Wanita dan Penelitiannya

opini pontianak post
Oleh Tommy Priyatna

Oleh: Heriansyah*

Hampir dapat dipastikan orang-orang sukses terlahir dari sosok wanita yang hebat. Misalnya, kita dapat lihat. Pertama, kehebatan Sayyidah Fatimah Azzahra putri Rasulullah SAW, sukses mendidik Hasan dan Husein, yang tercatat dalam sejarah kesuksesannya dan kelak akan menjadi pemimpin anak muda di surga. Tentu dalam hal ini,  tidak terlepas peran besar ibunya Fatimah, yakni Siti Khadijah dalam mendidik Fatimah. Sehingga Sayyidah Fatimah sukses dalam mendidik anaknya.  Kedua, Ibunya Imam al-Bukhari. Beliau mampu mengantarkan sang Imam menjadi sukses dengan doa dan ketaatannya. Hal ini terbukti, sang Imam yang saat itu buta matanya, menjadi bisa melihat atas izin Allah SWT. Bahkan kehebatan, kesolehaan dan dahsyat doa sang ibu mampu menjadikan sang imam sebagai amirul mukminin dalam bidang ilmu hadis serta kitab shahihnya merupakan buku paling benar setelah Alquran.

Oleh karena itu, tentu setiap orang menginginkan keturunan-keturunan yang sukses. Sukses yang penulis maksud disini adalah sukses dalam memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Terkait dengan judul diatas, bahwa wanita yang penulis maksudkan adalah Ibu Rumah Tangga (IRT), yakni, ibu yang memilih untuk mengasuh anaknya dan penelitiannya. Ya, kalau wanita berprofesi sebagai guru dan dosen atau pekerjaan yang terkait dalam penelitian, kemudian mereka membuat satu tulisan atau penelitian,  tentu hal yang biasa.

Kenapa demikian? Karena memang mereka dituntut untuk itu. Akan tetapi, jika Ibu Rumah Tangga (IRT) yang bekerja full di rumahnya dan  mampu membuat tulisan atau suatu penelitian pasti ini luar biasa. Karena, mereka membuat  tulisan atau penelitian bukan karena ingin memenuhi tugas sebagai pekerja, akan tetapi sebagai bentuk sumbangsi terbaiknya bagi negeri dan masyarakat ini.

Ini yang kita harapkan. Sehingga seorang IRT harus lebih berilmu. Kebanyakan asumsi masyarakat kita, bahwa pekerjaan IRT adalah pekerjaan yang tidak menuntut pendidikan tinggi. Oleh karena itu, wanita tidak harus berpendidikan tinggi jika ujung-ujungnya menjadi IRT. Kenapa harus kuliah atau berpendidikan tinggi, jika kita tahu kodratnya melahirkan atau mendidik anak saja?

Pemikiran semacam inilah yang membuat kita sulit untuk maju. Bahkan, pemikiran semacam ini merupakan kesalahan fatal. Kenapa demikian? Karena, pertama, menuntut ilmu kewajiban setiap muslim dan muslimah. Kedua, menjadi ibu harus dengan ilmu, karena seorang ibu adalah madrasah pertama dan madrasah bagi anaknya. Lantas apa yang akan anaknya dapatkan jika seorang ibu tidak berilmu. Ketiga, mencari nafkah bukan kewajiban istri, selama suami masih mampu bekerja dan mencukupi kebutuhan keluarga. Kendati demikian, tidak semua IRT yang tidak berpendidikan tidak mampu mensukseskan anaknya.

Coba, kita lihat statement berikut “Negara berkembang tradisi membaca sudah meningkat, negara maju tradisi menulis sudah meningkat”, saya tidak ingat persis siapa yang pernah mengucapkan kalimat itu atau yang semisal. Akan tetapi, saya mengerti substansinya. Ya, kira-kira jika kita ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa kita sudah masuk ke dalam negara maju, maka menulislah. Atau mau memajukan negara, maka menulislah. Mungkin juga bisa dimaksudkan, sudah berada dimana posisi negara kita dalam menulis atau literasi?

