Midji: Apa yang Saya Katakan Terbukti
Warga Sambas Dukung Atbah

Atbah Romin Suhaili

SAMBAS – Ramainya ‘Perang’ pernyataan antara Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji dengan Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili terkait penanganan Covid-19, mendapatkan sorotan masyarakat. Tak terkecuali warga Kabupaten Sambas. “Baru kali ini saya dengar Pak Bupati (Sambas) marah,” kata warga Sambas, Rido.

Pasalnya, kata Rido, selama ini, terutama jika menyampaikan sesuatu di media massa baik cetak maupun elektronik, Atbah dikenal santun. Bahkan, Rido pun memberikan dukungan atas pernyataan yang disampaikan Bupati Sambas untuk membantah apa yang dilontarkan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji.

“Betul-lah apa yang dilakukan Pak Atbah, dan tentunya apa yang disampaikan Pak Atbah sesuai apa yang terjadi di Kabupaten Sambas, dimana sudah ada upaya bersama untuk mencegah penyebaran covid 19,” katanya.

Terlebih, ini bukan kali pertama Gubernur Kalimantan Barat menyalahkan secara terbuka Bupati Sambas. “Sebelumnya juga pernah, gubernur secara terbuka menyalahkan Bupati Sambas. Dan yang terbaru sekarang yang lagi ramai. Dan yang baru ini baru disikapi oleh Bupati Sambas,” katanya.

Sebagai warga Sambas, dia memahami bahwa Sambas merupakan daerah perbatasan, sebagai masuknya PMI yang pulang dari Malaysia. Kondisi ini memberikan andil terkait kasus yang terjadi.

Hal senada disampaikan Wati, warga lain. Dirinya membaca di media massa terkait dengan ramainya perang pernyataan antara Gubernur Kalbar dan Bupati Sambas. “Ada tadi baca di koran,” katanya.

Ibu dua anak ini pun mengaku mendukung apa yang disampaikan Bupati Sambas. “Geram juga kalau baca pernyataan pak Gubernur Kalbar. Wajar sih kalau Pak Atbah marah, apalagi kalau itu tak sesuai dengan faktanya,” katanya.

Selain di dunia nyata, apa yang terjadi antara Gubernur Kalimantan Barat dan Bupati Sambas juga ramai di dunia maya. Sejumlah komentar pun terlontarkan dari netizen, ada juga yang mengait-ngaitkan ke Pemilihan Gubernur Kalimantan Barat 2024 nanti. Mereka menyatakan tak akan memilih lagi Sutarmidji di periode kedua.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji merasa apa yang disampaikan terkait kinerja Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili dalam penanganan Covid-19 tidak ada yang arogan dan kasar. Pada intinya ia hanya meminta Atbah menjalankan tugas sampai menit terakhir sebagai kepala daerah di kabupaten tersebut.

“Kenapa saya bilang ogah-ogahan, karena beliau (Atbah) ketua Satgas (Covid-19) Sambas. Sudah sering saya sampaikan hati-hati, sering kirim swab (tes usap) sampel ke provinsi, tapi jarang sekali kirim,” katanya kepada Pontianak Post, Rabu (5/5) malam.

Selain itu menurut Midji, capaian pelaksanaan vaksinasi untuk warga lanjut usia (lansia) di Kabupaten Sambas sangat rendah. Kekhawatiran Midji terhadap penularan Covid-19 di Kabupaten Sambas juga terbukti. Dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan kasus Covid-19 harian yang cukup signifikan di daerah tersebut.

“Apa yang saya sampaikan terbukti. Sambas hasil lab (PCR) Untan, kemarin (Rabu) ada 44 kasus positif (Covid-19),” tambahnya.

Orang nomor satu di Kalbar itu pun tak ambil pusing soal komentar beberapa warga di Sambas yang enggan mendukungnya jika ia kembali maju dalam pemilihan gubernur (Pilgub) untuk periode selanjutnya. “Kalau masalah jabatan yang kedua, ketiga saya tak mikir. Kita hidup menjalankan skenario atau takdir Allah SWT. Manusia boleh berkehendak tapi Allah penentu segalanya,” ucapnya.

Ia merasa tidak perlu mencari popularitas dalam menjalankan tugasnya. Apalagi dalam penanganan Covid-19, pahit pun suatu keputusan asal demi masyarakat, tetap akan ia putuskan. Ia tak akan pernah mau mengorbankan keselamatan masyarakat hanya untuk satu popularitas. “Karena tanggungjawab saya selaku pemimpin. Jika kepemimpinan saya jelek, mengecewakan, saya serahkan ke masyarakat. Di ranah politik hal yang menyakitkan adalah tidak dipilih lagi, tapi saya siap dengan segala konsekuensinya. Saya selaku ketua satgas provinsi akan tetap tegas dalam hal penanganan Covid-19,” tutupnya.

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson juga mengingatkan Kabupaten Sambas untuk berhati-hati dalam penanggulangan Covid-19. Selama ini daerah tersebut dikatakan sangat sedikit mengirim sampel tes usap hasil tracing dan testing.

“Ini kalau mereka kirim sedikit artinya kan jarang melakukan tracing dan testing. Berarti mereka Satgas Kabupaten Sambas tidak bisa mendeteksi sejak awal siapa saja warga yang sedang tertular Covid-19,” katanya.

Jika demikian terus terjadi, maka ada dua risiko yang harus dihadapi. Pertama warga yang sudah tertular tidak bisa terdeteksi dan disiolasi. Sehingga mereka yang positif akan terus menyebarkan virus kepada orang lain. Lalu yang kedua, jika tidak terdeteksi sejak awal maka akan sulit dalam penyembuhan. Ketika sudah bergejala, timbul sesak napas, akut respiratori distres sindrom, kemudian baru dibawa ke RS, kemungkinan penanganan bisa terlambat.

“Kalau sudah terlambat begitu akan mempertinggi fatality rate atau risiko kematian. Jadi sekali lagi kalau tidak melakukan tracing dan testing, berarti kita membiarkan masyarakat untuk beresiko tertular,” jelasnya.

Apalagi petunjuk dari Satgas Nasional tentang tracing dan testing sudah dari dulu disampaikan dengan jelas. Untuk itu daerah dinilai tak perlu lagi diberi tahu tentang petunjuk detail pelaksanaannya. Satgas Covid-19 atau Dinas Kesehatan kabupaten/kota diyakini sudah tahu bagaimana strategi penanganan Covid-19. “Termasuk strategi terakhir dengan program vaksinasi,” pungkasnya. (fah/bar)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!