Vandille Al Rasyid; Gelisah Bencana Karhutla

KLIP: Vandille Al Rasyid saat proses penggarapan video klip Borneo Terbakar di Jalan Sepakat II, Pontianak Selatan. ISTIMEWA 

Musim Kemarau Menjadi Sesuatu yang Menakutkan

“Di sana api dan asap mengepal, Di sini kabut pun kian menebal, Berhektar lahan dan hutan terbakar, Korbankan alam dan rakyat sekitar..” begitulah penggalan lirik lagu Borneo Terbakar. Single lagu ciptaan Vandille Al Rasyid ini menggambarkan tentang kerusakan lingkungan akibat bencana kebakaran hutan dan lahan. 

ARIEF NUGROHO, Pontianak

DENGAN setingan latar sebuah lahan di Jalan Sepakat II Pontianak Selatan, pemuda yang akrab disapa Var bersama tim menggarap video klip Borneo Terbakar.

Single lagu bertemakan lingkungan ini tercetus dari kegelisahannya tentang bencana kabut asap dan kebakaran hutan di Kalimantan Barat yang terjadi hampir setiap tahunnya.

“Lagu ini menceritakan kegelisahan saya akan bencana kebakaran hutan dan lahan setiap tahun yang terus berulang,” kata pria yang akrab disapa Var ini kepada Pontianak Post, kemarin.

Untuk pengerjaannya sendiri setidaknya membutuhkan waktu satu bulan, mulai dari menulis lirik lagu hingga proses pembuatan video klip.

“Sebenarnya penggarapan single ini sudah tahun lalu (2018), tapi baru diluncurkan Agustus 2019 ini,” katanya.
Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Barat sudah menjadi bencana tahunan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat, tetapi juga kerusakan lingkungan itu sendiri.

Melalui single lagu berjudul Borneo Terbakar ini, ia mengajak untuk sadar dan berkesadaran bersama, menjaga lingkungan, sehingga tidak ada lagi bencana kebakaran hutan yang terus terulang setiap tahun.

Rusaknya ekosistem hari ini akan berdampak pada generasi mendatang. “Misalnya hutan sudah tidak ada, hewan-hewan yang dulunya pernah ada, mati. Hari ini saja sudah hilang apalagi nanti. Alamnya dirusak, hewannya punah,” katanya.
Menurutnya, musim kemarau menjadi sesuatu yang menakutkan. Karena bisa dipastikan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan akan terulang.

Selain menciptakan lagu Borneo Terbakar, Var juga pernah menciptakan beberapa lagu lainnya, diantaranya “Cukup Indonesia” yang bercerita tentang kekayaan alam Indonesia, “Rimba Alam” yang menceritakan tentang khazanah hutan Kalimantan.

Selain itu, ia juga pernah berkolaborasi dengan beberapa seniman lainnya, seperti Meme Daeng dengan judul lagu “Balada Duit Asap” dan “Pelakor” yang bercerita tentang kehidupan sosial masyarakat.

“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kritis dan bisa memberikan kontribusi melalui karya. Sekali lagi ini murni ungkapan kegelisahan saya. Ketika musim hujan, kita panik akan banjir, kalau kemarau kita dilanda kabut asap. Untuk itu mari kita jaga sama-sama lingkungan kita,” pungkasnya. (*)

Read Previous

Diskominfo Kalbar Wujudkan Proses Perizinan yang Cepat

Read Next

PT Palma Adinusa Lestari Bangun Jalan Penghubung

Tinggalkan Balasan

Most Popular