YBS Dukung Larangan CGM, Ratusan Turis Batal Datang ke Singkawang

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji menerbitkan larangan keramaian festival Cap Go Meh 2021. Masyarakat Tionghoa sendiri menerima dan memaklumi larangan tersebut lantaran pandemi Covid-19 masih merajalela. Bahkan Yayasan Bhakti Suci yang selama beberapa tahun ini didaulat menjadi panitia festival CGM di Pontianak bersama dengan Disporapar, mendukung penuh langkah tersebut. Malahan, Ketua YBS, Lo Cun Hong menyebut pihaknya sudah terlebih dahulu melarang para anggotanya dan 62 yayasan Tionghoa lainnya untuk menggelar keramaian.

“Aturan yang dikeluarkan Gubernur kami dukung penuh dan akan mematuhinya. YBS sendiri sudah empat bulan lalu melarang untuk membuat keramaian sampai batas waktu yang belum ditentukan. Dan memang kami tidak akan menggelar festival arakan naga dan keramaian lainnya dalam rangka CGM tahun ini. Kami juga meminta 62 yayasan di bawah koordinasi YBS untuk melakukan hal serupa,” ujarnya kepada Pontianak Post, Kamis (7/1) kemarin.

Dia menekankan jangan timbul isu-isu terkait diskriminasu di masyararakat terkait larangan ini. Pasalnya apa yang dijalankan Gubernur adalah untuk kebaikan bersama. Selain itu selama tahun lalu, segala agenda keagamaan, budaya, dan pariwisata serta sektor lain yang menimbulkan kerumunan juga dilarang. “Terakhir Natal dan Tahun Baru kemarin juga dilarang adanya kerumunan. Ini demi kebaikan bersama. Apalagi pandemi ini masalah dunia, kita harus kompak. Di Kalbar sendiri setiap hari angkanya bertambah,” sebutnya.

Lo Cun Hong juga meminta warga Tionghoa untuk menjalankan Imlek dan CGM tahun ini dengan sederhana bersama keluarga dan selalu menerapkan disiplin protokol kesehatan. Selain itu, wargaTionghoa diimbau untuk berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing untuk memohon kepada Tuhan agar pandemi segera usai.

Berkaitan dengan ritual keagamaan untuk Imlek, dia juga menyebut prosesnya akan aman. “Misalnya di klenteng, akan dibuka sepanjang hari, sehingga masyarakat bisa datang bergiliran dan tidak menumpuk di satu waktu tertentu. Begitu juga di rumah ibadah lain seperti gereja juga dibatasi jumlah umat yang hadir. Protokol kesehatan juga dijaga dengan ketat,” papar dia.

Hotel Sudah Ramai Dibooking

Sementara itu Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata (Asita) Kalbar, Nugroho Henray Ekasaputra menyebut larangan terkait festival CGM membuat banyak pemesanan travel dan hotel batal. Menurutnya para agen travel di Kalbar sudah banyak mendapatkan tamu untuk datang pada momen CGM di Singkawang. “Jumlahnya mungkin ada ratusan wisatawan dan sudah booking hotel juga di Singkawang. Itu hanya yang lewat anggota Asita. Banyak juga wisatawan yang beli tiket sendiri, tidak lewat paket wisata Asita,” katanya.

Menurutnya larangan festival CGM membuat banyak pihak merugi, terutama dari wisatawan, industri penerbangan, agen travel, perhotelan, rumah makan hingga UMKM di lokasi destinasi. Apalagi festival Cap Go Meh di Singkawang adalah event parisiwisata terbesar di Kalbar yang mampu mendatangkan turis dalam jumlah sangat besar. “Kalau mau dibilang rugi ya sangat rugi kita. Apalagi sepanjang tahun lalu pariwisata kita babak belur,” ungkapnya.

Namun dia memaklumi langkah yang dijalankan pemerintah. Pihaknya siap menaati apa yang diatur tersebut. “Kami tidak menyalahkan Gubernur dan pemerintah. Tetapi keadaan pandemi ini yang membuat semuanya berantakkan. Mau bagaimana lagi. Mudah-mudahan pandemi segera berakhir dan kita bisa hidup seperti sediakala,” sambung dia.

Dia juga menyoalkan wajibnya tes PCR bagi penumpang yang hendak ke Pontianak. Menurutnya aturan tersebut sangat memberatkan penumpang dan berdampak pada dunia pariwisata dan sektor bisnis lainnya. Hendaknya, kata dia, pemerintah bisa mensubsidi seluruh atau sebagian biaya tes tersebut. “Harga untuk tes PCR itu bisa hampir satu juta rupiah. Sedangkan harga tiket Jakarta-Pontianak Rp300-500 ribu saja saat ini. Artinya harga PCR itu dua sampai tiga kali lipat harga tiket pesawat. Kalau bisa disubsidi lebih baik. Karena tidak semua penumpang itu orang yang kaya,” saran dia.

Sementara itu Anggota DPRD Kota Pontianak Zulfydar Zaidar Mochtar menyebut peraturan Gubernur Sutarmidji terkait larangan keramaian CGM bisa dimaklumi. “CGM adalah momen budaya dan wisata yang besar. Tidak hanya di Singkawang, Pontianak juga terimbas dengan banyaknya wisatawan yang datang dimana hotel dan transportasi penuh. Tetapi memang kondisinya seperti ini. Pandemi masih terjadi dan hendaknya jangan ada kerumunan,” jelasnya.

Dia menyebut, seluruh agenda keagamaan dan kebudayaan sudah terkena imbasnya pada tahun lalu. “Perayaan Idulfitri, Natal dan Tahun Baru serta acara kebudayaan lain juga sudah dibatasi pada tahun lalu. Dan itu pasti  membuat kita semua prihatin. Tetapi kita harus kompak dan menaati pemerintah dalam rangka menghentikan penyebaran virus Corona ini,” ungkap dia.

Pihaknya berharap vaksinasi bisa menjadi solusi untuk menghentikan pandemi yang melululantakkan perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat ini. “Pemerintah harus bisa memastikan bahwa vaksinasi yang akan dijalankan nanti itu aman baik secara klinis maupun lainnya. Edukasi dan Komunikasi dengan masyarakat harus dijaga terkait vaksin ini,” pungkas dia. (ars)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!