Usus Besar Terganggu, Tinja Terjebak di Dalam Usus

HIRSCHSPRUNG: Sebastian yang dinyatakan menderita Hirschsprung, yang membuatnya kesulitan buang air besar. ISTIMEWA

Sebastian, Warga Nanga Merakai Menderita Penyakit Hirschsprung

Sejak lahir sebastian mengalami kesulitan buang air besar (BAB). Kini, Sebastian masih merasakan keluhan, bahkan perut sering kembung dan berat badan turun.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

PENYAKIT Hirschsprung merupakan gangguan pada usus besar yang menyebabkan feses atau tinja terjebak di dalam usus. Penyakit bawaan lahir yang tergolong langka ini bisa mengakibatkan bayi tidak buang air besar (BAB) sejak dilahirkan. Hal inilah yang dirasakan Sebastian.

Ayah Sebastian, Bambang bercerita saat usia 17 hari, Sebastian mendapatkan tindakan operasi kolostomi yakni tindakan pembuatan lubang di bagian perut sebagai saluran pembuangan kotoran atau feses.

“Setelah setahun lebih, dilakukan operasi penutupan lubang,” ucapnya. Pascaoperasi penutupan lubang, Sebastian kembali merasakan keluhan susahnya BAB. Perutnya sering mengalami kembung, bahkan ini berpengaruh pada berat badan Sebastian

Bambang mengatakan, menurut dokter sebastian mengalami penyakit Hirschsprung. Penyakit ini terjadi karena kelainan saraf yang mengontrol pergerakan usus besar. Hal ini menyebabkan usus besar tidak dapat mendorong feses keluar, sehingga menumpuk di usus besar dan bayi tidak bisa BAB.

Warga Dusun Mungguk Payan Desa Mungguk Gelombang Kecamatan Ketungau Tengah, Nanga Merakai Kabupaten Sintang, ini mengatakan akibat penyakit itu, Sebastian mengalami berbagai keluhan. Mulai dari mudah merasa lelah, perut kembung dan kelihatan buncit. “Dia jni aktif sekali mainnya. Tapi kalau sudah lelah itu yang saya khawatirkan. Lebih banyak diam, mandang orang juga ndak mau,” tuturnya.

Sebastian juga mengalami sembelit yang terjadi dalam jangka panjang, kehilangan nafsu makan, berat badan tidak bertambah, tumbuh kembang terganggu. ” Berat badan anak saya ini masih kurang. Harusnya diusia dia 14 kilogram, tapi ini hanya sepuluh kilogram,” ucap pria 36 tahun ini.

Memenuhi kebutuhan gizi anaknya, Bambang memberikan susu. Namun, sebagai petani, yang tinggal jauh dari kota merasa kesulitan. Bahkan untuk berobat pun, ia harus merogoh biaya transportasi yang tidak sedikit. “Kebutuhan dia cukup besar. Selama di Pontianak, susunya saja mau tiga jutaan,” ungkapnya.

Menurut dokter, Sebastian harus dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk mengatasi keluhan yang dirasakan pascaoperasi penutupan kolostomi. “Kata dokter keluhannya bisa sampai usia 17, 18 tahun. Harus di rujuk ke RSCM,” Katanya.

Suami dari Bibiana ini berhatarap, anaknya mendapatkan perawatan dan bisa lancar BAB-nya. Dia berharap bantuan dari masyarakat untuk biaya berobat anaknya. “Iya saya membutuhkan bantuan, agar anak saya ini bisa sembuh,” jelasnya.

Demi sang buah hati, Bambang rela mencongkel feses di lubang anus anaknya. “Saya sampai mencongkel pake jari kelingking saya, itu juga terasa sempitnya,” ungkap dia.(*)

error: Content is protected !!