Waspada Penyakit Pancaroba

Pancaroba adalah peralihan antara musim kemarau dan musim hujan. Biasanya tubuh rentan terinfeksi penyakit pada musim pancaroba. Pola hidup bersih dan sehat menjadi cara untuk mencegahnya.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Musim pancaroba dapat menyebabkan turunnya daya tahun tubuh. Dokter Umum Welda Alfiansyah mengatakan penyakit yang kerap diderita di musim pancaroba diantaranya flu (influenza), infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), serta demam berdarah dengue (DBD). Ketiga penyakit ini tidak mengenal usia. Baik balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua bisa terjangkit.

Welda menjelaskan berdasarkan penelitian yang dipublikasikan Journal of Virology, American Society for Microbiology, flu sangat berkaitan dengan tingkat kelembapan dan suhu. Ada peningkatan jumlah penderita flu pada masa pancaroba karena perubahan suhu dan kelembapannya yang cukup berbahaya.

Flu sendiri disebabkan oleh virus influenza yang menginfeksi hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Penyebaran virus ini terjadi ketika orang menderita batuk dan flu, bersin atau berbicara dan menularkan virus melalui udara. Virus tersebut berpotensi masuk melalui mulut atau hidung dari orang di dekatnya.

Dokter di RS Promedika Pontianak ini menambahkan flu juga dapat ditularkan dengan memegang permukaan atau benda yang memiliki virus flu di atasnya. Setelah itu, virus masuk ke tubuh ketika memegang mulut, mata atau hidung.

Welda menuturkan gejala-gejala flu dapat meliputi demam tinggi tiba-tiba, sakit kepala, batuk (biasanya kering), menggigil dan radang tenggorokan, hidung tersumbat dan pilek, serta kelelahan. Sedangkan, gejala-gejala pada perut seperti mual, muntah atau diare. Gejala-gejala ini lebih umum terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa.

Dokter di RS Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Pontianak menjelaskan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) biasanya disebabkan oleh virus. Penyakit ini menimbulkan gejala batuk, demam dan pilek. ISPA menimbulkan peradangan pada saluran pernapasan. Penyakit ini dapat terjadi sewaktu-waktu. Namun, risiko terjangkit penyakit ini semakin tinggi saat masa pancaroba.

“Gejala-gejala penyakit ISPA, yakni demam ringan, batuk kering, sakit tenggorokan, kulit menjadi kebiruan akibat kurangnya oksigen, serta gejala sinusitis,” jelas Welda.

Welda mengungkapkan memasuki musim pancaroba masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD). Ketua Ikatan Alumni FK Untan ini menyatakan DBD disebabkan virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Biasanya banyak dijumpai terutama di daerah-daerah tropis.

“Beberapa faktor yang dapat menyebabkan DBD antara lain, rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamukpenular. Sebab, banyak tempat perindukan nyamuk saat musim penghujan,” tuturnya.

Gejala awal DBD ditandai dengan demam tinggi secara mendadak, nyeri kepala, nyeri saat menggerakan bola mata, dan nyeri punggung. Seringkali tanda-tanda tersebut disertai tanda pendarahan. Bahkan, pada kasus yang berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati, pendarahan saluran cerna, syok, hingga kematian.

Welda menyatakan gangguan saat musim pancaroba dapat diatasi dengan menerapkan pola hidup sehat. Makan-makanan bergizi dan suplemen makanan yang dapat meningkatkan imunitas, serta istirahat yang cukup. Gizi merupakan salah satu determinan penting respons imunitas.

Penelitian epidemiologis dan klinis menunjukkan bahwa kekurangan gizi menghambat respons imunitas dan meningkatkan risiko penyakit infeksi. Sanitasi dan higiene perorangan yang buruk, kepadatan penduduk yang tinggi, kontaminasi pangan dan air dan pengetahuan gizi yang tidak memadai berkontribusi terhadap kerentanan terhadap penyakit infeksi.

Welda menambahkan gangguan pada berbagai aspek imunitas, termasuk fagositosis, respons proliferasiselke mitogen, serta produksi tlymphocyte dan sitokin ditemukan pada kondisi kekurangan gizi.

“Pada dasarnya yang berkaitan dengan infeksi virus itu obatnya meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Welda.

Jika terinfeksi penyakit, lanjut Welda, penanganannya sesuai dengan penyakit yang diderita tersebut. “Masing-masing sesuai standar pengobatannya. Bedanya, hanya di penyakit yang menginfeksinya, penanganannya obat dan dosis disesuaikan dengan keadaan umumnya dan usianya. Tapi, dasarnya tetap sama-sama peningkatan daya tahan tubuh,” pesannya. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!