Wabah Virus Corona dan Dilema di Sektor Perdagangan

HARGA NAIK: Komoditi bawang putih di pasaran mulai naik. Kondisi ini disebabkan menipisnya stok barang. ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA

Kurangi Ketergantungan Impor Bawang Putih China

Wabah virus corona di China membuat banyak negara di dunia termasuk Indonesia meningkatkan kewaspadaan. Muncul wacana pemerintah menyetop sementara impor bahan pangan dari negeri tirai bambu tersebut. Hal ini dilematis mengingat Indonesia dan Kalimantan Barat sangat bergantung dengan kebutuhan bawang putih dari China yang per tahunnya mencapai 500 ribu ton lebih. Perlu ada upaya alternatif sebagai solusi.

MUNGKIN sparepart mobil atau handphone tidaklah. Itu barang keras tidak dimakan masuk mulut. Tak mungkin pemerintah larang (impor),” kata Suib, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalbar, Senin(10/2). Menurutnya memang banyak produk yang diimpor dari China. Namun Pemerintah Indonesia juga tetap waspada dan pastinya punya alternatif sumber lain.

Untuk bawang putih misalnya. Selain impor dari China, ada juga yang berasal dari India, Iran, dan Mesir. “Indonesia bisa impor bawang putih selain dari China. Selama ini, negeri tirai bambu menutupi 90 persen dari total kebutuhan kebutuhan bawang putih di Indonesia,” ujarnya.

Sejak merebaknya virus corona di Wuhan, ada kekhawatiran untuk mengimpor buah dan sayuran dari China. Kabarnya rekomendasi impor bawang putih untuk alokasi 2020 belum dikeluarkan. Opsi yang mencuat yakni mengimpor dari negara selain China.

“Memang ada alternatif dari India misalnya. Hanya harga bawang putih di sana lebih mahal dan lebih sedikit. Dampaknya bisa inflasi lebih. Apalagi menjelang bulan puasa April 2020 mendatang,” kata dia. Politisi Hanura Kalbar dari Fraksi PKB plus ini meminta produk dalam negeri bisa diandalkan dan menjadi produk unggulan.

Di Kalbar misalnya, sudah waktunya menggalakan tanaman sayur-mayur sendiri. “Sudah waktunya. Kalau bisa munculkan program tiap rumah tanam tanaman bernilai tinggi dan untuk konsumsi rumah tangga,” ujarnya.

Suib mengaku terkejut melihat tingginya ketergantungan Kalbar akan bawang putih dari China. “Tidak heran ketika barang langka beberapa hari lalu, kenaikannya sangat signifikan hingga dua kali lipat lebih. Nah, wabah corona seperti sekarang membuat Indonesia harus putar haluan,” ujarnya.

Petakan Produk Impor yang Dilarang

Ancaman penyebaran virus corona sudah menunjukkan dampak nyata di sektor perdagangan. Pemerintah Indonesia sendiri sudah menunjukkan sikap tegas dengan mengatakan bahwa akan menyetop impor makanan dan minuman dari Tiongkok. Hal tersebut dilakukan demi meminimalisir potensi penularan melalui barang-barang konsumsi yang diimpor dari Tiongkok.

Diketahui bahwa Tiongkok sebenarnya merupakan partner dagang strategis bagi Indonesia. Pada 2019 nilai perdagangan Indonesia dan Tiongkok mencapai USD 66,2 miliar. Angka tersebut sekaligus menegaskan bahwa Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar kedua Indonesia, setelah Amerika Serikat. ”Tapi berkaitan dengan kasus itu (virus corona, red), impor harus disetop,” ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Namun demikian, Agus belum bisa memastikan hingga kapan penghentian impor pangan dari Tiongkok itu diberlakukan. Sebab, hal tersebut bergantung pada kondisi dan penanangan wabah di Negeri Panda. Agus mencotohkan, saat menyebarnya virus infeksi saluran pernapasan akut (SARS) beberapa tahun silam, penghentian impor dilakukan dalam kurun waktu sembilan bulan. “Mudah-mudahan lebih cepat dari yang dulu. Kita semua berdoa, ini kan keadaan force majeure. Kita harus hadapi dengan bijak,” tambahnya.

Agus menambahkan bahwa pihaknya akan berkordinasi dengan kementerian lain untuk memetakan produk-produk yang akan disetop impornya. Namun Agus menyatakan bahwa produk impor Tiongkok yang jelas akan dilarang di antaranya adalah satwa hidup atau hewan liar. “Yang jelas sekarang berkaitan dengan wild animal itu sudah pasti,” paparnya.

Sedangkan untuk jenis hortikultura, Agus menyebut masih membuka kemungkinan untuk tetap mengimpor bawang putih dari Negeri Tirai Bambu. Sebab, lebih dari 90 persen bawang putih impor dan beredar di pasar saat ini berasal dari Tiongkok.

Namun, Kemendag juga  membuka opsi untuk mencari subtitusi impor dari negara selain Tiongkok guna menjaga stok dalam negeri. Namun, ia masih mengkaji negara yang potensial untuk menggantikan impor dari Tiongkok. ”Pemerintah dan sejumkah kementerian hingga kini masih berkoordinasi terkait pelarangan barang impor tersebut agar tidak salah sasaran. Kita juga akan memastikan kebijakan tersebut tidak menghambat dunia usaha,” pungkasnya.

Di lain pihak, pelaku usaha sendiri sudah merasakan dampak negatif karena terhambatnya perdagangan Indonesia-Tiongkok akibat virus corona. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani menjelaskan bahwa banyak pabrik di Tiongkok yang ditutup, sehingga pelaku usaha dalam negeri khususnya yang terlibat dalam aktivitas ekspor dan impor terkendala masalah administrasi.

“Itu otomatis dari segi produksi juga bermasalah. Lalu kita mau ekspor ke sana juga bermasalah karena transportasi juga terkendala,” ujar Hariyadi. Meski Indonesia masih lebih banyak mengimpor dari Tiongkok, Hariyadi mengakui pengusaha dalam negeri kelimpungan untuk mencari pasokan suku cadang, terutama untuk kegiatan produksi.

Dengan demikian, pengusaha harus mencari alternatif pemasok lain meski harganya lebih mahal. Indonesia sendiri banyak mengekspor komoditas seperti barang mineral hingga minyak kelapa sawit. Sementara Tiongkok banyak mengekspor barang konsumsi rumah tangga hingga manufaktur. (agf/den)

Read Previous

Polairud Tangkap Penambang Pasir Ilegal

Read Next

Ganti Rugi Lahan Cuma Formalitas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *