Ustadz Miftah Terkenang Almarhum Syekh Ali Jaber

Ustad Miftah

PONTIANAK–Indonesia dan Kalimantan Barat berduka. Orang tua sekaligus guru umat muslim, Syekh Ali Jaber meninggal dunia Kamis (14/1). Kabar duka Syekh Ali Jaber menghadap  Allah SWT disampaikan melalui akun Instagram yayasan Syekh Ali Jaber, @yayasan.syekhalijaber.

“Telah Wafat Guru kita, SYEKH ALI JABER (Ali Saleh Mohammed Ali Jaber),” tulis Habib Abdurrahman Alhabsyi selaku Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber.

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Miftah pendakwah sekaligus anggota DPRD Kalimantan Barat dari Dapil Ketapang-Kayong Utara mengatakan pernah satu jemaah dengan almarhum, Syekh Ali Jaber di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. “Waktu itu sebelum Pandemi Covid-19 datang, masih di tahun 2020. Saya menghadiri kegiatan pengajian sekaligus ceramah
almarhum. Saya juga ikut berbincang-bincang dengan beliau,” ungkap Miftah di Pontianak.

Menurut Ustadz Miftah, sosok almarhum berpengalaman, tawaduk, rendah hati, lemah lembut dan penyayang. Dari segi kederwamanan almarhum tidak perlu diragukan lagi.

“Bakalan susah mencari sosok ulama seperti almarhum Syekh Ali Jaber. Telah hilang satu ilmu yang selama beliau hidup terus dibagi-bagikannya kepada umat muslim,” ucapnya.

Politisi PPP Kalimantan Barat ini bahwa sosok amanah ini memiliki salah satu ciri kkhas tidak akan tergantikan. Kemana-mana selalu dekat dengan alquran sebagai pedoman hidupnya.

“Almarhum adalah Hafizd terbaik dan ahli tafsir alquran. Ibaratnya permata ilmu bagi umat Islam di Indonesia dan Kalimantan Barat,” ujarnya.

Miftah kemudian menyebutkan bunyi salah satu hadist, yakni Ayyub Rahimahullah pernah berkata ,

إني أُخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي

“Sesungguhnya aku diberitakan mengenai wafatnya seorang ahlus sunnah, seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku”

 

Dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ
ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah  mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.

Miftah menyebutkan wafatnya ulama, Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sangat giat, belajar, berdakwah dan memberikan pencerahan banyak kepada umat muslim jelas merupakan kehilangan besar. Almarhum dikenal sebagai pemilik suara merdu. Setiap lantutnan ayat yang diperdengarkan, hati akan merasakan keteagan jiwa.

“Sosok yang tidak akan tergantikan. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Selamat jalan guru dan orang tua kami,” katanya.(den)

error: Content is protected !!