujud bahwa pertemuan BISMILLÂH dengan ALLAHU AKBAR itulah sebagai pukulan bagi setan. Artinya karena Bismillah bertemu Allahu Akbar itu maka setan terpukul dan tak berdaya. Jika kajian ini hanya berhenti pada bacaan, maka tidak akan dapat substansi makna yang riil. Itu sebabnya izinkan saya untuk melanjutkan uraian ini dengan berbasis WUJUD.

Bismillâh — Yang Dengan Nama Allah, ialah wujud yang datang dari pada Allah. Yang pada Allah ialah nama Allah. Yang satu nama Dia Dengan Allah Ahmad satu nama lain Alhamdu, Wujudnya adalah Nûrun ‘Alâ Nûrin. Bismillah adalah Ruh, adalah diri kita. Dalam Qs. al-Syûrâ/42:52 dijelaskan bahwa Ruh adala cahaya. Ruh inilah yang asal kejadiannya adalah Nûrun ‘alâ Nûrin. Disebutlah Ruh ini sebagai Wujud Yang Datang dari pada Allah. Sedangkan Allâhu Akbar itu adalah Wujud Yang Maha Besar (Akbar) itu yang disapa Allâh, (baca Syarif: “Ushul dan Hikmah Wukuf di ‘Arafah”). Jadi bismillâh itu hamba bertemu si Akbar sebagai Tuhan, itulah pukulan bagi setan. Jika hamba datang bertemu Tuhannya secara hakikat (baca Syarif: “Ushul dan Hikmah Thawaf”) maka hati hamba itu diintervensi oleh Tuhannya, Allah Swt, terpukulah setan tak berdaya menggoda hati sang hamba, maka hati hamba tersebut menjadi baik. Dengan syarat sang hamba datang kepada Tuhannya secara hakikat di tempat yang telah ditetapkan sebagai tempat berhubungan atau tempat pertemuan (Qs. Al-Baqarah/2:125, al-A’raf/:43, al-Hajj/22:32-33, al-Balad/90:1-3). Inilah hikmah besar dari syariat wajib haji yaitu melontar jumroh.

Dalam beberapa riwayat disampaikan bahwa pada setiap selesai melempar jumrah dianjurkan berdoa dan doa diijabah oleh Allah. Maka setelah jumrah ‘aqabah berdoalah semua tentang kita sebagai laki-laki atau sebagai kepala keluarga, sebagai suami, sebagai ayah dari anak-anak kita, sebagai bagian dari bangsa, sebagai pendidik, dan seterusnya. Karena syariat jumrah ‘aqabah sebagai jejak Ibrahim as bebas dari bisikan setan. Lalu setelah melempar jumrah wusthâ berdoalah tentang istri kita. Doakan semuanya yang kita hajatkan dan harapkan dari istri kita.

Karena syariat jumrah wusthâ merupakan jejak dari Siti Hajar sebagai istri dan sebagai seorang ibu berhasil dan bebas dari bisikan setan di hatinya. Kemudian yang terakhir, setelah melontar jumrah ûlâ, berdolah kita tentang semua yang kita hajatkan dan harapkan dari anak-anak kita. Karena syariat jumrah ûlâ ini merupakan jejak dari sosok Ismail as yang juga berhasil membebaskan dirinya dari bisikan setan di hatinya. Tentu doa yang paling ideal bahwa kita ingin anak-anak kita seperti Ismail as yang beriman dan meneguhkan keimanan orang tuanya.

Dalam kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara, tentu hikmah besar yang harus kita realisasikan setelah berikhtiar memohon intervensi Tuhan supaya hati ini jadi baik, ialah kita harus mewujudkan karakter rela berkorban dalam perjuangan. Tentu pada sektor dan lingkup tanggung jawab tugas dan fungsi kita masing-masing. Ternyata sifat kikir yang melahirkan sifat tamak-loba adalah sifat yang paling diimami oleh setan. Jika setelah melakukan syariat jamarat kita masih kikir dan tamak-loba, artinya kita sedang hampa dari Hikmah Jamarat. Boleh juga sifat kedermawanan itu tidak harus berupa harta-benda, walau itu mesti, tapi bisa berupa kaya solusi dalam berpartisipasi menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Juga bisa berupa yang lain, yang intinya mencerminkam bahwa hati kita itu telah mendapat intervensi Tuhan menjadi baik dan cenderung berbuat dan mewujudkan yang baik-baik.

SELAMAT ‘ADLHA 1440 H
Mina, 12-Dzulhijjah (12)-1440 H

Syarif Satimen

Penulis adalah Rektor IAIN Pontianak.

Read Previous

Tidak Tinggal di Tenda, Pilih Bermalam di Mina

Read Next

Atap Terbang Seperti Layangan

Tinggalkan Balasan

Most Popular