Zakat Fitrah di Era Covid

opini pontianak post

TANYA JAWAB SEPUTAR ZAKAT
Bersama
Rasiam, MA
Dosen Ekonomi Syariah IAIN Pontianak
Kontak konsultasi: email: rasiamdwi@gmail.com

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Pak Ustaz, pengin bertanya, sekarang kan banyak yang penghasilannya tidak ada karena kondisi wabah atau Covid-19. Bahkan beli beras pun susah. Apakah kewajiban membayar fitrah itu gugur atau tidak. Dari Ibu Dini, Jeruju? Terima kasih.

Jawaban:
Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.
Terima kasih atas pertanyaan Ibu Dini. Semoga jawaban ini bisa memuaskan. Semoga kita senantiasa meraih berkah dan rida Allah SWT.
Senantiasa berdoa kepada Allah SWT, semoga kita terhindar dari berbagai macam cobaan hidup, kekurangan pangan, penyakit-penyakit, wabah serta perbuatan keji dan mungkar baik zahir maupun batin yang sedang melanda negeri ini. Aamiin.
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang berada di urutan ke tiga. Kewajibannya pun diperintahkan oleh Allah SWT yang tertuang pada QS: at-Taubah ayat 103 yang artinya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka…”.
Kewajiban ini bersifat mengikat bagi umat Islam yang mampu menunaikannya baik itu dewasa, anak kecil, laki-laki dan perempuan, seperti yang disabdakan oleh baginda Rasulullah Saw yang artinya, “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum atas budak dan orang yang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari golongan umat muslim” (HR. Bukhari).
Dari ayat dan hadits di atas jelas bahwa zakat fitrah merupakan perbuatan wajib bagi umat Islam. Lantas bagaimana dengan kondisi orang yang sedang fakir atau miskin, terlebih kondisi corona sekarang di mana semua pekerjaan disetop sehingga penghasilan tidak ada?
Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitab Fath al-Wahhab bi Syarh al-Manhaj at-Thullab mengatakan, “Tidak wajib zakat fitrah bagi orang yang tidak mampu, yakni orang yang tidak memiliki harta yang lebih untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok dirinya dan keluarganya pada saat malam hari raya Idulfitri, dan tidak memiliki pakaian dan rumah yang layak, serta melunasi utang yang ia miliki. Berbeda ketika orang tersebut memiliki harta yang lebih untuk zakat fitrah setelah tercukupinya kebutuhan di atas. Maka wajib baginya zakat fitrah”.
Pendapat di atas telah memberikan gambaran kepada kita apakah kita termasuk kategori di atas. Kita mesti jujur pada diri kita sendiri, karena zakat fitrah merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dipatuhi. Kita mesti hitung betul kebutuhan pokok kita atau kebutuhan primer. Jangan dicampuraduk antara kebutuhan pokok (primer) dengan kebutuhan sekunder atau bahkan tersier.
Jika kita masih mampu mengadakan kebutuhan di atas kebutuhan pokok, seperti sekunder (penunjang) maka sudah pasti kita masih terkena wajib zakat fitrah. Jangan sampai membeli rokok mampu akan tetapi berzakat tidak mampu. Nah, ini terkadang penyakit yang ada pada diri kita. Untuk itu yang ditekankan di atas adalah kebutuhan pokok keluarga seperti makanan (beras).
Kemudian, ukuran kedua adalah di malam hari raya Idulfitri. Jika sampai malam hari raya pun anda tidak mempunyai kebutuhan pokok, boleh tidak zakat. Akan tetapi jika di malam hari raya ibu sudah mempunyai makanan pokok yang lebih, maka wajib mengeluarkan zakat fitrah.
Zakat fitrah tidak berat bagi orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri pada Allah SWT. Semoga dengan segala macam ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk mengeluarkan zakat fitrah, kita termasuk golongan orang-orang muttaqin, karena sesungguhnya masih banyak yang lebih layak dari kita untuk mendapatkan zakat fitrah.
Waalahua’lam bisshawab

loading...