Ya, menulis atau penelitian  membuat kita akan lebih maju. Karena saat menulis hampir dapat dipastikan, memacu kita untuk membaca, baik teks maupun alam sekitar kita. Dengan demikian, memacu kita terus berinovasi dalam perbaikan dan kebaikan. Nah, bagaimana Ibu Rumah Tangga (IRT) dan penelitiannya?

Disinilah pentingnya kenapa seorang ibu harus berilmu. Ya, paling tidak ilmunya dapat diterapkan saat mengasuh anak, melihat dan mengamati prilaku anak lalu menuliskan dan menilitinya. IRT bisa memulai penelitiannya dengan memperhatikan hasil dari pembiasaan sehari-hari yang ia berikan ke anaknya. Misalnya, anak pertama setiap hari ia perintahkan membaca sejarah nabi, murottal quran dsb. Anak kedua ia yang membacakan sejarah nabi, murottol quran dsb. Maka ia akan bisa melihat perkembangan anak-anaknya dengan pembiasaan yang berbeda dan sebagainya.

Hal ini, juga sekaligus menepis bahwa menuntut ilmu tidak hanya untuk mencari kerja. Melainkan lebih dari, bahkan lebih besar. Coba bayangkan, jika semua IRT tangga mampu menulis atau membuat penelitian?

Saya yakin, akan banyak hadir teori-teori baru dalam dunia parenting. Dan tentu hasilnya, akan lebih akurat karena mereka terlibat langsung didalamnya. Dengan demikian, jika semua IRT di Indonesia ini sudah mau menulis dan meneliti, maka teori-teori dari IRT di Indonesia ini akan tersebar dan digunakan di dunia.

Sebenarnya, tidak hanya sampai ditulisan dan penelitian saja.  Jika IRT sudah jago nulis, maka mulai BBM, alat perlengkapan dapur, alat rumah tangga, kebutuhan sekolah anak dan lainnya, yang naik dengan mendadak dan tidak sesuai aturan. Maka mereka, akan berani menyuarakannya. Bahkan mungkin lebih dari itu,mereka akan berani menggugat terkait kebijkan-kebijakan yang menurutnya merugikan rakyat.

Wanita (baca: IRT) yang rajin membuat tulisan atau penelitian, akan dapat terwujud manakala IRT tahu akan peran pentingnya mereka terhadap kemajuan suatu bangsa. Percaya atau tidak, IRT yang mahir dengan literasi, akan memperbaiki bangsa ini dalam mendidik anak-anak. Karena apa yang mereka tulis merupakan kenyataan lapangan yang berguna bagi para orang tua lainnya. Terutama akan menyadarkan bapak-bapak, arti tanggungjawabnya yang lebih besar terhadap anak. Mungkin selama ini, mendidik anak hanya diberatkan ke IRT saja.

Oleh karena itu, untuk wanita yang masih diberi kesempatan untuk menuntut ilmu di formal atau non formal, kiranya dapat memaksimalkan potensi diri dalam belajar. Membangun potensi diri anda, sama dengan menyiapkan generasi besar. Generasi besar akan lahir dari ibu-ibu yang memiliki wawasan yang luas.

Untuk wanita yang sudah menjadi IRT terus gali potensi diri dengan memaksimalkan apa yang ada di sekitar anda. Tulis temuan-temuan baru saat anda menemukan prilaku pada anak. Jika tidak sempat menulis, vidiokan atau rekam. Jika tidak sempat merekam, maka ceritakan pada suami anda. Karena, suami juga punya kewajiban mendidik anak dan seni mendidik anak. Tidak ada yang sia-sia. Yakinlah generasi yang besar akan muncul dari kerja sama yang kuat dari orang tua, terutama ibu dengan tingkat literasinya. Selamat Hari Kartin. Semoga wanita di Indonesia menginspirasi dunia dengan penelitian atau tulisannya. Wallahu ‘alam bishshawab.**

*Penulis adalah tenaga Kontrak di IAIN Pontianak.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!