Usir Jenuh di Rumah

Mewabahnya virus corona atau covid-19 berdampak pada interaksi sosial. Setiap orang membatasi diri untuk bertemu orang lain dan harus tetap berada di rumah. Melakukan semua aktivitas di rumah setiap hari pasti menimbulkan rasa bosan. Tak hanya orang tua, anak-anak juga merasa jenuh.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Pasti bosan lebih dari dua pekan bekerja ataupun belajar di rumah. Seperti dirasakan Anna. Siswi kelas VIII SMP swasta ini kelelahan mengerjakan tugas yang diberikan pihak sekolah. Tugas yang dikerjakan seakan tidak pernah habis untuk diselesaikan.

“Ditambah lagi harus memahami materi lainnya. Benar-benar sangat menguras otak,” ungkapnya.
Sang ibu berusaha membangkitkan mood Anna. Salah satunya dengan membuat camilan favorit putrinya.

“Hanya itu yang bisa saya lakukan, karena pelajaran anak saat ini juga tergolong sulit. Beda dengan zaman saya saat itu,” kata Vina.

Psikolog Endah Fitriani, M.Psi mengatakan mewabahnya virus Covid-19 saat ini memang tidak memungkinkan siapapun untuk melakukan aktivitas di luar rumah, termasuk anak-anak. Aktivitas belajar di rumah menjadi langkah yang tepat agar anak-anak terhindar dari virus yang telah merenggut ratusan nyawa ini.

Sebagian anak-anak merasa senang dengan kondisi ini. Mereka tidak perlu bangun pagi untuk siap-siap bersekolah. Namun, di sisi lain banyak tugas yang diberikan guru.

“Tujuan pemberian tugas dan materi ini sebenarnya baik agar anak tidak ketinggalan pelajaran saat masuk sekolah,” kata Endah.

Menurut Endah, anak berusia TK dan sekolah dasar bisa saja belum memahami secara jelas tentang wabah Covid-19. Tak jarang mereka meminta diajak jalan-jalan saat merasa jenuh dan bosan.

“Orang tua harus memberikan pemahaman agar anak bisa mengetahui situasi seperti apa yang sedang terjadi. Tidak hanya sebatas bicara, tapi juga bisa diperlihatkan agar anak mengerti,” ungkap Endah.

Berbeda dengan remaja, sudah bisa memahami situasi yang terjadi melalui berita di televisi, radio, media cetak, maupun media sosial.

Endah tak memungkiri memasuki pekan ketiga beraktivitas di rumah pasti bosan. Sebab, tak ada aktivitas lain selain menyelesaikan tugas dan memahami materi dari guru. Tidak seperti saat berada di sekolah, anak-anak bisa melakukan aktivitas lain, termasuk menjalankan kegiatan ekstrakulikuler.

Situasi ini perlu menjadi perhatian para orang tua. Baik ayah atau ibu tidak bisa membiarkan buah hatinya hanya terfokus pada tugas sekolah selama di rumah. Setelah anak menyelesaikan proses belajar, orang tua harus bisa menghadirkan suasana yang menyenangkan untuk membantu menghilangkan rasa jenuh dan bosan setelah belajar.

Banyak hal yang dapat orang tua lakukan untuk menghindarkan anak dari aktivitas monotonnya. Misalnya, mengajak anak membersihkan rumah, memasak makanan atau cemilan kesukaannya, mengelola taman belakang atau depan rumah menjadi kebun, menonton film dari channel telvisi atau Internet, melukis atau relaksasi (melalukan olahraga bersama).

“Aktivitas ini sedikit banyaknya akan membuat anak merasa tenang (relaks) sejenak. Intinya, di masa-masa ini orang tua dituntut untuk kreatif,” tuturnya.

Orang tua juga bisa mengajak anak untuk membuat jadwal harian untuk mengisi waktu setelah  mengerjakan tugas dan memahami materi.

“Dalam prosesnya, orang tua dilarang memaksakan hanya boleh mengarahkan saja. Adanya diskusi juga membuat anak memiliki rasa tanggung jawab untuk menjalankan aktivitas setiap harinya,” jelasnya.

Endah menambahkan mungkin sosok ibu menjadi lebih dominan dalam situasi tersebut. Namun, ayah tetap harus mengontrol dan memberi perhatian.

“Meski hanya sekarar menanyakan bagaimana proses belajar hari ini dan kegiatan apa saja yang dilakukan. Perhatian kecil juga dapat membuat anak merasa nyaman,” tutup Endah. **

loading...