Wisata Literasi Nasional 2019 di Kalbar

literasi pontianak

LITERASI: Peluncuran seribu buku penulis Kalbar di Wisata Literasi Nasional 2019, Sabtu (6/9) di Pendopo Gubernur bersama Najwa Shihab. SYAHRIANI/PONTIANAK POST

SDM yang Baik Terbangun dengan Cara Membaca

Hadirnya Wisata Literasi Nasional 2019 di Kalbar yang melibatkan lebih kurang seribu pegiat literasi, menjadi bukti bahwa semangat membaca itu masih ada. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (7/9) di Pendopo Gubernur Kalbar itu dihadiri banyak pelajar hingga beragam komunitas, untuk mendengarkan motivasi dari Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

GELIAT literasi di Kalimantan Barat terus tumbuh dan berkembang. Dunia literasi tak hanya sebatas membaca saja, tetapi juga mulai tumbuh tulisan-tulisan kreatif penulis muda Kalbar. Mulai dari mahasiswa, guru, pecinta literasi aktif mengampanyekan semangat membaca dan menulis hingga ke pelosok desa.

Hadirnya Najwa Shihab ditunggu-tunggu pecinta literasi. Beragam pertanyaan dilontarakan kepada putri Quraish Shihab ini. Motivasi disampaikan wanita yang populer dengan acara Mata Najwa-nya ini. “Tidak ada anak yang terlahir di dunia ini tidak suka membaca,” katanya memotivasi.

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan bahwa membaca menjadi bagian penting untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang baik. Menurut dia, SDM memerlukan ilmu dan salah satunya dengan cara membaca. Jika disuruh memilih antara SDM dan sumber daya alam (SDA) yang baik, Gubernur lebih memilih SDM yang baik. Karena baginya SDA bisa habis jika tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya, dia yakin, SDM yang baik yang akan menguasai apapun. “Sehingga pintu untuk menjadi SDM yang baik maka perlu ada ilmu,” katanya.

Sebagai kepala daerah yang bertanggung jawab pada banyak hal, Sutarmidji pun membiasakan diri untuk membaca. Menurutnya, membaca bagian penting untuk memahami persoalan. “Sehingga saya diajak bicara apapun saya pastikan saya nyambung. Apapun. Mau bicara teknik, oke, bicara ekonomi, ayo, bicara politik, ayo. Ketika saya menyampaikan apapun, sebelumnya saya lengkapi dulu dengan literatur,” ungkap sosok pernah mengenyam sebagai dosen tersebut.

Sementara, Kepala Perpustakaan Nasional mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan program rutin pemerintah daerah, dengan berkolaborasi bersama pemerintah daerah dan komunitas setempat. Tujuannya, disebutkan dia, untuk mendorong masyarakat memiliki sumber daya manusia melalui membaca. Diingatkan dia bahwa Indonesia sebetulnya jauh lebih tua seribu tahun dari Amerika. “(Bukti tersebut) ditunjukkan dengan kejayaan Sriwijaya abad ke-7, abad ke-13 Majapahit sudah dari nusantara sampai ke semenanjung Malaysia. Amerika baru ditemukan abad ke-15,” kata dia.

Dengan usia yang terbilang muda, mengapa Amerika menjadi hagemoni dunia? Jawaban dia cuma satu, karena mereka rajin membaca. “Oleh karena itu kita semua masyarakat Indonesia, Provinsi Kalbar harus percaya, harus memulai membangun SDM dari buku. Sangat berkorelasi lurus kegemaran membaca dengan kecerdasan dan kesejahteraan yang dicapai,” timpal dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, tidak ada satu pun pemerintahan di dunia yang gagal membangun negaranya disebabkan keterbatasan sumber daya alam. Umumnya, diungkapkan dia bahwa negara di dunia gagal karena SDM terbatas. Dia mencontohkan negara-negara seperti Jepang serta Korea yang memiliki SDM yang berkualitas, dengan SDA yang terbatas.

Dia pun mengutip Pidato Menteri Bappenas belum lama ini, sebagai cara bagaimana mencermati kondisi Indonesia saat ini. Dari pidato tersebut, kata dia, 99 persen angka partisipasi sekolah dasar sudah dilalui, namun hanya 70 persen yang tamat. Artinya, kata dia, ada 30 persen anak-anak yang tidak sampai mendapatkan ijazah SD. Dari 70 persen yang masuk SMP, diungkapkan dia, ada 20 persen yang tidak tamat SMP, sehingga kontribusi SD dan SMP sudah 50 persen. Dari 50 persen ini, diakui dia, lebih kurang 10 persennya tidak tamat SMA. “Jadi sudah 60 persen masyarakat yang tercecer tidak punya ijazah SD, SMP, dan SMA. Yang 40 persen menembus perguruan tinggi tetapi hanya 10 persennya yang selesai. Artinya ada 99 persen masyarakat kita yang menjadi masyarakat umum, dengan modal Ijazah SD, SMP, SMA. Kondisi menempatkan Indonesia SDM terendah dunia yang bisa disorot industri, makanya kita hanya menjadi penonton investor yang ada di negara kita,” pungkasnya. (*)

Read Previous

DPR Terima Masukan Selama Tiga Minggu

Read Next

Cerita Tiga Guru Inisiator Perpustakaan Keliling

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular