Vaksinasi Covid-19 untuk Penderita Jantung

ILUSTRASI/THE CANADIAN PRESS/Nathan Denette

Penderita penyakit jantung termasuk kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi serius dari Covid-19 sehingga perlu mendapatkan vaksin. Namun tidak seperti orang sehat pada umumnya, penderita penyakit jantung harus benar-benar dalam kondisi stabil. Lantas bagaimana kondisi stabil yang dimaksud?

Oleh : Siti Sulbiyah

Vaksinasi menjadi salah satu upaya untuk mencegah timbulnya gejala berat hingga kematian akibat infeksi virus corona. Pasien penyakit jantung atau kardiovaskular termasuk kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi serius apabila terserang virus tersebut. Oleh karena itu, pasien penyakit jantung perlu segera mendapatkan vaksin Covid-19.

Hal tersebut dipaparkan oleh Dr. Bambang Widyantoro SpJP(K) FIHA, PhD selaku Ketua Satgas Vaksinasi Covid-19 Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) saat kegiatan Talkshow Vaksinasi Covid-19 pada Penyakit Jantung yang ditayangkan secara langsung di kanal Youtube InaHeart News TV, Rabu (29/9).

Dr. Bambang Widyantoro SpJP(K) FIHA, PhD

“Sudah banyak pasien yang kami temui yang sudah melakukan vaksinasi. Tetapi masih ada yang bingung apakah pemberian vaksinasi ini cukup aman apa tidak,” ucapnya.

Bambang menilai masih banyak masyarakat yang kebingungan tentang keamanan dan efektifitas vaksinasi bagi penderita penyakit jantung. Padahal, vaksinasi menjadi salah satu upaya untuk mencegah timbulnya komplikasi serius akibat terpapar Covid-19.

“Pasien penderita penyakit jantung dan pembuluh darah yang belum sempat vaksin namun terpapar Covid-19, maka penanganannya memerlukan perawatan di rumah sakit. Bahkan, sekitar 30 persen membutuhkan perawatan level intensif. Pasien ini rentan mengalami gejala berat Covid-19,” paparnya.

Namun, tidak seperti orang sehat pada umumnya, vaksinasi penderita penyakit jantung hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu. Berdasarkan rekomendasi PERKI ada beberapa kondisi yang memungkinkan penderita penyakit jantung  diberikan vaksin. Bambang menyebutkan pemberian vaksin dapat dilakukan setelah 2 minggu hingga 4 minggu melewati fase akut.

“Pasien kardiovaskular yang sempat mengalami kejadian akut dan telah mendapatkan tata laksana yang optimal hingga telah pulih, boleh mendapat vaksin setelah 2-4 minggu fase akutnya terlewati,” jelasnya.

Lebih jauh dia memaparkan, kejadian akut yang dimaksud di antaranya adalah serangan jantung atau sindrom koroner akut, gagal jantung akut, dan gangguan arus listrik jantung atau aritmia tidak stabil. Selain itu, kejadian akut lainnya adalah ketika pasien membutuhkan konsultasi atau bahkan perlu dirawat di rumah sakit.

Ada pula kondisi pasien yang menjalani prosedur revaskularisasi elektif atau tindakan di bidang jantung dan pembuluh darah, baik itu pemasangan PCI (percutaneous coronary intervention) ataupun pasien yang telah menjalani  operasi bypass atau operasi katup. Kondisi lainnya yakni prosedur bidang aritmia seperti misalnya ablasi ataupun pemasangan alat pacu jantung. Apabila prosedur revaskularisasi elektif tanpa penyulit, prosedur di bidang aritmia tanpa penyulit dan prosedur kardiovaskular elektif lainnya menunjukkan kondisi stabil, maka pasien dapat diberikan vaksin.

“Nah jika pasien stabil, tidak ada penyulit setelah adanya tindakan dalam rentang 1-2 minggu, maka itu sudah aman diberikan vaksin,” katanya.

Bagaimana dengan pasien hipertensi? Bambang mengatakan, penderita hipertensi dapat diberikan vaksin selama tidak ada gejala dan tekanan darah terkontrol stabil. Sesuai rekomendasi PERKI, pada penderita hipertensi idealnya memiliki tekanan darah terkendali yaitu <140/90, namun tetap dapat menerima vaksin bila tekanan darah sebelum vaksin <180/110 dengan kondisi stabil. Kondisi stabil yang dimaksud yaitu tidak ada sesak napas, angina atau nyeri dada, mudah lelah, keterbatasan aktivitas fisik ringan, berdebar, kaki bengkak, serta penurunan kesadaran.

“Ada orang yang kondisinya untuk aktivitas ringan di rumah seperti mandi sendiri, makan sendiri, tetapi sudah terasa sesak. Nah apabila itu terjadi, maka kondisi itu tidak masuk dalam kondisi yang stabil,” pungkasnya.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!