Warga Membatik Membangun Ekonomi Kreatif

KONPRES: Seketaris Disparpora Abdul Hadi, Ketua Dekranasda Juli Wahyuni Irwan, seniman batik Yogyakarta, Nurohmad, Rafael pengelola Taman Rekreasi Teratai Indah dalam konpres Classic To Millennial Performance. ISTIMEWA

Classic To Millennial Performance, Lestarikan Warisan Budaya,

Menambah wawasan kewirausahaan. Menambah semangat masyarakat Singkawang terutama Generasi Millennials mengenal budaya membatik serta meningkatkan kunjungan wisatawan yang datang dan pulang membawa souvenir hasil karya membatik Khas Kota Singkawang.

Hari Kurniathama, SINGKAWANG

ADA yang beda kali ini. Memperingati hari batik nasional dan pembentukan pemerintahan kota Singkawang ke 18, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) menggelar “Classic To Millennial Performance” yang dipusatkan di Mess Daerah Kota Singkawang 26-27 Oktober 2019. Kegiatan ini bekerjasama dengan Dekranasda Kota Singkawang dan Kampung wisata membatik.

Tujuan kegiatan ini meningkatkan edukasi batik khususnya kepada generasi millennial khususnya di Kota Singkawang ikut mempertahankan, dan melestarikan warisan budaya ini agar tidak punah dengan bergantinya zaman.

Seketaris Disparpora, Abdul Hadi, mengatakan Classic To Millennial Performance bertemakan “SDM Unggul Singkawang Hebat”. Dalam penyelanggarannya ada tiga hal mendasar akan dilakukan. Pertama, Input, kedua proses, kegita adalah output. Sehingga tujuan diselenggarakannya.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan motif khas Singkawang, menambah wawasan kewirausahaan dan menambah semangat masyarakat Singkawang terutama Generasi Millennials dapat mengenal budaya membatik serta meningkatkan kunjungan wisatawan yang datang dan pulang membawa souvenir hasil karya membatik Khas Kota Singkawang,” ungkap Abdul Hadi dalam konprensi Press di Taman Rekreasi Teratai Indah Singkawang, Kamis (24/10).

Tiga tahapan dasar itu akan disimulasikan dalam sejumlah kegiatan. Diantaranya pameran produk dan karya, Pementasan batik Shadow, Performance owner dan founder “kote singkawang”, Bekarya memanfaatkan limbah, Lomba mewarnai motif batik serta Seminar kewirausahaan.

Setiap kegiatan itu menjalani tigas tahapan dasar itu yakni Input, Proses, dan outputnya. Contohnya, dalam kegiatan pameran produk dan karya. Peserta nantinya diberikan input berupa edukasi penuualan produk dan karya. Usai mendapatkan teorinya, lalu akan dilakukan proses memamerkan hasil produk dan karya Kampung Batik Singkawang, Kote Singkawang, Dekranasda dan Disperindag Singkawang. Dimana diharapkan ada outputnya yakni pengenalkan produk serta hasil karya sehingga dapat merangsang jiwa kewirausahaan dengan memanfaatkan media sosial sebagai publikasi pemasarannya.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Singkawang, Juli Wahyuni Irwan, mengatakan kegiatan ini akan menunjuang program pemerintah dalam upaya menggali potensi daerah guna meningkatkan kunjungan wisata ke Singkawang yang nantinya bermuara meningkatkan perekonomian masyarakat. Bahkan, Juli memandang bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya mempertahankan, dan melestarikan warisan budaya yakni batik. “Melalui kegiatan ini selain melestarikan warisan budaya, masyarakat dapat mengenal batik sekaligus motif khas kota Singkawang,” jelasnya. Agar terus lestari, lanjut Juli, maka generasi milenial ini harus diperkenalkan batik khas Singkawang. “Disini kita lebih mengenalkan batik khas Singkawang, proses pembuatannya bagaimana, wujudnya apa hingga nanti pemasarannya bagaimana, di “Classic To Millennial Performance” tersaji,” katanya.

Harapannya, kata dia, selain meningkatkan wawasan masyarakat akan potensi batik khas Singkawang, juga akan tumbuh kesadaran massal di masyarakat bahwa Singkawang juga memiliki batik khas, seperti halnya daerah lain. “Dari even ini juga kita harapkan akan muncul motif motif batik khas Singkawang yang bisa kita pamerkan, pasarkan serta memiliki nilai tambah serta nilai ekonomis bagi mereka yang ingin mengembangkannya,” jelasnya. Bahkan ia menambahkan adanya batik khas Singkawang juga tentu akan mengangkat harkat martabat pengrajin Batik Singkawang. “Jadi kita harus bangga dengan hasil karya kita ini selain melestarikan warisan budaya juga dapat menjadi salah satu usaha kreatif menambah penghasilan warga. Minimal nanti karya batik khas Singkawang akan menjadi buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Singkawang,” jelasnya.

Pengelola Taman Teratai Singkawang, Rafael yang memfasilitasi terselenggaranya kegitan ini juga sangat mendukung even ini. Sehingga dapat mendongkrak iklim pariwisata Singkawang dengan varian kekhasan Singkawang.

Nantinya kegiatan ini sendiri akan menampilkan produk batik khas Singkawang, serta bagaimana membatik bagi generasi millenial yang langsung dipandu oleh mentor ahli di bidangnya seperti Nurohmad, seorang seniman batik Shadow asal Yogyakarta, serta Priska Yeniriatno selaku pembina dan pengelolai Kampung Wisata Membatik yang tersebar di tiga wilayah, seperti Sedau, Nyarumkop dan Cisadane. (*)

Read Previous

Pelajar Bolos Diangkut ke Sekolah

Read Next

Irwan Jengkel, Kadis Diwakili Honorer

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *