Zakat Goes To Campus: Peran Milenial Sebagai Penggerak Zakat

FOTO; DALIL HARAHAP/BATAM POS/Jawa Pos Group

Oleh: Syaiful Rizan*

Zakat dalam perspektif Islam adalah diproyeksikan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Langkahnya yaitu dengan cara mengumpulkan sebagian harta orang kaya (muzakki) dan memberikannya kembali kepada orang-orang fakir dan miskin (mustahik). Sehingga dengan zakat tersebut terciptalah masyarakat yang sejahtera dan berdaya.

Berdasarkan penelitian baru-baru ini dari Indikator Pemetaan Potensi Zakat (IPPZ) Pusat Kajian Strategis (Puskas) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), menghasilkan potensi zakat nasional sebesar Rp. 233,8 triliun.

IPPZ merupakan alat ukur perhitungan potensi zakat suatu wilayah yang mencakup seluruh potensi objek zakat. IPPZ terdiri dari 7 (tujuh) komponen utama, yaitu diantaranya potensi zakat pertanian, zakat peternakan, zakat uang, zakat penghasilan, dan zakat perusahaan.

Potensi zakat terbesar terdapat pada dimensi zakat penghasilan yang mencapai Rp. 139,07 triliun atau 59,5 persen dari total potensi zakat nasional. Potensi zakat terbesar selanjutnya adalah dimensi zakat uang sebesar Rp. 58,76 triliun (25,1 persen), dimensi zakat pertanian sebesar Rp. 118 19,79 triliun (8,5 persen), dimensi zakat peternakan Rp. 9.51 triliun (4,1 persen) dan dimensi zakat perusahaan sebesar Rp. 6,71 (2,9 persen).

Sedangkan berdasarkan provinsi, DKI Jakarta dan Jawa Timur merupakan dua provinsi di Indonesia yang memiliki potensi zakat tertinggi di Indonesia yaitu masing-masing sebesar Rp 58,3 triliun (3,57 persen dari PDRB) dan Rp 35,1 triliun (2,42 persen dari PDRB).

Faktor yang menyebabkan tingginya potensi zakat karena provinsi tersebut merupakan wilayah dengan tingkat perekonomian yang cukup baik dan jumlah penduduk terbesar yang mayoritas memeluk agama Islam.

Sedangkan provinsi dengan nilai IPPZ terendah adalah Nusa Tenggara Timur sebesar Rp 374,2 miliar (0,6 persen dari PDRB), disusul Papua Barat, Maluku Utara dan Maluku dikisaran Rp 370 miliar – Rp 445 miliar.

Hal ini disebabkan oleh tingkat perekonomian wilayah tersebut yang masih rendah serta jumlah penduduk muslim yang minoritas.

Bagaimana dengan Provinsi Kalimantan Barat?. Potensi zakat di Kalimantan Barat menurut IPPZ, tercatat mempunyai potensi zakat sebesar Rp. 2.104,7 triliun (1,69% dari PDRB).

Potensi Zakat yang sangat besar untuk membantu pemerintah daerah dalam program pengentasan dan mengurangi angka kemiskinan di Kalimantan Barat.

Akan tetapi kenyataan saat ini (data per 1 Oktober 2019) angka pengumpulan Zakat, Infaq dan Shadaqah di Kalbar baru terkumpul sebesar Rp. 20.724.800.759,- (20,7 Milyar). Masih sangat jauh dari potensi yang ada.

Potensi zakat sebesar itu memerlukan kerja keras bersama, bersinergi antar pemangku kepentingan. Baik dari Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) itu sendiri seperti BAZNAS dan LAZ maupun eksternal LPZ seperti Pemerintah Daerah, Kementerian Agama, MUI, Akademisi, dan pihak-pihak terkait.

Terwujudnya pengelolaan zakat yang baik adalah tanggung jawab pemerintah. Pemerintah harus menugaskan amil zakat yang meliputi pengumpulan, pengorganisasian, dan pendayagunaannya. Dalam hal ini amil zakat harus mampu bekerja keras, profesional dan bertanggung jawab. Sehingga para amil mampu melaksanakan fungsi kelembagaan.

