Waspada Gangguan Mata Selama Sekolah Daring

Ilustrasi

Intensitas anak dengan gawai maupun laptop semakin tinggi seiring penerapan pembelajaran secara online atau daring oleh sekolah. Dalam sehari, anak-anak bisa menghadap layar gawai hingga berjam-jam. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengancam kesehatan mata anak.

Oleh : Siti Sulbiyah

Para orangtua mulai khawatir dengan kesehatan mata anaknya. Itu terjadi karena intensitas menghadap layar gawai atau laptop lebih tinggi setelah metode pembelajaran daring diterapkan oleh sekolah. Dikhawatirkan mengganggu bahkan merusak mata anak.

Kekhawatiran itu dirasakan oleh Fenti Nurhidayati. Ketiga anaknya kini mengikuti pembelajaran secara daring. Durasi menghadap layar gawai untuk pembelajaran daring rata-rata sekitar lima jam dalam satu hari. Durasi waktu ini, tidak termasuk untuk aktivitas lainnya yang memanfaatkan gawai.

“Selain belajar online, kadang anak juga menggunakan HP untuk hal lain, misalnya untuk main medsos, atau main game. Jadi lebih banyak intensitasnya dibandingkan ketika belum ada belajar online,” tutur Fenti.

Guna meminimalisir potensi gangguan kesehatan  mata itu, Fenti kerap mengingatkan buah hati untuk tidak terlalu dekat dengan layar gawai. Anak-anak juga diingatkan untuk memberikan jeda untuk mata bisa beristirahat dengan tidak memandang layar gawai untuk beberapa menit.

“Sejauh ini selama pembelajaran online, belum nampak (gejala gangguan mata). Tapi belum juga diperiksakan kesehatan mata anak. Semoga saja tidak ada (gangguan),” tutur dia.

Dalam jurnal berjudul “The Relationship Between Intensity Of Smartphone Use And Computer Vision Syndrome Among Senior High School Students In Pontianak”, yang ditulis oleh Dokter Spesialis Mata, dr. M Asroruddin, menyebut bahwa masalah penglihatan dan mata saat ini dapat terjadi ketika teknologi dunia semakin maju, terutama di era teknologi informasi dan komunikasi digital. Ponsel pintar atau gawai, adalah salah satu perangkat tampilan visual (VDT) yang dapat menyebabkan masalah penglihatan seperti computer vision syndrome (CVS).

“Pengaruh pada mata anak adalah munculnya gejala computer vision syndrome (CVS), mata lelah atau asthenopia,” kata dr. M Asroruddin.

Menurutnya, sindrom penglihatan komputer atau ketegangan mata digital adalah kombinasi masalah mata dan penglihatan yang terkait dengan penggunaan komputer, termasuk desktop, laptop dan tablet, dan display elektronik lainnya seperti ponsel pintar. Dalam penelitiannya, dia menyimpulkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara intensitas penggunaan ponsel pintar dan sindrom penglihatan komputer pada siswa.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura ini juga menyebutkan durasi yang dianjurkan pada penggunaan gawai adalah maksimal dua jam sehari untuk anak-anak usia sekolah dan maksimal satu jam perhari bagi anak-anak yang lebih muda dari itu. Semakin tinggi intensitas, risiko terhadap kesehatan mata dan risiko ketagihan akan semakin tinggi. Dikatakan intensitas tinggi, adalah ketika penggunaan lebih dari dua jam dalam sehari atau sekali menggunakan durasinya lebih dari 75 menit, dan menggunakannya lebih dari tiga kali sehari.

“Sementara yang medium intensity, sekitar 40-60 menit perhari dan penggunaannya 2-3 kali  perhari,” ungkapnya.

Pada beberapa penelitian lain, tambah dia, penggunaan gawai yang berlebihan, dengan durasi lebih dari dua jam sehari pada anak-anak, justru bisa memunculkan gangguan mental dan emosional seperti membanting barang, agresif, atau mudah menangis, bun gangguan hubungan dengan teman sejawat, kurang sensitif terhadap lingkungan sekitar, depresi, kecemasan, ADHD, gangguan mood, dan bahkan risiko bunuh diri. **

loading...