Waspada Arisan (Investasi) Bodong

ILUSTRASI: THE STRAITS TIMES

Oleh: Y Priyono Pasti*

Arusan (investasi) bodong kembali memakan korban. Sejumlah warga di Kota Pontianak mengaku menjadi korban praktik arisan bodong. Mereka mengalami kerugian mencapai belasan juta hingga puluhan juta rupiah. Bahkan total kerugian yang dialami sejumlah warga tersebut mencapai lebih dari Rp 300 juta rupiah (Pontianak Post, 22/8/2021).

Mengapa peristiwa tragis dan culas ini terus saja berulang? Adakah sikap mental konsumtif-hedonistik-suka jalan pintas-suka yang gampang-gampang menjadi pemicunya? Bagaimana menghindari jebakan arisan/investasi bodong ini? Tulisan ini mengulasnya.

Dirancang Serius dan Menjanjikan

Penipuan berkedok arisan atau investasi ini sungguh dirancang sedemikian rupa untuk memuluskan investasi para pengelolanya. Pihak-pihak atau kelompok pengelola arisan atau investasi bodong itu melakukan berbagai cara tipu muslihat, janji-janji semanis madu, iming-iming bunga selangit dan rupa-rupa keuntungan lainnya untuk memikat para anggota.

Menurut Lin Che Wei, ada sejumlah taktik (skema) yang digunakan pihak-pihak atau kelompok pengelola ‘investasi’ bodong untuk mengakali anggotanya. Skema yang umumnya dipakai adalah skema Ponzi, yaitu penipuan yang menjanjikan return luar biasa besar yang sebenarnya didapat dari uang investor lain yang menginvestasikan uangnya belakangan dan bukan dari hasil pengelolaan uang para investor tersebut.

Perusahaan, pihak-pihak atau kelompok yang mengelola investasi bodong itu tahu, jika investor awal mendapatkan return sesuai dengan yang dijanjikan, mereka akan menginvestasikan kembali hasil dari uang tersebut dan bahkan akan membawa anggota keluarga, teman, atau relasinya untuk berinvestasi di perusahaan (bodong) tersebut.

Investor (anggota) awal akan mendapatkan keuntungan karena langsung mendapatkan pengembalian sehingga terdorong untuk menginvestasikan uangnya lebih banyak lagi, sedangkan investor/anggota yang masuk belakangan akan lebih rentan terhadap ketiadaan return tinggi yang dijanjikan. Akibatnya, perusahaan atau arisan ‘abal-abal/akal-akalan’ itu akan terus meraup keuntungan dari para anggota, sementara jumlah kerugian yang diderita anggota, apalagi yang masuk belakangan cenderung membengkak.

Selain skema PONZI (diambil dari nama Charles Ponzi, imigran asal Italia yang melakukan penipuan besar-besaran di Amerika Serikat tahun 1919-1920 dan 1926-1934), skema/taktik lain yang digunakan adalah skema piramida, arisan berantai (money game), high yield investment programme, penipuan berkedok penggarapan lahan agribisnis, berkedok perdagangan valuta asing, dan lowongan pekerjaan yang mengharuskan kita membayar untuk pelatihan atau justru meminta kita memasukkan uang terlebih dahulu sebagai prasyarat.

Segera Diakhiri

Penipuan yang berkedok arisan, investasi, atau apapun itu namanya, yang dampaknya sangat merugikan itu harus segera diakhiri. Hal itu tidak boleh terjadi lagi di negeri ini. Jejaringnya harus diberangus, diberantas tuntas sampai ke akar-akarnya. Pelakunya dihukum seberat-beratnya. Kita harus lebih berhati-hati dan bekerja sama menghentikan praktik culas yang jauh dari keadaban ini. Bagaimana kita menghindari jebakan investasi atau arisan bodong ini?

Mengkristalisasikan Lin Che Wei, perusahaan (arisan) investasi yang yang memiliki ciri-ciri berikut ini harus dihindari dan dijauhi. Pertama, memberikan ‘janji-janji surgawi’ akan imbal hasil (return) tinggi dalam jangka waktu yang realtif singkat.

Kedua, taktik penjualan yang memaksa. Jangan langsung termakan bujuk rayu penjual atau pengelola yang memaksa Anda untuk membuat keputusan saat itu juga, sekalipun penjual atau pengelola itu orang yang Anda kenal baik sejak lama.

Ketiga, perusahaan dan basis investasinya tidak jelas. Keempat, tak memliki izin penawaran investasi dari Lembaga pengawas yang kredibel.

Solusi

Bagi anggota yang sudah menjadi korban penipuan berkedok arisan/investasi, disarankan untuk melapor kepada pihak yang berwajib. Siapkan data dan berikan keterangan sedetail dan selengkap mungkin (bisa melalui kuasa hukum), siapa saja yang menghubungi/mengajak berinvestasi/arisan dan bagaimana orang tersebut menghubungi.

Setelah itu, hubungi divisi legal dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dan Lembaga Keuangan (LK) Indonesia serta pengacara yang khusus menangani kasus sejenis. Ajukan tuntutan hukum terhadap para pelaku penipuan.

Dengan mengetahui ciri-ciri perusahaan atau arisan investasi bodong ini, diharapkan masyarakat kita menjadi dan semakin sadar untuk tidak mudah tergiur, tak mudah dibujuk rayu, dan yang paling penting untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran-tawaran serta janji-janji manis perusahaan, pihak/kelompok tertentu yang berkedok investasi/arisan yang membuat mabok kepayang itu.

Mari kita saling mengingatkan akan bahaya investasi atau arisan bodong yang sangat merugikan itu. Mari kita bersama-sama memberantas tuntas segala bentuk penipuan yang berkedok arisan atau investasi ini agar tak ada lagi masyarakat kita yang menjadi korban. **

*Penulis adalah  Alumnus USD Yogya, Kepala SMP/Guru SMA Asisi     Pontianak-Kalimantan Barat.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!