Vaksinasi Gelombang Kedua: Pedagang, Guru, dan Lansia

VAKSINASI: Petugas melakukan vaksinasi covid-19 dosis pertama untuk tenaga kesehatan di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Vaksinasi Covid-19 gelombang pertama yang ditujukan bagi tenaga kesehatan (nakes) hampir tuntas. Rencananya, besok (17/2) pemerintah memulai penyuntikan vaksin gelombang kedua. Yang mengawali adalah pedagang Pasar Tanah Abang.

Selain itu, pada vaksinasi tahap kedua, mereka yang berusia 60 tahun ke atas atau lansia mulai menerima vaksin.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan dr Maxi Rein Rondonuwu menuturkan, pelaksanaan vaksinasi kepada pedagang Pasar Tanah Abang diprediksi akan berlangsung enam hari. Jika sukses, pilot project itu akan dilanjutkan ke seluruh pedagang pasar di Indonesia. ’’Kami minta pemda segera menghabiskan vaksin bagi nakes sebelum mengirim vaksin untuk batch berikutnya,’’ katanya kemarin (15/2).

Maxi memaparkan, vaksinasi gelombang pertama yang ditujukan bagi 1,4 juta nakes hampir selesai. Sebanyak 73,47 persen nakes mendapat vaksinasi dosis pertama (selengkapnya lihat grafis). Sementara itu, yang mendapatkan dosis kedua sudah 29,85 persen.

’’Melihat keberhasilan vaksinasi nakes yang lebih cepat dan untuk memperluas vaksinasi demi tujuan herd immunity, pemerintah akan mulai memberikan vaksin kepada petugas pelayanan publik serta kelompok masyarakat usia lanjut,’’ jelas Maxi.

Sejauh ini, kata dia, tidak ada kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) secara serius setelah vaksinasi gelombang pertama. Kemenkes juga telah melaksanakan vaksinasi kepada nakes yang berusia lebih dari 60 tahun dan tidak ada kejadian perburukan. ’’Terbukti, vaksinasi lebih besar manfaatnya daripada risikonya,’’ ujar Maxi.

Dia lantas menjelaskan alasan lansia patut mendapatkan vaksin Covid-19. Sejauh ini, kelompok usia tersebut rawan terpapar virus SARS-CoV-2. Angka kesakitan dan kematian akibat virus korona baru tinggi dan terbanyak adalah lansia.

Nah, vaksinasi menjadi strategi untuk mengurangi laju persebaran virus. Juga mengurangi beban rumah sakit. ’’(Vaksinasi gelombang II) mulai Februari dan akan selesai pada Mei,’’ ucapnya.

Sasaran vaksinasi gelombang kedua mencapai 38,51 juta orang. Sebanyak 16,9 juta orang di antaranya merupakan petugas publik. Selebihnya nakes dan lansia. Meski jumlah sasaran lebih dari dua kali lipat gelombang pertama, pihaknya optimistis vaksinasi dapat rampung sesuai jadwal.

Sejauh ini, pemerintah memiliki 7,5 juta dosis vaksin. Lalu, pada Maret akan ditambah 11 juta dosis. Sebanyak 70 persen akan didistribusikan di Jawa dan Bali. Ada tujuh provinsi yang menjadi prioritas. ’’Jawa-Bali terbanyak yang positif,’’ ungkapnya.

Alokasi vaksin untuk Jawa dan Bali bakal didistribusikan sesuai prioritas. Sebanyak 20 persen lansia di tujuh provinsi di Jawa-Bali akan mendapatkan vaksin. Pelaksanaannya di ibu kota provinsi. Selanjutnya, alokasi untuk pedagang pasar sebanyak 60 persen. Guru juga mendapatkan prioritas.

’’Besarnya target membuat pemerintah harus melakukan vaksinasi secara bertahap. Mulai 7 provinsi di Jawa-Bali dan merupakan zona merah. 30 persen sisanya akan dibagikan ke provinsi lain,’’ paparnya.

Maxi menegaskan, keseluruhan proses vaksinasi berjalan bersamaan. Tidak dikelompokkan sesuai profesi. Kesiapan cold chain atau rantai dingin, kata dia, sudah cukup. Sebab, pemberian vaksin ke daerah dilakukan bertahap. Rantai dingin sangat berperan dalam menyukseskan vaksinasi. ’’Kami bekerja sama dengan swasta, dikoordinasi oleh PT Bio Farma,’’ tuturnya. Jika pada tahap pertama pengawasan Bio Farma hanya sampai provinsi, pada tahap kedua nanti akan sampai fasilitas kesehatan (faskes).

Terkait pendaftaran, setiap institusi dapat mendaftarkan penerima vaksin secara online melalui aplikasi P-Care. Sementara itu, data lansia akan dibantu dinas kependudukan dan pencatatan sipil (dispendukcapil) dan BPJS Kesehatan. Peserta vaksinasi juga bisa mendaftar secara manual di institusi atau faskes terdekat.

Vaksinasi tahap kedua akan dilakukan dengan empat cara. Pertama, vaksinasi dilakukan di faskes pemerintah atau swasta yang mencapai 13 ribu faskes. Kedua, melalui institusi yang menaungi. Maxi mencontohkan TNI atau Polri yang akan divaksin di rumah sakit milik instansi. Ketiga, vaksinasi masal. ’’Selama ini sangat efektif,’’ katanya. Keempat, vaksinasi masal bergerak yang mendatangi sasaran tertentu. Contohnya, pasar.

Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara Kemenkes terkait Vaksin Covid-19 Siti Nadia Tarmizi menyatakan perubahan skrining penerima vaksin. Itu terkait dengan terbitnya Surat Edaran No HK.02.02/4/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.

’’Kami mengimbau nakes yang pada gelombang pertama tidak mendapatkan vaksin dikarenakan kondisi tertentu segera mendatangi faskes guna mendapatkan vaksinasi,’’ terang Nadia.

Perubahan itu menyangkut pada sasaran vaksinasi. Usia lansia sudah mendapatkan izin vaksinasi Covid-19. Selanjutnya, yang memiliki tekanan darah yang kurang dari 180/110 juga boleh diberikan. Penyintas Covid-19 yang sudah tiga bulan negatif dapat diberi vaksin.

Untuk pemilik penyakit kronik yang sudah terkendali, vaksinasi bisa diberikan dengan membawa surat layak diberikan vaksinasi oleh dokter yang merawatnya. ’’Untuk ibu hamil, masih ditunda vaksinasinya. Ibu sudah melahirkan atau menyusui boleh,’’ paparnya. Sementara itu, mereka yang memiliki alergi harus diawasi oleh fasilitas kesehatan.

Editor : Ilham Safutra/Jawa Pos

Reporter : lyn/c18/fal

error: Content is protected !!