Keberadaan organisasi pengelola zakat (BAZNAS dan LAZ) di Indonesia sebagai penghimpun dan penyalur dana zakat perlu didorong untuk semakin meningkat dan terus memperbaiki sistem maupun manajemen pengelolaannya. Upaya-upaya inovasi untuk mengumpulkan dana ZIS dan penyalurannya perlu juga diberi ruang apresiasi dan dukungan agar semakin tercipta terobosan baru yang penuh kreativitas.

Sebagaimana disebutkan di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna, zakat harus dikelola secara melembaga sesuai dengan syariat Islam, amanah, kemanfaatan, keadilan, kepastian hukum, terintegrasi, dan akuntabilitas sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat.

Maka untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya gerakan-gerakan zakat di Indonesia secara keseluruhan termasuk pada dunia kampus. Peran mahasiswa sebagai agent of change terhadap peradaban zakat diharapkan memiliki pemahaman yang baik terhadap zakat dan tentunya dapat menjadikanya potensi seorang muzakki (pemberi zakat) dalam 5 (lima) hingga 10 (sepuluh) tahun mendatang.

Peran Milenial
Sebagai agent of change, kaum milenial mempunyai potensi yang sangat besar terhadap peradaban zakat. Sebagai referensi, jumlah milenial (usia berkisar antara 17-35 tahun) menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencapai 70-80 juta dari sekitar 193 juta pemilih di tahun 2019.

Jika dihitung potensi zakatnya, kita asumsikan saja sepersepuluh dari jumlah milenial tersebut yang beragama Islam dan mempunyai penghasilan melebihi nishab. Jika rata-rata penghasilan mencapai 4.2 juta per bulan, maka berjumlah Rp. 50.400.000,- setahun. Penghasilan ini sudah melebihi nishab dengan asumsi 590.000 x 85 gram emas = 50.150.000,-. Zakatnya dihitung 2,5% yakni sebesar 1.260.000,-. Jadi, potensi zakat yang terhimpun dari kaum milenial dalam satu tahun 1.260.000,- x 8.000.000,- muzaki milenial sejumlah Rp. 10.080.000.000.000,- (10 trilyun).

Potensi pengumpulan zakat dengan angka yang sangat besar. Namun pertanyaannya bagaimana caranya agar milenial bisa melek zakat dan memahami zakat ini sebagai life style dalam kehidupannya sehari-hari.

Salah satu program inovatif Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Tahun 2019 dalam hal ini Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kanwil Kementerian Agama Prov. Kalbar adalah “Zakat Goes To Campus”. Program ini bertujuan untuk mengedukasi para mahasiswa sebagai elite generasi terpelajar dan calon pemimpin bangsa dengan literasi zakat yang memadai.

Sebagai generasi penerus bangsa calon pemimpin, dapat berkesempatan untuk belajar, memiliki wawasan pengetahuan mengenai pengelolaan zakat. Kaum milenial membutuhkan literasi zakat dan kemudahan layanan. Mereka akrab sekali dengan teknologi. Gadget tidak hanya untuk berkomunikasi atau hiburan saja tetapi juga sebagai media update informasi.

Kaum milenial memiliki kreatifitas yang tinggi. Mereka mempunyai ruang berkarya yang sangat luas. Jika milenial kampus ini dapat memahami zakat dengan baik, maka secara tidak langsung dapat memberikan pemahaman secara luas kepada masyarakat muslim mengenai kewajiban dalam rukun Islam tersebut. Tentunya dapat meningkatkan awareness terhadap perintah zakat.

Semoga kegiatan Zakat Goes To Campus yang digagas oleh Kementerian Agama bekerjasama dengan pihak universitas dan mahasiswa sebagai milenial kampus yang terlaksana di seluruh Provinsi se Indonesia hari ini berdampak signifikan terhadap pemahaman zakat di kalangan milenial kampus dan dapat menjadikan mereka agen-agen atau relawan informasi terhadap masyarakat sehingga terciptanya gerakan zakat yang lebih optimal seperti yang diharapkan.**

* Penulis adalah Pelaksana Seksi Pemberdayaan Zakat Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat.

Read Previous

Lolos Ambang Batas SKD 2018 Bisa Langsung Ikut SKB 2019

Read Next

Nasib Kratom di Ujung Tanduk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *